Jangan Lengah! Corona Kini Masuk ke Desa
Jum'at, 13 Agustus 2021 - 08:26 WIB
loading...
A
A
A
Dengan segala pertimbangan, kedua orang tuanya meminta izin kepada dokter, agar Sonya bisa melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah. Dokter pun mengizinkan dengan catatan harus disiplin menggunakan masker, pakaian, tempat makan, dan minum terpisah.
Baca juga: 5 Provinsi Penyumbang Kasus Covid-19 Paling Banyak di Indonesia, Ini Daftarnya
Dokter membekali Sonya beberapa obat, seperti antibiotik, penurun panas, dan vitamin. Satu kemewahannya, kamar mandi di rumahnya ada dua jadi bisa terpisah dengan orang tua dan kedua adiknya. “Kalau saya mau ke kamar mandi, yang lain masuk kamar. Mereka baru keluar setelah 10-15 menit kemudian,” tuturnya.
Guru di SMAN I Jasinga ini mengaku sempat cemas saat memutuskan isoman. Alasannya, jauh dari peralatan medis dan tenaga kesehatan (nakes). Kedua orang tuanya pun saat melapor ke puskesmas setempat, pihak puskesmas hanya melakukan pendataan saja. Tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selama menjalani isoman, seolah dunia Sonya terhenti. Ia hanya bisa berkutat di kamar berukuran 3x4 meter. Sepanjang mata memandang hanya ada dinding tembok, lemari, beberapa foto keluarga, dan jam dinding. Sumpek. Hiburan kecilnya hanya memandang ke luar jendela melihat tanaman yang biasa ia rawat. “Beratnya melawan jenuh,” ujarnya. Berselancar di dunia maya melalui ponsel pintar merupakan caranya membunuh sepi di tengah perlawanannya terhadap Covid-19.
Untuk mempercepat pemulihan, segala cara dilakukan di luar obat dari dokter. Kedua orang tuanya saban hari memasok aneka makanan dan minuman yang dipercaya bisa membantu penyembuhan, salah satunya, air kelapa dicampur madu dan lemon. “Ini juga berat karena lidah tak bisa merasakan apapun yang dikunyah,” keluhnya.
Untungnya, Juni itu kegiatan belajar mengajar (KBM) daring telah selesai. Tinggal penilaian terhadap hasil belajar para muridnya selama semester genap. Karena kondisi yang tak memungkinkan, tugasnya itu pun diambil alih oleh rekan kerjanya. Seminggu menjalani isoman, kondisi tubuhnya mulai membaik. Lidahnya mulai bisa merasakan makanan lagi.
Baca juga: 5 Provinsi Penyumbang Kasus Covid-19 Paling Banyak di Indonesia, Ini Daftarnya
Dokter membekali Sonya beberapa obat, seperti antibiotik, penurun panas, dan vitamin. Satu kemewahannya, kamar mandi di rumahnya ada dua jadi bisa terpisah dengan orang tua dan kedua adiknya. “Kalau saya mau ke kamar mandi, yang lain masuk kamar. Mereka baru keluar setelah 10-15 menit kemudian,” tuturnya.
Guru di SMAN I Jasinga ini mengaku sempat cemas saat memutuskan isoman. Alasannya, jauh dari peralatan medis dan tenaga kesehatan (nakes). Kedua orang tuanya pun saat melapor ke puskesmas setempat, pihak puskesmas hanya melakukan pendataan saja. Tidak melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala.
Selama menjalani isoman, seolah dunia Sonya terhenti. Ia hanya bisa berkutat di kamar berukuran 3x4 meter. Sepanjang mata memandang hanya ada dinding tembok, lemari, beberapa foto keluarga, dan jam dinding. Sumpek. Hiburan kecilnya hanya memandang ke luar jendela melihat tanaman yang biasa ia rawat. “Beratnya melawan jenuh,” ujarnya. Berselancar di dunia maya melalui ponsel pintar merupakan caranya membunuh sepi di tengah perlawanannya terhadap Covid-19.
Untuk mempercepat pemulihan, segala cara dilakukan di luar obat dari dokter. Kedua orang tuanya saban hari memasok aneka makanan dan minuman yang dipercaya bisa membantu penyembuhan, salah satunya, air kelapa dicampur madu dan lemon. “Ini juga berat karena lidah tak bisa merasakan apapun yang dikunyah,” keluhnya.
Untungnya, Juni itu kegiatan belajar mengajar (KBM) daring telah selesai. Tinggal penilaian terhadap hasil belajar para muridnya selama semester genap. Karena kondisi yang tak memungkinkan, tugasnya itu pun diambil alih oleh rekan kerjanya. Seminggu menjalani isoman, kondisi tubuhnya mulai membaik. Lidahnya mulai bisa merasakan makanan lagi.
Lihat Juga :