Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Pandemi dan Transformasi Menuju The New Normal
Rabu, 27 Mei 2020 - 09:32 WIB
loading...
A
A
A
Para pemimpin pada saat itu bisa saja bersikap slow, atau bahasa milenialnya, woles, untuk melakukan perubahan. Coba bayangkan kalau pemimpin kita saat itu bersikap woles, tidak melakukan transformasi? Mungkin kita tidak pernah merasakan arti sebagai bangsa, pendidikan kita terbelakang, kita berjuang sendiri-sendiri kedaerahan, dan mungkin kita tidak mendapat rintisan jalan menuju merdeka.
Sebagai refleksi Hari Kebangkitan Nasional, kita perlu mengambil pelajaran dari pemimpin kita terdahulu. Jangan sampai pada zaman dimana transformasi adalah hukumnya wajib, kita justru gagal untuk melakukan transformasi.
Change equation model dari Beckhard and Harris , menyimpulkan bahwa transformasi dan perubahan akan berhasil jika terdapat: (i) ketidak-puasan dengan kondisi saat ini (dissatisfaction with the present), (ii) visi masa depan yang jelas (vision of the future), (iii) langkah pertama yang praktis (practical first step), dan (iv) dukungan dari pimpinan (leadership support).
Ketidak-puasan dengan kondisi yang ada (dissatisfaction with the present) terlihat pada momen Kebangkitan Nasional. Dr. Soetomo dan kawan-kawan saat itu tidak puas dengan kondisi masyarakat kita yang terbelakang dan hanya menjalankan apa yang ada. Saat itu belum ada kesadaran bahwa kita ini adalah sebuah bangsa, yang bisa merdeka dan mengatur diri sendiri. Ki Hadjar dan kawan-kawannya tidak puas dengan keterbatasan akses pendidikan untuk sebagian besar masyarakatnya.
Yang harus kita teladani dari dua peristiwa tersebut adalah bahwa para leader pada saat itu lebih memikirkan kondisi masyarakatnya dari pada kepentingan diri sendiri. Mereka semua adalah orang-orang yang mapan dan berkecukupan, namun mereka tetap memimpin transformasi karena mereka tidak puas kondisi masyarakatnya.
Sebagai refleksi, saat ini seharusnya kita lebih mempunyai komitmen untuk melakukan perubahan. Perubahan lingkungan yang cepat dan dinamis, serta disrupsi yang terus-menerus, seharusnya menimbulkan lebih banyak alasan bagi kita untuk tidak-puas dengan kondisi yang ada.
Sayang sekali, anggota organisasi saat ini banyak yang bersikap complacent, terlalu cepat puas dengan apa yang sudah dicapai, meskipun kinerjanya tidak bagus. Mereka resisten atau enggan berubah, karena merasa berkerja seperti sekarang saja toh tidak ada masalah, hidup jalan terus.
Pemimpin organisasi saat ini harus bisa mendobrak keengganan (resistensi) untuk berubah. Pemimpin harus bisa mengkomunikasikan risiko dan krisis yang (sebenarnya) sedang dihadapi atau akan dihadapi. Pemimpin harus bisa ‘menciptakan’ krisis.
Organisasi yang saat ini berkinerja dengan baik maupun yang saat ini tertatih-tatih mencapai targetnya, sama-sama berhadapan dengan krisis. Semuanya menghadapi risiko-risiko baru yang terus menerus muncul karena perkembangan lingkungan dan kompetisi yang sangat cepat. Justru kinerja yang baik sering membuat organisasi ‘tertidur’, dan tidak sempat merespon perubahan lingkungan tepat waktu.
Selain ketidak-puasan dengan masa kini, keberhasilan transformasi juga harus didukung dengan adanya visi atas masa depan (vision of the future) yang jelas. Para pemimpin pergerakan pada masa lalu juga menunjukkan hal ini.
Para pemimpin Boedi Oetomo memiliki visi sebuah bangsa yang maju dan mampu menjelaskan visinya kepada pengikutnya. Visi akan masa depan yang jelas ini telah memotivasi rekan seperjuangan dan masyarakatnya yang sebelumnya tidak sadar perlunya menjadi bangsa sendiri.
Pendiri Taman Siswa juga mempunyai visi yang jelas tentang masa depan sistem Pendidikan yang diperjuangkan. Visi masa depan ini bisa saja terinspirasi oleh pengalaman mereka melihat pergerakan serupa di mancanegara.
