Fahri Hamzah: Jika DPR Sepi, Kami Cemas Ada Persekongkolan
Jum'at, 03 September 2021 - 13:16 WIB
loading...
A
A
A
"Kita rakyat tidak harus bertengkar pasca pencoblosan. Politik seharusnya kembali normal setelah masa kampanye. Biar mereka, terutama yang menyebut diri partai oposisi yang bertengkar melawan eksekutif dan pendukungnya, bukan kita. Mereka enak berantem dapat duit, lah kita?," sindirnya.
Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjelaskan, sistem demokrasi bekerja, membagi fase-fase jadwal pemilu dan masa tenang, dan anggota Dewan yang telah dipercaya mewakili rakyat lewat pemilu, digaji untuk bekerja dalam sistem itu.
"Disuruh berantem ya kalian berantem dong. Pakai semua fasilitas yang telah kami berikan. Jangan malah ajak kami keroyokan. Mana kerja kalian? Kami rakyat sebenarnya pengen nonton saja sesekali, malam-malam atau pagi-pagi, sebuah panggung politik yang seru dan mencerdaskan, juga menyehatkan kehidupan dan perekonomian," ucapnya.
Tapi sayangnya, lanjut mantan Anggota Komisi III DPR itu, semua diam, menyebut diri oposisi tapi 'ngomel' tidak karuan. Akhirnya rakyat dipaksa ikut pertengkaran. Padahal dalam sejarah demokrasi, semakin seru panggung negara dan dinamika di antara cabang-cabang kekuasaan, rakyat hidupnya tambah senang.
"Lihat Taiwan, atau negara-negara tetangga yang mapan, Parlemen nya tawuran tapi rakyat makmur nggak ketulungan. Lah kita malah rakyat tawuran di pinggir jalan. Sudahlah, masa ginian aja enggak paham. Dan jangan sekali-kali nyalahin kami yang kasi jabatan dan gaji kalian. Kami kerja di luar sistem, jangan bilang kami ikutan, kami hanya rakyat penonton panggung kalian, tidak bisa apa-apa kecuali teriakan di pinggir gelanggang. Sekian!," tegas Fahri.
Politikus asal Nusa Tenggara Barat (NTB) ini menjelaskan, sistem demokrasi bekerja, membagi fase-fase jadwal pemilu dan masa tenang, dan anggota Dewan yang telah dipercaya mewakili rakyat lewat pemilu, digaji untuk bekerja dalam sistem itu.
"Disuruh berantem ya kalian berantem dong. Pakai semua fasilitas yang telah kami berikan. Jangan malah ajak kami keroyokan. Mana kerja kalian? Kami rakyat sebenarnya pengen nonton saja sesekali, malam-malam atau pagi-pagi, sebuah panggung politik yang seru dan mencerdaskan, juga menyehatkan kehidupan dan perekonomian," ucapnya.
Tapi sayangnya, lanjut mantan Anggota Komisi III DPR itu, semua diam, menyebut diri oposisi tapi 'ngomel' tidak karuan. Akhirnya rakyat dipaksa ikut pertengkaran. Padahal dalam sejarah demokrasi, semakin seru panggung negara dan dinamika di antara cabang-cabang kekuasaan, rakyat hidupnya tambah senang.
"Lihat Taiwan, atau negara-negara tetangga yang mapan, Parlemen nya tawuran tapi rakyat makmur nggak ketulungan. Lah kita malah rakyat tawuran di pinggir jalan. Sudahlah, masa ginian aja enggak paham. Dan jangan sekali-kali nyalahin kami yang kasi jabatan dan gaji kalian. Kami kerja di luar sistem, jangan bilang kami ikutan, kami hanya rakyat penonton panggung kalian, tidak bisa apa-apa kecuali teriakan di pinggir gelanggang. Sekian!," tegas Fahri.
(maf)
Lihat Juga :