Mengejar Kekebalan Komunitas di Jakarta
Kamis, 15 Juli 2021 - 06:12 WIB
loading...
A
A
A
Khusus wilayah Jabodetabek, dia menerangkan telah menambah tenaga kesehatan sebanyak 176 orang dari siswa perwira karier yang sedang dalam masa pendidikan. “Upaya TNI lainnya, melalui perekrutan 3.000 tenaga medis dan non-medis dari berbagai lapisan masyarakat,” dalam konferensi pers virtual pada Senin (12/7/2021).
Epidemiolog Kamaluddin Latief kekebalan komunitas dapat terbentuk melalui dua caranya, yakni alami dan vaksinasi. Namun, cara alami atau membiarkan orang terpapar dan sakit sangat berisiko menyebabkan banyak nyawa melayang. Dia mengatakan sulit mencapai kekebalan komunitas di DKI Jakarta karena wilayah ini terbuka bagi semua warga negara Indonesia.
“Pada hari ini, pemerintah mengejar herd immunity, kita lihat jumlah vaksinasi sebelum melihat yang sakit (terpapar Covid-19), yang buatan (vaksin) belum sampai 20%. Jumlah itu belum mencukupi terjadinya herd immunity dari jumlah vaksinasi. Kalau bicara, misalnya pemerintah optimis bisa mengejar 50%. itupun efektivitas sekarang masih trail and error,” ujarnya.
Mayoritas vaksin yang digunakan di Indonesia adalah Sinovac dengan efikasi 65%. Sisanya, menggunakan AstraZeneca dan Sinopharm. Sekarang, dunia dihadapkan dengan mutasi virus yang dikhawatirkan bisa melemahkan proteksi dari virus. Belum lagi adanya temuan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang menyatakan ada sekitar 4,7 juta warga (44,5%) yang sudah terpapar.
“Mungkin ada irisan yang tervaksinasi dengan yang sakit. Bukan tanpa kelemahan bahwa mereka yang diidentifikasi dari sampel dukcapil. Kita tahu tetap ada gap antara (data) dukcapil dengan tempat tinggal. (Misalnya) penduduk di Depok itu (mungkin) KTP-nya DKI, tetapi tidak ter-capture di survei,” terang Kamaluddin.
Kamaluddin menjelaskan banyaknya masyarakat yang terpapar Covid-19 akan mengganggu upaya mencapai kekebalan komunitas. Dengan kasus yang tinggi, menurunya, peluang penularan masih tinggi dan menunjukkan efektivitas vaksin tidak terlalu bagus. Dengan efikasi Sinovac sebesar 65%, dia menyarankan agar target vaksinasi ditingkatkan. “Kalau saya 80% mungkin bisa herd immunity,” pungkasnya.
Epidemiolog Kamaluddin Latief kekebalan komunitas dapat terbentuk melalui dua caranya, yakni alami dan vaksinasi. Namun, cara alami atau membiarkan orang terpapar dan sakit sangat berisiko menyebabkan banyak nyawa melayang. Dia mengatakan sulit mencapai kekebalan komunitas di DKI Jakarta karena wilayah ini terbuka bagi semua warga negara Indonesia.
“Pada hari ini, pemerintah mengejar herd immunity, kita lihat jumlah vaksinasi sebelum melihat yang sakit (terpapar Covid-19), yang buatan (vaksin) belum sampai 20%. Jumlah itu belum mencukupi terjadinya herd immunity dari jumlah vaksinasi. Kalau bicara, misalnya pemerintah optimis bisa mengejar 50%. itupun efektivitas sekarang masih trail and error,” ujarnya.
Mayoritas vaksin yang digunakan di Indonesia adalah Sinovac dengan efikasi 65%. Sisanya, menggunakan AstraZeneca dan Sinopharm. Sekarang, dunia dihadapkan dengan mutasi virus yang dikhawatirkan bisa melemahkan proteksi dari virus. Belum lagi adanya temuan dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) yang menyatakan ada sekitar 4,7 juta warga (44,5%) yang sudah terpapar.
“Mungkin ada irisan yang tervaksinasi dengan yang sakit. Bukan tanpa kelemahan bahwa mereka yang diidentifikasi dari sampel dukcapil. Kita tahu tetap ada gap antara (data) dukcapil dengan tempat tinggal. (Misalnya) penduduk di Depok itu (mungkin) KTP-nya DKI, tetapi tidak ter-capture di survei,” terang Kamaluddin.
Kamaluddin menjelaskan banyaknya masyarakat yang terpapar Covid-19 akan mengganggu upaya mencapai kekebalan komunitas. Dengan kasus yang tinggi, menurunya, peluang penularan masih tinggi dan menunjukkan efektivitas vaksin tidak terlalu bagus. Dengan efikasi Sinovac sebesar 65%, dia menyarankan agar target vaksinasi ditingkatkan. “Kalau saya 80% mungkin bisa herd immunity,” pungkasnya.
(ynt)
Lihat Juga :