Satgas Sebut Virus Bukan Satu-satunya Penyebab Lonjakan Kasus Covid-19
Rabu, 06 Oktober 2021 - 07:03 WIB
loading...
Jubir Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan berbagai faktor penyebab lonjakan kasus Covid-19 atau yang disebut sebagai gelombang baru Covid-19. Foto/BNPB
A
A
A
JAKARTA - Juru Bicara Pemerintah untuk Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengungkapkan berbagai faktor penyebab lonjakan kasus Covid-19 atau yang disebut sebagai gelombang baru Covid-19 . Dia mengatakan bahwa lonjakan kasus tidak hanya disebabkan oleh adanya virus semata.
Melainkan ada faktor-faktor lainnya yang memicu naiknya kasus Covid-19. “Perlu dipahami bahwa virus itu sendiri tidak bisa dijadikan sebagai entitas tunggal penyebab persebaran penyakit. Kita perlu melihat faktor-faktor lain yang menstimulasi persebarannya, misalnya dinamika evolusinya, dan perilaku manusia yang mendukung peningkatan transmisinya yang cukup khas di tiap-tiap wilayah,” ujarnya dikutip dari Kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (6/10/2021). Baca juga: Vaksinasi Hepatitis B di Masa Pandemi, Dokter RS Siloam: Diberikan Sebulan Usai Vaksin Lengkap COVID-19
Wiku mengungkapkan pada gelombang pertama lonjakan kasus Covid-19 yang hampir terjadi di seluruh negara terjadi akibat masih rendahnya pengetahuan terkait penyakit ini. Termasuk para ahli dan ilmuwan di bidang penyakit menular.
“Penyebaran Covid-19 dari Wuhan ke negara-negara lain terjadi akibat mobilitas yang besar antar negara saat itu sehingga menyebabkan pandemi. Meningkatnya jumlah kasus-kasusnya, khususnya kasus perawatan di rumah sakit disebabkan oleh belum ditemukannya obat-obat atau vaksinasi yang mendukung upaya kuratif saat itu,” jelasnya.
Sementara pada gelombang kedua Covid-19, Wiku menyebut penyebabnya adalah karena adanya varian baru. Di antaranya varian Alfa, Beta, Gamma, dan Delta di beberapa negara seperti Inggris, Afrika Selatan, serta India.
“(Ini) menyebabkan kemunculan gelombang kedua. VOC atau variant of concern yang tidak disertai dengan penjagaan mobilitas antarnegara, menyebabkan gelombang ikutan ke negara-negara tetangga. Bahkan negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia,” paparnya.
Wiku menyebut berdasarkan studi dari Rusia tahun 2021 mengenai analisis regresi data Covid-19 dari 35 negara di dunia menyatakan bahwa mayoritas penyebaran varian baru di beberapa negara tersebut terjadi akibat pergerakan domestik. Hal ini yang memperparah penyebaran varian impor.
“Sedangkan di Spanyol, Jepang, dan Korea Selatan peningkatan signifikan terjadi akibat penularan di komunitas atau klaster sehingga penderita Covid-19 umumnya berasal dari kelompok yang sama, contohnya ibu hamil dan anak-anak untuk di Spanyol dan kasus di perkantoran untuk di Jepang,” tuturnya.
Sementara itu terkait gelombang ke-3 yang saat ini terjadi di Kentucky Amerika Serikat disebabkan oleh distribusi varian baru yaitu varian RI dan MU Columbia. Selain itu, pembukaan sektor sosial ekonomi yang tidak disertai kepatuhan protokol kesehatan yang tinggi menyebabkan lonjakan kasus di Singapura, beberapa negara di Eropa, dan Afrika.
Wiku pun mengingatkan agar masyarakat Indonesia tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Hal ini untuk mencegah terjadinya gelombang kasus Covid-19 baru di Tanah Air. Baca juga: Kekuatan Militer Indonesia di Mata Dunia: Jumlah Personel hingga Alutsista yang Dimiliki
“Walaupun saat ini Indonesia telah mulai melakukan kegiatan produktif secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, namun masyarakat harus tetap berhati-hati dalam beraktivitas. Jangan serta-merta melupakan pentingnya proteksi protokol kesehatan, baik memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Kepatuhan ini merupakan kunci mencegah timbulnya gelombang baru,” paparnya.
