Ketimbang Lockdown Jakarta, Politikus PDIP Ini Usul PPKM Mikro Ekstra Ketat

loading...
Ketimbang Lockdown Jakarta, Politikus PDIP Ini Usul PPKM Mikro Ekstra Ketat
Seorang tenaga kesehatan membersihkan diri usai bertugas merawat pasien di Rumah Sakit Darurat Covid-19 (RSDC) Wisma Atlet Kemayoran, Jakarta, Selasa 15 Juni 2021. Foto/ANTARA/M Risyal Hidayat/nz
JAKARTA - Usulan untuk memberlakukan lockdown atau penutupan kawasan dan pembatasan kegiatan fisik bermunculan, menyikapi melonjaknya kasus Covid-19 dan meluasnya virus varian baru di Tanah Air, khususnya DKI Jakarta.

Anggota Komisi IX DPR dari Fraksi PDIP, Rahmad Handoyo menilai usulan lockdown patut dipikirkan, namun tidak seperti yang diberlakukan seperti di negara-negara lain. "Saya kira kita pikirkan ide Jakarta untuk di-lockdown, tetapi dengan tidak seperti di negara lain, tapi dengan ciri khas kita ya," kata Rahmad saat dihubungi, Jumat (18/6/2021).

Namun, Rahmad mengusulkan jika diterapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) skala mikro tapi dengan penerapan yang sangat ketat.

Artinya, selama dua minggu ini tidak ada aktivitas atau tetap ada aktivitas diminimalkan. Kegiatan perkantoran dibatasi hanya 10% atau paling banyak 20% dan bekerja dari rumah atau work from home (WFH) dimaksimalkan di kantor



"Selama dua minggu itu kita benar-benar ikatkan tali pinggang seluruhnya baik pemerintahan, kantor pemerintahan, swasta maupun masyarakatnya," sarannya.Baca juga: Kasus Covid-19 Melonjak, Polisi Gencarkan Patroli Prokes di Jakarta

Rahmad mengingatkan, PPKM Mikro dengan ekstra ketat itu tidak hanya berlaku di Jakarta saja, tapi butuh kerja sama atau saling gotong royong dengan pemerintah daerah (pemda) dan warga yang ada di kawasan Jabodetabek, yang sampai saat ini masih menjadi klaster yang sangat tinggi paparannya.

Wacana lockdown DKI Jakarta dinilai bagus tetapi Rahmad lebih condong kepada PPKM skala mikro yang sangat diperketat. Ditambah dengan aturan-aturan yang membuat aktivitas benar-benar dibatasi dan dimasifkan dalam menegakkan aturan.

Dengan demikian, kata dia, kerumunan-kerumunan benar-benar dihindari dan bagi pihak yang nekat membuat kerumunan maka harus tutup. "Itulah yang harus kita lakukan, kalau tidak, mau tempat tidurnya diperbanyak, ditambah, kalau kita tetap tidak mengindahkan protokol kesehatan saya kira percuma. Sampai kapanpun tidak akan mampu rumah sakit kalau kita terus nertambah, kalau kita semua tidak mengindahkan protokol kesehatan," ungkap Rahmad.Baca juga: Eijkman: Ada 4 Sifat Varian Baru Covid-19 yang Wajib Diwaspadai

Rahmad menegaskan, butuh ketegasan dalam menegakkan disiplin di PPKM skala mikro yang ketat itu, tidak hanya di Jakarta tapi juga daerah penyangga.

Menurut dia, saat ini adalah langkah tepat untuk bergotong royong dan "menarik rem". Namun nanti pada waktunya ketika kasus sudah mereda, bisa sedikit diperlonggar sambil terus menggencarkan target vaksinasi Covid-19.



"Sambil simultan PPKM skala mikro yang dimodifikasi ylebih diperketat lagi, kemudian program vaksinasi kita gencarkan dan kita naikan persentase untuk yang akan kita vaksinasi," tutur Rahmad.
(dam)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top