Sebagai refleksi, untuk mendorong perubahan, para pemimpin saat ini harus dapat menjelaskan visi masa depan dengan jelas dan gamblang. Pemimpin harus bisa menjelaskan manfaat dan kebaikan-kebaikan apa saja yang akan terjadi jika perubahan dan transformasi yang sedang diperjuangkan ini telah selesai dilakukan.
Selain ketidak-puasan dan visi, transformasi akan berhasil jika ada langkah pertama yang praktis (practical first step). Langkah pertama dari Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Soedirohoesodo adalah mendirikan dan mengembangkan organisasi Boedi Oetmo sebagai wadah perjuangan. Langkah pertama Ki Hadjar Dewantara adalah mendirikan perguruan Taman Siswa dan mencanangkan Patrap Triloka.
Demikian juga pada peristiwa sejarah lainnya. Mr. Muhammad Yamin mengajukan rumusan ‘sumpah pemuda’ pada saat-saat terakhir menjelang kesimpulan kongres pemuda ke-2 mau dibacakan. Soekarno-Hatta membacakan text proklamasi dan rencana melakukan pemindahan kekuasaan dll dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Pemimpin saat ini harus bisa mengidentifikasi langkah pertama yang praktis untuk mencapai visi dan mengajak anggota untuk menjalankannya.
Syarat keempat keberhasilan transformasi adalah adanya dukungan dari pimpinan (leadership support). Para pemimpin pergerakan nasional tersebut di atas menujukkan leadership support dengan maju memimpin, memberi tauladan dan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi tercapainya visi perjuangan.
COVID-19 Mempercepat Inovasi
Sebelum datangnya Covid-19, kita semua sudah sibuk membicarakan perlunya perubahan dan transformasi, meskipun jarang sekali merealisasikannya. Kita mengapresiasi perlunya perubahan karena didorong perkembangan lingkungan bisnis, kompetisi, regulasi, disrupsi dan kemajuan teknologi. Disrupsi yang terjadi saat ini lebih banyak yang bersifat game-changer, disrupsi yang merubah permainan.
Meskipun apresiasi kita terhadap perubahan tumbuh subur, seringkali kita tidak serta merta melakukannya. Resistensi terhadap perubahan cukup tinggi.
Covid-19 yang datangnya mak bendunduk (tiba-tiba, tanpa peringatan) sepertinya mempercepat perubahan dan transformasi. Resistensi (keengganan) terhadap bekerja jarak jauh dan digitalisasi, misalnya, seperti lenyap seketika setelah adanya Covid-19. Tiba-tiba orang menjadi berani (dipaksa) mencoba teknologi remote working, memiliki tekad yang tinggi terhadap digitalisasi, dan berusaha tidak gaptek (gagap teknologi).
Sebagai refleksi Hari Kebangkitan Nasional, kita perlu mengambil pelajaran dari pemimpin kita terdahulu. Jangan sampai pada zaman dimana transformasi adalah hukumnya wajib, kita justru gagal untuk melakukan transformasi.
Change equation model dari Beckhard and Harris , menyimpulkan bahwa transformasi dan perubahan akan berhasil jika terdapat: (i) ketidak-puasan dengan kondisi saat ini (dissatisfaction with the present), (ii) visi masa depan yang jelas (vision of the future), (iii) langkah pertama yang praktis (practical first step), dan (iv) dukungan dari pimpinan (leadership support).
Ketidak-puasan dengan kondisi yang ada (dissatisfaction with the present) terlihat pada momen Kebangkitan Nasional. Dr. Soetomo dan kawan-kawan saat itu tidak puas dengan kondisi masyarakat kita yang terbelakang dan hanya menjalankan apa yang ada. Saat itu belum ada kesadaran bahwa kita ini adalah sebuah bangsa, yang bisa merdeka dan mengatur diri sendiri. Ki Hadjar dan kawan-kawannya tidak puas dengan keterbatasan akses pendidikan untuk sebagian besar masyarakatnya.
Yang harus kita teladani dari dua peristiwa tersebut adalah bahwa para leader pada saat itu lebih memikirkan kondisi masyarakatnya dari pada kepentingan diri sendiri. Mereka semua adalah orang-orang yang mapan dan berkecukupan, namun mereka tetap memimpin transformasi karena mereka tidak puas kondisi masyarakatnya.
Sebagai refleksi, saat ini seharusnya kita lebih mempunyai komitmen untuk melakukan perubahan. Perubahan lingkungan yang cepat dan dinamis, serta disrupsi yang terus-menerus, seharusnya menimbulkan lebih banyak alasan bagi kita untuk tidak-puas dengan kondisi yang ada.
