Teror Diskusi di UGM, Harus Ada Bukti untuk Ditindaklanjuti

Minggu, 31 Mei 2020 - 14:40 WIB
loading...
Teror Diskusi di UGM,...
Teror dan intimidasi ke penyelenggara serta narasumber diskusi Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan, dipersoalkan. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Teror berbentuk ancaman dan intimidasi terhadap pihak penyelenggara serta narasumber diskusi bertajuk 'Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan' masih menyulut persoalan.

(Baca juga: Soal New Normal, Pemerintah Diminta Belajar dari Korea Selatan)

Imbas aksi itu, diskusi dari Constitutional Law Society (CLS) Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) yang rencananya digelar Jumat (29/5/2020) itu, terpaksa dibatalkan.

(Baca juga: Naik Lagi, 508 WNI di Luar Negeri Sembuh dari Covid-19)

Pengamat politik Karyono Wibowo menilai, persoalan itu perlu diurai secara gamblang dan objektif. Jika memang ada teror dan intimidasi, menurutnya, perlu alat bukti yang cukup.

"Jika memang terbukti memenuhi unsur pelanggaran maka menjadi tanggung jawab pihak yang berwajib untuk menindaklanjuti apabila pihak yang diintimidasi melaporkan ke pihak berwajib," cetus Karyono kepada SINDOnews, Minggu (31/5/2020).

Sebaliknya, Direktur Indonesian Public Intitute (IPI) itu menilai, jika isu tersebut hanya propaganda untuk mencari simpati masyarakat, maka tindakan tersebut sangat tidak bermoral dan menciderai demokrasi. Bahkan, ikut menodai kalangan intelektual kampus sebagai kawah candradimuka untuk mencetak para calon pemimpin bangsa.

Menurut dia, menyelenggarakan diskusi dengan tema yang provokatif tentu mengundang reaksi negatif. Apalagi dilakukan di tengah situasi pandemi saat Indonesia sedang menghadapi serangan virus corona yang telah menimbulkan banyak korban.

"Maka wajar, jika publik memiliki persepsi negatif terhadap kegiatan tersebut. Bahkan tidak berlebihan jika dikatakan mereka sedang menari di atas penderitaan orang lain," celetuknya.

Bukan tanpa alasan, Karyono memandang di saat kesedihan dan penderitaan rakyat, justru Komunitas yang mengatasnamakan CLS FH UGM menyelenggarakan acara diskusi bertajuk "Persoalan Pemecatan Presiden di Tengah Pandemi Ditinjau dari Sistem Ketatanegaraan". Menurut dia, tema diskusi tersebut memang sangat sensitif.

"Wajar jika membuat sejumlah pihak geram. Menurut saya, perdebatannya bukan lagi persoalan demokratis atau tidak, akademis atau tidak tetapi sudah bergeser ke persoalan etika dan moral karena tema dan momentum pelaksanaan diskusi tersebut dilakukan di tengah situasi keprihatinan," imbuh dia.

Oleh karena itu, kegiatan diskusi tersebut diduga ada unsur memanfaatkan situasi pandemi untuk tujuan politik kekuasaan. Minimal targetnya adalah propaganda umtuk mendelegitimasi pemerintahan dan menciptakan kegaduhan di tengah masyarakat.

Kendati begitu, karena kegiatan itu dilakukan di saat bangsa mengalami musibah, sedang bahu membahu memutus rantai penyebaran Covid-19 dan menguras pikiran untuk mengatasi dampak pandemi, maka tindakan tersebut mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya semua pihak bersikap prososial.

Sepanjang pengamatannya, protes terhadap pelaksanaan diskusi yang dikaitkan dengan isu demokrasi sejak reformasi hingga sekarang tidak ada larangan melaksanakan diskusi. Pelbagai kegiatan diskusi telah berjalan cukup terbuka dan cenderung bebas, relatif tidak ada persoalan. Bahkan, ribuan diskusi daring dan webinar yang digelar di masa pandemi telah berjalan lancar dan aman.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Roy Suryo Tampilkan...
Roy Suryo Tampilkan Ijazah UGM Istrinya: Tak Ada Tulisan Gadhaj Adam
Soal Tanda Gadhaj Adam,...
Soal Tanda Gadhaj Adam, Andi Azwan Sebut bukan Hanya Ada di Ijazah Jokowi
Lewat Forum IQRO, PKS...
Lewat Forum IQRO, PKS Perkuat Peran Solutif Hadapi Krisis Energi
Sudirman Said Ungkap...
Sudirman Said Ungkap Tiga Faktor yang Mengancam Keamanan Energi
JK Undang Tokoh Perundingan...
JK Undang Tokoh Perundingan Malino I dan II demi Perbaiki Situasi usai Ceramah di UGM
Pernyataan Saiful Mujani...
Pernyataan Saiful Mujani dan Kasus Andrie Yunus Jadi Bahan Diskusi HMPN
Tiga Lulusan Kedokteran...
Tiga Lulusan Kedokteran UGM Lulus dengan IPK 4,00, Simak Perjuangan dan Cita-citanya
Gerakan Musyawarah Revitalisasi...
Gerakan Musyawarah Revitalisasi Pangan Lokal Digagas di Cinere
Daftar Ulang UGM Jalur...
Daftar Ulang UGM Jalur SNBT 2026 Dibuka, Ini Dokumen yang Wajib Disiapkan
Rekomendasi
Pesona China yang Berbeda:...
Pesona China yang Berbeda: Eksplor Keunikan Infrastruktur Chongqing dan Alam Zhangjiajie
Perumda Dharma Jaya...
Perumda Dharma Jaya Edukasi Ketahanan Pangan ke Siswa SMPN 51 Jakarta
Tak Hanya Ganggu Mental,...
Tak Hanya Ganggu Mental, Sering Marah-marah Bisa Melemahkan Daya Tahan Tubuh
Berita Terkini
Tepis Isu Menguntungkan...
Tepis Isu Menguntungkan Kapolri, Pakar: UU Polri Baru Berpihak pada Kepentingan Publik
Refly Harun Pertanyakan...
Refly Harun Pertanyakan Nasib Kasus Roy Suryo Cs: Sudah 30 Kali Wajib Lapor, Kasus Belum Jelas
Terungkap! Andri Mulyono...
Terungkap! Andri Mulyono Kongkalikong dengan PPK untuk Dapat Proyek Pengadaan Motor Listrik BGN
Kejagung Tetapkan Penyedia...
Kejagung Tetapkan Penyedia Motor Listrik MBG Andri Mulyono Jadi Tersangka
Stafsus Menag: Kunjungan...
Stafsus Menag: Kunjungan Presiden Jerman ke Istiqlal Perkuat Diplomasi Agama RI-Jerman
KPK Rincikan Penyitaan...
KPK Rincikan Penyitaan Uang dari Geledah Rumah Silmy Karim
Infografis
Skuad Timnas Spanyol...
Skuad Timnas Spanyol di Piala Dunia 2026, Tak Ada Pemain Real Madrid
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved