Pembelajaran Tatap Muka Hanya 2 Jam, IDI Sebut Sebagai Jalan Tengah
Rabu, 09 Juni 2021 - 05:30 WIB
loading...
Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI), Zubairi Djoerban menilai, arahan Presiden Joko Widodo terkait pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah terbatas sebagai jalan tengah. Ilustrasi/Foto/Ist
A
A
A
JAKARTA - Ketua Satuan Tugas COVID-19 Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) , Zubairi Djoerban menilai, arahan Presiden Joko Widodo terkait pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah terbatas sebagai jalan tengah.
Presiden Jokowi memberikan syarat bahwa PTM terbatas mewajibkan sekolah hanya membolehkan maksimal 25% siswa yang masuk. Kemudian kegiatan PTM tidak boleh dari dua hari dalam sepekan dan pelaksanaan PTM maksimal dua jam.
“Saya memandang, arahan Presiden Jokowi tentang sekolah tatap muka sebagai jalan tengah. Mulai dari pembatasan jam belajar dan siswanya di dalam kelas, hingga memastikan semua guru sudah divaksinasi. Itu cukup bagus,” ungkap Zubairi lewat media sosial pribadinya, Selasa (8/6/2021).
Zubairi pun mengatakan masyarakat boleh skeptis terhadap pelaksanaan PTM ini, namun harus berdasarkan oleh data. Sebab, kebijakan ini belum tentu cocok untuk semua daerah. (Baca juga; 226 Sekolah di DKI Jakarta Gelar Uji Coba PTM )
“Lalu, apakah kita harus skeptis pada pelaksanaannya nanti? Begini. Skeptis boleh saja. Tapi harus didasari data. Pasalnya satu kebijakan ini belum tentu cocok untuk semua daerah. Apalagi daerah berstatus zona merah dan yang bed occupancy rate (BOR) tinggi. Ada baiknya dipertimbangkan dengan baik untuk buka kembali sekolah-sekolahnya,” papar Zubairi.
Presiden Jokowi memberikan syarat bahwa PTM terbatas mewajibkan sekolah hanya membolehkan maksimal 25% siswa yang masuk. Kemudian kegiatan PTM tidak boleh dari dua hari dalam sepekan dan pelaksanaan PTM maksimal dua jam.
“Saya memandang, arahan Presiden Jokowi tentang sekolah tatap muka sebagai jalan tengah. Mulai dari pembatasan jam belajar dan siswanya di dalam kelas, hingga memastikan semua guru sudah divaksinasi. Itu cukup bagus,” ungkap Zubairi lewat media sosial pribadinya, Selasa (8/6/2021).
Zubairi pun mengatakan masyarakat boleh skeptis terhadap pelaksanaan PTM ini, namun harus berdasarkan oleh data. Sebab, kebijakan ini belum tentu cocok untuk semua daerah. (Baca juga; 226 Sekolah di DKI Jakarta Gelar Uji Coba PTM )
“Lalu, apakah kita harus skeptis pada pelaksanaannya nanti? Begini. Skeptis boleh saja. Tapi harus didasari data. Pasalnya satu kebijakan ini belum tentu cocok untuk semua daerah. Apalagi daerah berstatus zona merah dan yang bed occupancy rate (BOR) tinggi. Ada baiknya dipertimbangkan dengan baik untuk buka kembali sekolah-sekolahnya,” papar Zubairi.
Lihat Juga :