Menyelamatkan Pendidikan dengan Hybrid Learning
Senin, 16 Agustus 2021 - 07:50 WIB
loading...
A
A
A
Nisa Felicia, peneliti Pusat Studi Pendidikan dan Kebijakan (PSPK), menilai banyak hal yang perlu disiapkan untuk menerapkan konsep hybrid learning. Pertama adalah kesiapan para guru. Menurutnya Kemendikbud Ristek harus menyiapkan berbagai contoh model penerapan hybrid learning baik dari sisi pengelolaan jam belajar, kurikulum maupun materi pembelajaran. Berbagai simulasi harus segera dilakukan sebelum praktik hybrid learning di lapangan. Menurutnya jangan sampai ada pengulangan materi saat belajar online di rumah dan saat belajar tatap muka di sekolah. “Kalau siswa bisa membaca buku di rumah atau belajar mandiri berarti di sekolah, siswa jangan suruh membaca buku di sekolah. Di sekolah mereka hanya 45 menit, jangan dihabiskan untuk mengerjakan soal, itu juga bisa dilakukan di rumah. Jadi di kelas ngapain? Ya justru saat di sekolah saat bertemu dengan guru secara langsung, gunakan waktu ini untuk berdiskusi, bertanya bagian materi yang tidak mengerti, membahas soal bersama, memecahkan suatu soal secara bersama. Apa yang dibutuhkan murid dari guru, guru bisa berikan,” papar Nisa kepada KORAN SINDO, Kamis (12/8).
Selain kesiapan guru dan materi pembelajaran, kata Nisa, Kemendikbud Ristek perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah. Dinas pendidikan di setiap wilayah harus siap membantu para guru untuk menyiapkan sistem pengajaran hybrid sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Dia mencontohkan kebutuhan DKI Jakarta tentu berbeda dengan kebutuhan di Nusa Tenggara Timur. “Untuk akses internet misalnya DKI Jakarta tentu tidak ada masalah, tetapi menjadi masalah besar di wilayah lain. Di sini tentu dinas pendidikan harus memastikan kebutuhan penunjang dari penyelenggara sekolah terpenuhi,” katanya.
Ke depannya yang harus dikuatkan adalah terus memotivasi guru untuk hybrid learning, bahkan ketika sudah tidak ada pandemi lagi. Karena pemebelajaran hybrid ini memadukan belajar tatap muka dan pembelajaraan dari rumah yang nyatanya dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar sesuai dengan gayanya. PSPK pernah melakukan diskusi dengan perwakilan anak SMA, mereka mengatakan salah satu keuntungan dari belajar jarak jauh atau belajar online ini mereka dapat belajar sesuai dengan gaya mereka. “Seperti beberapa anak tidak suka belajar terlalu pagi karena masih mengantuk, tapi kalau agak siang semangat belajar. Jadinya pagi mereka absen, namun bisa memulai mengerjakan tugas dan mendengar pelajaran mulai Jam 9. Ternyata jam-jam yang tidak terlalu pagi dan belum terlalu siang ini membuat mereka lebih bersemangat,” katanya.
Dia juga menilai tantangan yang dihadapi dalam pengajaran hybrid ini ialah kreativitas guru dalam merancang dua pembelajaran. Secanggih-canggihnya guru melakukan pengajaran jarak jauh, dia tetap harus belajar bagaimana memadukan pengajaran dari rumah. Kendala kedua, bahan pembelajaran online harus diperbanyak. Selain itu bahan-bahan tersebut juga dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membosankan. “Video 10 menit, tapi kemampuan anak untuk fokus terkadang tidak sampai 3 menit. Siswa juga tahu kapan dia sudah tidak fokus, dia bisa pause video dulu. Istirahat sebentar lalu mulai lagi,” katanya.
Kendala ketiga yang harus diantisipasi, kata Nisa, adalah kesiapan orang tua. Sebab konsep hybrid learning ini juga menuntut peran aktif orang tua untuk bisa mendampingi anak mereka saat pembelajaran online di rumah. “Peran orang tua cukup penting karena mereka dibutuhkan untuk mengingatkan anak-anak mereka tentang tugas sekolah mereka,” katanya. helmi syarif/ananda naraya
Selain kesiapan guru dan materi pembelajaran, kata Nisa, Kemendikbud Ristek perlu meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah. Dinas pendidikan di setiap wilayah harus siap membantu para guru untuk menyiapkan sistem pengajaran hybrid sesuai dengan kebutuhan daerah masing-masing. Dia mencontohkan kebutuhan DKI Jakarta tentu berbeda dengan kebutuhan di Nusa Tenggara Timur. “Untuk akses internet misalnya DKI Jakarta tentu tidak ada masalah, tetapi menjadi masalah besar di wilayah lain. Di sini tentu dinas pendidikan harus memastikan kebutuhan penunjang dari penyelenggara sekolah terpenuhi,” katanya.
Ke depannya yang harus dikuatkan adalah terus memotivasi guru untuk hybrid learning, bahkan ketika sudah tidak ada pandemi lagi. Karena pemebelajaran hybrid ini memadukan belajar tatap muka dan pembelajaraan dari rumah yang nyatanya dapat memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk belajar sesuai dengan gayanya. PSPK pernah melakukan diskusi dengan perwakilan anak SMA, mereka mengatakan salah satu keuntungan dari belajar jarak jauh atau belajar online ini mereka dapat belajar sesuai dengan gaya mereka. “Seperti beberapa anak tidak suka belajar terlalu pagi karena masih mengantuk, tapi kalau agak siang semangat belajar. Jadinya pagi mereka absen, namun bisa memulai mengerjakan tugas dan mendengar pelajaran mulai Jam 9. Ternyata jam-jam yang tidak terlalu pagi dan belum terlalu siang ini membuat mereka lebih bersemangat,” katanya.
Dia juga menilai tantangan yang dihadapi dalam pengajaran hybrid ini ialah kreativitas guru dalam merancang dua pembelajaran. Secanggih-canggihnya guru melakukan pengajaran jarak jauh, dia tetap harus belajar bagaimana memadukan pengajaran dari rumah. Kendala kedua, bahan pembelajaran online harus diperbanyak. Selain itu bahan-bahan tersebut juga dibuat sedemikian rupa sehingga tidak membosankan. “Video 10 menit, tapi kemampuan anak untuk fokus terkadang tidak sampai 3 menit. Siswa juga tahu kapan dia sudah tidak fokus, dia bisa pause video dulu. Istirahat sebentar lalu mulai lagi,” katanya.
Kendala ketiga yang harus diantisipasi, kata Nisa, adalah kesiapan orang tua. Sebab konsep hybrid learning ini juga menuntut peran aktif orang tua untuk bisa mendampingi anak mereka saat pembelajaran online di rumah. “Peran orang tua cukup penting karena mereka dibutuhkan untuk mengingatkan anak-anak mereka tentang tugas sekolah mereka,” katanya. helmi syarif/ananda naraya
(war)
Lihat Juga :