Sayang sekali, anggota organisasi saat ini banyak yang bersikap complacent, terlalu cepat puas dengan apa yang sudah dicapai, meskipun kinerjanya tidak bagus. Mereka resisten atau enggan berubah, karena merasa berkerja seperti sekarang saja toh tidak ada masalah, hidup jalan terus.
Pemimpin organisasi saat ini harus bisa mendobrak keengganan (resistensi) untuk berubah. Pemimpin harus bisa mengkomunikasikan risiko dan krisis yang (sebenarnya) sedang dihadapi atau akan dihadapi. Pemimpin harus bisa ‘menciptakan’ krisis.
Organisasi yang saat ini berkinerja dengan baik maupun yang saat ini tertatih-tatih mencapai targetnya, sama-sama berhadapan dengan krisis. Semuanya menghadapi risiko-risiko baru yang terus menerus muncul karena perkembangan lingkungan dan kompetisi yang sangat cepat. Justru kinerja yang baik sering membuat organisasi ‘tertidur’, dan tidak sempat merespon perubahan lingkungan tepat waktu.
Selain ketidak-puasan dengan masa kini, keberhasilan transformasi juga harus didukung dengan adanya visi atas masa depan (vision of the future) yang jelas. Para pemimpin pergerakan pada masa lalu juga menunjukkan hal ini.
Para pemimpin Boedi Oetomo memiliki visi sebuah bangsa yang maju dan mampu menjelaskan visinya kepada pengikutnya. Visi akan masa depan yang jelas ini telah memotivasi rekan seperjuangan dan masyarakatnya yang sebelumnya tidak sadar perlunya menjadi bangsa sendiri.
Pendiri Taman Siswa juga mempunyai visi yang jelas tentang masa depan sistem Pendidikan yang diperjuangkan. Visi masa depan ini bisa saja terinspirasi oleh pengalaman mereka melihat pergerakan serupa di mancanegara.
Sebagai refleksi, untuk mendorong perubahan, para pemimpin saat ini harus dapat menjelaskan visi masa depan dengan jelas dan gamblang. Pemimpin harus bisa menjelaskan manfaat dan kebaikan-kebaikan apa saja yang akan terjadi jika perubahan dan transformasi yang sedang diperjuangkan ini telah selesai dilakukan.
Selain ketidak-puasan dan visi, transformasi akan berhasil jika ada langkah pertama yang praktis (practical first step). Langkah pertama dari Dr. Sutomo dan Dr. Wahidin Soedirohoesodo adalah mendirikan dan mengembangkan organisasi Boedi Oetmo sebagai wadah perjuangan. Langkah pertama Ki Hadjar Dewantara adalah mendirikan perguruan Taman Siswa dan mencanangkan Patrap Triloka.
Demikian juga pada peristiwa sejarah lainnya. Mr. Muhammad Yamin mengajukan rumusan ‘sumpah pemuda’ pada saat-saat terakhir menjelang kesimpulan kongres pemuda ke-2 mau dibacakan. Soekarno-Hatta membacakan text proklamasi dan rencana melakukan pemindahan kekuasaan dll dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Pemimpin saat ini harus bisa mengidentifikasi langkah pertama yang praktis untuk mencapai visi dan mengajak anggota untuk menjalankannya.
Syarat keempat keberhasilan transformasi adalah adanya dukungan dari pimpinan (leadership support). Para pemimpin pergerakan nasional tersebut di atas menujukkan leadership support dengan maju memimpin, memberi tauladan dan rela mengorbankan kepentingan pribadi demi tercapainya visi perjuangan.
COVID-19 Mempercepat Inovasi
Sebelum datangnya Covid-19, kita semua sudah sibuk membicarakan perlunya perubahan dan transformasi, meskipun jarang sekali merealisasikannya. Kita mengapresiasi perlunya perubahan karena didorong perkembangan lingkungan bisnis, kompetisi, regulasi, disrupsi dan kemajuan teknologi. Disrupsi yang terjadi saat ini lebih banyak yang bersifat game-changer, disrupsi yang merubah permainan.
Meskipun apresiasi kita terhadap perubahan tumbuh subur, seringkali kita tidak serta merta melakukannya. Resistensi terhadap perubahan cukup tinggi.
Covid-19 yang datangnya mak bendunduk (tiba-tiba, tanpa peringatan) sepertinya mempercepat perubahan dan transformasi. Resistensi (keengganan) terhadap bekerja jarak jauh dan digitalisasi, misalnya, seperti lenyap seketika setelah adanya Covid-19. Tiba-tiba orang menjadi berani (dipaksa) mencoba teknologi remote working, memiliki tekad yang tinggi terhadap digitalisasi, dan berusaha tidak gaptek (gagap teknologi).
Lihat Juga :