Melainkan ada faktor-faktor lainnya yang memicu naiknya kasus Covid-19. “Perlu dipahami bahwa virus itu sendiri tidak bisa dijadikan sebagai entitas tunggal penyebab persebaran penyakit. Kita perlu melihat faktor-faktor lain yang menstimulasi persebarannya, misalnya dinamika evolusinya, dan perilaku manusia yang mendukung peningkatan transmisinya yang cukup khas di tiap-tiap wilayah,” ujarnya dikutip dari Kanal YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (6/10/2021). Baca juga: Vaksinasi Hepatitis B di Masa Pandemi, Dokter RS Siloam: Diberikan Sebulan Usai Vaksin Lengkap COVID-19
Wiku mengungkapkan pada gelombang pertama lonjakan kasus Covid-19 yang hampir terjadi di seluruh negara terjadi akibat masih rendahnya pengetahuan terkait penyakit ini. Termasuk para ahli dan ilmuwan di bidang penyakit menular.
“Penyebaran Covid-19 dari Wuhan ke negara-negara lain terjadi akibat mobilitas yang besar antar negara saat itu sehingga menyebabkan pandemi. Meningkatnya jumlah kasus-kasusnya, khususnya kasus perawatan di rumah sakit disebabkan oleh belum ditemukannya obat-obat atau vaksinasi yang mendukung upaya kuratif saat itu,” jelasnya.
Sementara pada gelombang kedua Covid-19, Wiku menyebut penyebabnya adalah karena adanya varian baru. Di antaranya varian Alfa, Beta, Gamma, dan Delta di beberapa negara seperti Inggris, Afrika Selatan, serta India.
“(Ini) menyebabkan kemunculan gelombang kedua. VOC atau variant of concern yang tidak disertai dengan penjagaan mobilitas antarnegara, menyebabkan gelombang ikutan ke negara-negara tetangga. Bahkan negara di Asia Tenggara seperti Thailand dan Indonesia,” paparnya.
Wiku menyebut berdasarkan studi dari Rusia tahun 2021 mengenai analisis regresi data Covid-19 dari 35 negara di dunia menyatakan bahwa mayoritas penyebaran varian baru di beberapa negara tersebut terjadi akibat pergerakan domestik. Hal ini yang memperparah penyebaran varian impor.
“Sedangkan di Spanyol, Jepang, dan Korea Selatan peningkatan signifikan terjadi akibat penularan di komunitas atau klaster sehingga penderita Covid-19 umumnya berasal dari kelompok yang sama, contohnya ibu hamil dan anak-anak untuk di Spanyol dan kasus di perkantoran untuk di Jepang,” tuturnya.
Sementara itu terkait gelombang ke-3 yang saat ini terjadi di Kentucky Amerika Serikat disebabkan oleh distribusi varian baru yaitu varian RI dan MU Columbia. Selain itu, pembukaan sektor sosial ekonomi yang tidak disertai kepatuhan protokol kesehatan yang tinggi menyebabkan lonjakan kasus di Singapura, beberapa negara di Eropa, dan Afrika.
Wiku pun mengingatkan agar masyarakat Indonesia tetap patuh terhadap protokol kesehatan. Hal ini untuk mencegah terjadinya gelombang kasus Covid-19 baru di Tanah Air. Baca juga: Kekuatan Militer Indonesia di Mata Dunia: Jumlah Personel hingga Alutsista yang Dimiliki
“Walaupun saat ini Indonesia telah mulai melakukan kegiatan produktif secara bertahap, bertingkat dan berlanjut, namun masyarakat harus tetap berhati-hati dalam beraktivitas. Jangan serta-merta melupakan pentingnya proteksi protokol kesehatan, baik memakai masker, menjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Kepatuhan ini merupakan kunci mencegah timbulnya gelombang baru,” paparnya.
(kri)
Lihat Juga :