Usman Hamid: Nasionalisme Berlebihan Menguat, Gerus Demokratisasi Habibie dan Gus Dur

Jum'at, 01 Oktober 2021 - 17:32 WIB
loading...
Usman Hamid: Nasionalisme...
Usman Hamid menilai situasi yang berkembang di Indonesia saat ini berasal rasa nasionalisme yang berlebihan. Foto/tangkapan layar
A A A
JAKARTA - Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia Usman Hamid menilai situasi yang berkembang di Indonesia saat ini berasal rasa nasionalisme yang berlebihan. Hal ini sebenarnya justru berdampak negatif bagi perkembangan demokrasi di Indonesia.Hal itu disampaikan Usman dalam Survei Opini Publik Nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) bertema Sikap Publik pada Pancasila dan Ancaman Komunis.

Menurut Usman, banyak pemahaman demokratisasi yang tergerus. Padahal pemahaman tersebut pernah berkembang di masa Presiden BJ Habibie dan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Ketika itu hak asasi manusia (HAM) setidaknya diorientasikan ke sistem politik. Tetapi, kata Usman, sekarang hal itu hilang.

"HAM, kebebasan, demokrasi, banyak nilai-nilai liberal yang ingin setidak-tidaknya diorientasikan sistem politik ketika itu sekarang hilang atau tergerus oleh bangkitnya nasionalisme itu," kata Usman dikutip kanal YouTube SMRC TV, Jumat (1/10/2021).

Baca juga: Memahami Pemikiran Proklamator Bangsa untuk Memperkokoh Nasionalisme

Usman mengatakan, menjadi pesaing nasionalisme bukan hanya dari kanan Islamis, tapi juga dari kanan liberal atau bahkan sosialisme itu sendiri. Tetapi dia mengaku belum mengetahui pemikiran-pemikiran masyarakat tersebut.

"Saya penasaran dengan persepsi masyarakat yang demikian. Mungkin perlu ada atau mungkin saya yang belum baca kalau ada yang misalnya mendalami apa sebenarnya pemikiran-pemikiran yang ada di balik jawaban-jawaban para responden itu terkait terhadap survei ini," ujar Usman.

"Apakah mereka mendasarkan itu kepada pengalaman subjektif mereka atau pengalaman-pengalaman sosialnya terkait ketegangan subkultur. Misalnya antara yang nasionalis, yang muslim islamis atau katakanlah sosialis yang kiri, yang komunis. Sampai saat ini belum ada yang bisa menjelaskan sangat lengkap," ujar dia.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Islam: Agama yang Paling...
Islam: Agama yang Paling Disalahpahami
Chatib Basri di Ajang...
Chatib Basri di Ajang Perang Ideologi Ekonomi
Menata Demokrasi Produktif...
Menata Demokrasi Produktif untuk Kesejahteraan Lintas Generasi
Pidato Ekonomi Presiden:...
Pidato Ekonomi Presiden: Antara Optimisme dan Realitas Pertumbuhan
28 Tahun Reformasi 1998:...
28 Tahun Reformasi 1998: Demokrasi Tumbuh, Oligarki Menguat, Keadilan Sosial Masih Diperebutkan
Kebangkitan Nasional...
Kebangkitan Nasional dengan Meningkatkan Kohesi Sosial
Amnesty International...
Amnesty International Desak TNI Tak Dilibatkan Jaga Demo Mahasiswa Hari Ini
Khotbah Iduladha di...
Khotbah Iduladha di Lapangan Masjid Agung Al Azhar, Din Syamsuddin Tekankan Pentingnya Persatuan Umat Islam
Tinta Karbon dan Kulit...
Tinta Karbon dan Kulit Hewan Mewarnai Keunikan Al-Quran Berusia 1.000 Tahun
Rekomendasi
Kebut Program Motor...
Kebut Program Motor dan Kompor Listrik Tahun Depan, Bahlil Anggarkan Rp1,45 Triliun
Atletik Indonesia Bersinar...
Atletik Indonesia Bersinar di Filipina, Emilia Nova Sumbang Emas dan 2 Perak untuk Merah Putih
Belgia vs Mesir Imbang...
Belgia vs Mesir Imbang 1-1 di Piala Dunia 2026, Mo Salah Moncer
Berita Terkini
Akui Program Pemerintah...
Akui Program Pemerintah Banyak Kekurangan, Wapres Gibran: Kita Perbaiki Bersama
Megawati Tegaskan Prabowo...
Megawati Tegaskan Prabowo Bukan Musuh: Itu Teman Saya
BGN Evaluasi Insentif...
BGN Evaluasi Insentif SPPG Rp6 Juta per Hari
Istana Wapres Sebut...
Istana Wapres Sebut Tidak Ada Kesepakatan soal Tenggat Waktu Realisasikan Tuntutan Mahasiswa
Prabowo Terima Telepon...
Prabowo Terima Telepon Mahmoud Abbas, Tegaskan Indonesia Berdiri Bersama Palestina
BGN Pastikan Anggaran...
BGN Pastikan Anggaran MBG Dikurangi, Ini Alasannya
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved