Kisah Hidup Tan Malaka, Guru yang Kepincut Jalan Revolusi
Rabu, 08 September 2021 - 07:55 WIB
loading...
A
A
A
Pendukung Tan Malaka yang kecewa pada pemerintahan Sjahrir, bergabung membentuk kelompok Persatuan Perjuangan pada 4 Januari 1946. Kelompok ini kemudian mengadakan kongres pertama yang dihadiri 132 organisasi sipil, partai, laskar, dan ketentaraan di Gedung Serba Guna Purwokerto. Pembicara utamanya, Tan Malaka dan Jenderal Soedirman.
Dari situ kemudian lahirlah ide kudeta. Kelompok oposisi kemudian melakukan kudeta terhadap pemerintahan Sjahrir karena dianggap gagal mewujudkan pengakuan kedaulatan Indonesia 100 persen.
Upaya kudeta gagal. Pada 23 Maret 1946, Tan Malaka, Soebardjo, dan Soekarni dijebloskan ke penjara selama 2 tahun.
Setelah Tan dibebaskan dari penjara Magelang, ia mencoba mengumpulkan pendukung dan menggagas partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) pada 7 November 1948. Sukarni didaulat menjadi ketua partai yang memiliki landasan antifasisme, antiimperialisme, dan antikapitalisme.
Tan sendiri berangkat ke Kediri, memulai pergerakan gerilya. Ia menemui prajurit TNI dan pimpinan politik. Aktivitas itu dinilai membahayakan, sehingga pemerintah Indonesia mencari dan mengejarnya.
Tan Malakan melarikan diri ke selatan Jawa Timur. Saat menyusuri Gunung Wilis di Selopanggung, Kediri, ia ditangkap Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek. Dia dimakamkan di Selopanggung, Kediri.
Meski Soekarno mengangkatnya menjadi pahlawan nasional pada 28 Maret 1963, saat Orde Baru muncul, Tan Malaka seperti sengaja dihilangkan dari sejarah. Namanya dicoret dari daftar nama pahlawan nasional. Bahkan tidak pernah dibahas dalam buku pelajaran sekolah.
Sumber* Diolah dari berbagai sumber
Dari situ kemudian lahirlah ide kudeta. Kelompok oposisi kemudian melakukan kudeta terhadap pemerintahan Sjahrir karena dianggap gagal mewujudkan pengakuan kedaulatan Indonesia 100 persen.
Upaya kudeta gagal. Pada 23 Maret 1946, Tan Malaka, Soebardjo, dan Soekarni dijebloskan ke penjara selama 2 tahun.
Setelah Tan dibebaskan dari penjara Magelang, ia mencoba mengumpulkan pendukung dan menggagas partai Musyawarah Rakyat Banyak (Murba) pada 7 November 1948. Sukarni didaulat menjadi ketua partai yang memiliki landasan antifasisme, antiimperialisme, dan antikapitalisme.
Tan sendiri berangkat ke Kediri, memulai pergerakan gerilya. Ia menemui prajurit TNI dan pimpinan politik. Aktivitas itu dinilai membahayakan, sehingga pemerintah Indonesia mencari dan mengejarnya.
Tan Malakan melarikan diri ke selatan Jawa Timur. Saat menyusuri Gunung Wilis di Selopanggung, Kediri, ia ditangkap Letnan Dua Sukoco dari Batalion Sikatan Divisi Brawijaya.Pada 21 Februari 1949, Tan Malaka dieksekusi mati oleh Suradi Tekebek. Dia dimakamkan di Selopanggung, Kediri.
Meski Soekarno mengangkatnya menjadi pahlawan nasional pada 28 Maret 1963, saat Orde Baru muncul, Tan Malaka seperti sengaja dihilangkan dari sejarah. Namanya dicoret dari daftar nama pahlawan nasional. Bahkan tidak pernah dibahas dalam buku pelajaran sekolah.
Sumber* Diolah dari berbagai sumber
(abd)
Lihat Juga :