Di Balik Perang Baliho Para Tokoh Politik

Jum'at, 06 Agustus 2021 - 16:39 WIB
loading...
A A A
Dengan popularitas tersebut, kata dia, AHY selalu masuk sepuluh besar atau sering juga masuk lima besar dalam berbagai survei sepanjang 2020 hingga 2021. "Sementara itu, Mbak Puan, Airlangga Hartarto, dan Cak Imin, elektabilitasnya selalu di luar sepuluh besar kalau simulasi dalam survei bersifat semi terbuka, artinya daftar calon yang ditanyakan berisi banyak nama (lebih dari 20 nama) dan responden bisa memasukkan nama lain di luar daftar. Dalam simulasi semi terbuka, tiga nama tersebut selalu di luar sepuluh besar elektabilitasnya," tuturnya.

Dia mengungkapkan salah satu penyebab mengapa tiga nama itu masih belum kompetitif adalah tingkat popularitasnya masih belum menyamai calon yang kompetitif seperti Prabowo Subianto, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, dan AHY. "Mbak Puan sebetulnya sudah lumayan baik, karena menurut data LSI Januari 2021, popularitasnya ada di kisaran 60-an persen, bersaing dengan Ganjar," imbuhnya.

Masih soal Puan, dia mengatakan bahwa tujuan pemasangan baliho itu yakni, pertama, untuk meningkatkan popularitasnya hingga minimal setara dengan Anies, dan Sandi, atau AHY. Tetapi, menurut dia, ada juga tujuan lainnya, yakni memberikan pesan kepada terutama kader PDIP, baik di tingkat nasional maupun khususnya di Jawa Tengah bahwa Puan lah kader internal yang diprioritaskan untuk dicalonkan oleh partai berlambang banteng bermoncong putih itu baik sebagai Capres maupun Cawapres.

"Dengan begitu, diharapkan Puan akan mendapatkan dukungan elektabilitas sehingga bisa mengalahkan Ganjar Pranowo," ujarnya.

Sedangkan untuk Airlangga Hartarto dan Cak Imin, diakuinya bahwa popularitas keduanya memang masih sangat rendah. Menurut data LSI Januari itu, lanjut dia, popularitas Airlangga dan Cak Imin masih di bawah 40 persen, terlalu rendah untuk menjadi bakal calon yang kompetitif untuk bersaing dengan Prabowo, Anies, Ganjar, Sandi, AHY, dan Ridwan Kamil.

Sehingga, menurut dia, jelas bahwa pemasangan baliho Airlangga dan Cak Imin untuk meningkatkan popularitas kedua ketua umum partai politik itu. "Mengapa mereka menggunakan baliho? Menurut riset opini publik sejak Indonesia melaksanakan pemilu presiden, pilkada, maupun pileg, cara paling cepat dan efektif untuk meningkatkan popularitas figur adalah menggunakan televisi nasional, karena hampir 80%bmasyarakat Indonesia menonton TV nasional, terutama tv hiburan," imbuhnya.

Selain itu, menurut dia, cara yang efektif untuk meningkatkan popularitas adalah media luar ruang yang besar seperti baliho. Dia menambahkan, baliho dapat menjangkau seluas mungkin masyarakat, baik di perkotaan maupun di pedesaan. Menurut dia, ada cara lain yang lebih murah yaitu melalui internet atau media sosial.

Namun, walaupun jangkauan media sosial semakin luas, dia mengatakan bahwa akses terhadap internet dan media sosial di Indonesia baru menjangkau sekitar 60% masyarakat pemilih, dan terkonsentrasi di perkotaan. "Jadi media sosial punya keterbatasan karena masih ada sekitar 40% masyarakat yang tidak terjangkau serta wilayah pedesaan masih banyak yang belum dimasuki internet. Maka pilihannya adalah baliho, yang biasanya lebih murah daripada TV," pungkasnya.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Beda Jagoan Final Piala...
Beda Jagoan Final Piala Dunia dengan Gus Muhaimin, Bang Jamil: Persaudaraan Tetap Nomor Satu
Terima Kunjungan Sekjen...
Terima Kunjungan Sekjen ICAPP, PKB Perkuat Jembatan Diplomasi Politik dengan Korsel
Momen Hangat Prabowo-Megawati,...
Momen Hangat Prabowo-Megawati, Tertawa hingga Bergandeng Tangan
Kilas Balik Perjalanan...
Kilas Balik Perjalanan Politik Prabowo Diputar di Istana, Termasuk saat Bersama Megawati di Pilpres 2009
Seskab Teddy Temui Wapres...
Seskab Teddy Temui Wapres Gibran, Silaturahmi dan Bahas Kondisi Tanah Air
Anies Ketemu AHY saat...
Anies Ketemu AHY saat Halalbihalal di Cikeas, Bahas Apa?
Dalam 24 Jam, Ferry...
Dalam 24 Jam, Ferry Irwandi Kumpulkan Dana Rp8,2 Miliar untuk Pemulihan Banjir dan Longsor Sumatra
Kantor Sekretariat DPD...
Kantor Sekretariat DPD Partai Perindo Puncak Jaya Dibakar, Deiron Kogoya: Pemilukada Sudah Selesai, Pelaku Harus Diusut!
Kenang Ulama Betawi...
Kenang Ulama Betawi KH Bunyamin, Pemuda Jakbar: Teladan Bagi Anak Muda
Rekomendasi
Inflasi Kembali Muncul,...
Inflasi Kembali Muncul, Penting bagi Trader Mengamati Rilis CPI Berikutnya
Norwegia Siap Laporkan...
Norwegia Siap Laporkan FIFA, Protes Campur Tangan Trump dalam Kasus Kartu Merah Balogun
Mahasiswa Universitas...
Mahasiswa Universitas Paramadina Pelajari Investasi Syariah Bersama MNC Sekuritas
Berita Terkini
Prabowo Pimpin Ratas...
Prabowo Pimpin Ratas selama 3,5 Jam di Istana, Ini yang Dibahas
Hakim Kabulkan Eksepsi...
Hakim Kabulkan Eksepsi Dokter Tifa, Khozinudin Sebut Tidak Ada Kejelasan tentang Ijazah Jokowi
Kejagung: Jadi Deputi...
Kejagung: Jadi Deputi di BGN, Ketut Sumedana Tak Lagi Jabat Kajati Sumsel
PSHKP Resmi Diluncurkan,...
PSHKP Resmi Diluncurkan, Siap Perkuat Tata Kelola Hukum dan Keuangan Publik
Penampakan Alphard yang...
Penampakan Alphard yang Disita KPK Terkait Kasus Bupati Lombok Barat
Eksepsi Dokter Tifa...
Eksepsi Dokter Tifa Dikabulkan, Relawan Jokowi: Jangan Salah Paham, Perkara Belum Selesai
Infografis
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved