KASBI Pilih Demo di DPR: Belum Saatnya Bermesraan dengan Pemerintah
Kamis, 01 Mei 2025 - 15:41 WIB
loading...
Massa buruh dari Konfederasi Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) memadati gerbang Gedung DPR pada peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day, Kamis (1/4/2025). FOTO/TANGGUH YUDHA
A
A
A
JAKARTA - Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia ( KASBI ) mengungkapkan alasannya memilih untuk memisahkan diri dari massa May Day di Monas, Jakarta. Menurutnya, saat ini merupakan momentum perlawanan, bukan justru bermesra-mesraan dengan pemerintah.
"Bagi kami kaum buruh, ini momentum perlawanan. Belum saatnya buruh bermesra-mesraan dengan pemerintah. Karena yang kita alami saat ini adalah kaum buruh itu situasinya sangat buruk," kata Ketua Umum KASBI, Sunarno, di gerbang Gedung DPR, Kamis (1/5/2025).
Sunarno menyebut kondisi buruh saat ini sangat memprihatinkan. Jam kerja panjang, upahnya murah, mudah di PHK, dan tidak memiliki jaminan kepastian kerja menjadi masalah utama yang mengancam kelangsungan hidup buruh di Indonesia.
"Kita tidak bisa melakukan aksi May Dau dengan hura-hura atau pesta-bora gitu. Kami masih melakukan aksi dengan cara turun ke jalan," katanya.
Ia menilai, aksi turun ke jalan merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan buruh dunia, khususnya mereka yang di abad ke-19 memperjuangkan hak-hak dasar seperti pengurangan jam kerja menjadi delapan jam per hari.
"Bagi kami kaum buruh, ini momentum perlawanan. Belum saatnya buruh bermesra-mesraan dengan pemerintah. Karena yang kita alami saat ini adalah kaum buruh itu situasinya sangat buruk," kata Ketua Umum KASBI, Sunarno, di gerbang Gedung DPR, Kamis (1/5/2025).
Sunarno menyebut kondisi buruh saat ini sangat memprihatinkan. Jam kerja panjang, upahnya murah, mudah di PHK, dan tidak memiliki jaminan kepastian kerja menjadi masalah utama yang mengancam kelangsungan hidup buruh di Indonesia.
"Kita tidak bisa melakukan aksi May Dau dengan hura-hura atau pesta-bora gitu. Kami masih melakukan aksi dengan cara turun ke jalan," katanya.
Ia menilai, aksi turun ke jalan merupakan bentuk penghormatan terhadap perjuangan buruh dunia, khususnya mereka yang di abad ke-19 memperjuangkan hak-hak dasar seperti pengurangan jam kerja menjadi delapan jam per hari.
Lihat Juga :