Turunkan Kasus Corona, Pemerintah Pantau Mobilitas Warga lewat Dunia Maya

Selasa, 10 Agustus 2021 - 00:28 WIB
loading...
Turunkan Kasus Corona, Pemerintah Pantau Mobilitas Warga lewat Dunia Maya
Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, pelaksanaan PPKM Level 4 yang dimulai sejak 3 Juli dan saat ini kembali diperpanjang. Foto/SINDOnews
A A A
JAKARTA - Menko Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan menyatakan, pelaksanaan PPKM Level 4 yang dimulai sejak 3 Juli dan saat ini kembali diperpanjang hingga 16 Agustus 2021 diaanggap berhasil menekan laju penyebaran virus Corona (Covid-19) di Indonesia.

Baca juga: Airlangga Sebut Tren Kasus Corona Menurun, Level 3 di Luar Jawa Boleh Belajar Tatap Muka

Meski begitu, laju penurunan Corona terjadi secara fluktuatif dan tercatat untuk wilayah Malang Raya dan Bali jumlah kasus masih relatif masih tinggi.

Baca juga: Update Corona 9 Agustus 2021: 3.686.740 Positif, 3.129.661 Sembuh, 108.571 Meninggal

"Selain jumlah kasus kami juga melihat laju penambahan kematian di Jawa Bali semakin menurun meskipun kondisinya masih bisa dikatakan fluktuatif di masing-masing provinsi," ujarnya saat jumpa pers, Senin (9/8/2021).

Dalam hal ini kata Luhut, pemerintah juga sangat mewaspadai kenaikan mobilitas yang tercermin dari kenaikan indeks komposit pasca 26 Juli terhadap kenaikan kasus konfirmasi ke depannya.

"Tentunya akan kami pantau sampai minggu depan mengingat adanya jeda 14 sampai 21 hari dari perubahan indeks komposit terhadap penambahan kasus. Dan (mobilitas warga) ini kami lakukan secara ilmiah dengan bekerja sama dengan Facebook (FB) dan juga bekerja dengan Google dan juga bekerja dengan NASA," ungkapnya.

Di sisi lain, Luhut juga mengatakan, dalam penerapan PPKM level 4 dan 3 yang pemerintah lakukan pada tanggal 10 sampai 16 Agustus 2021 nanti terdapat 26 kota atau Kabupaten yang turun dari level 4 ke level 3. Luhut pun melihat kondisi ini menunjukkan perbaikan kondisi di lapangan yang cukup signifikan.

"Evaluasi tersebut kami lakukan dengan mengeluarkan indikator kematian dalam penilaian, karena kami temukan adanya input data yang merupakan akumulasi angka kematian selama beberapa minggu ke belakang sehingga menimbulkan distorsi dalam penilaian," pungkasnya.
(maf)
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1757 seconds (10.55#12.26)