Muhaimin Iskandar dan Peluang Kader NU Maju Capres 2024
Selasa, 01 Juni 2021 - 12:44 WIB
loading...
A
A
A
Sosok Muhaimin Iskandar sendiri dikenal sebagai tokoh politik yang mempunyai track record cukup panjang dalam percaturan politik nasional. Ikut menggaungi berdirinya PKB sejak awal bersama Gus Dur dan sejumlah tokoh NU lainnya pada 2018 silam, cucu dari salah satu pendiri NU KH Birsi Syansuri ini langsung lolos ke Senayan pada pemilu perdananya Tahun 1999. Keponakan Gus Dur inipun langsung dipercaya sebagai Wakil Ketua DPR di usianya yang masih cukup muda saat itu, 32 tahun. Sementara sang paman, Gus Dur berhasil duduk sebagai Presiden RI.
Karir tokoh kelahiran Jombang, Jawa Timur pada 24 September 1966 ini kian moncer setelah pada periode pertama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2004-2009, dipercaya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Indonesia Bersatu I. Selanjutnya pada Kabinet Indonesia Bersatu II di bawah Presiden SBY periode 2009-2014, mantan ketua umum PB PMII ini kembali dipercaya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Era SBY berakhir dan berganti era Presiden Joko Widodo (Jokowi), PKB merapat ke koalisi Jokowi dan Muhaimin Iskandar mendapatkan posisi sebagai Wakil Ketua MPR. Di periode kedua Jokowi, menjelang penentuan cawapres Jokowi, Muhaimin melakukan manuver politik bersama sejumlah ketua umum parpol koalisi lain, dan berhasil meyakinkan Jokowi untuk bergandengan dengan Rais Aam PBNU saat itu, KH Ma’ruf Amin. Jokowi pun kembali duduk di Istana, dan Muhaimin Iskandar untuk kali kedua menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPR RI. Negarawan yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif bahkan menyebut suami dari Rustini Murtadho itu sebagai the real politician.
Sementara PKB selama ini dikenal sangat identik dengan kelompok pemilih massa NU. Meskipun di beberapa wilayah seperti Papua dan NTT, PKB justru dikenal sebagai parpol nasionalis dan plural layaknya Golkar, PDIP maupun Gerindra atau Nasdem dan memiliki pemilih cukup besar dari kelompok nonmuslim. Sementara Muhaimin juga merupakan politikus yang sangat dekat dan identik dengan NU.
Dalam beberapa kali pilpres sejak era Reformasi, kader NU pun selalu andil dalam Pilpres. Diawali pada 1999, Gus Dur sukses melanggeng ke Istana, pada Pilpres 2004, dua kader terbaik NU KH Hasyim Muzadi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU maju sebagai cawapres berdampingan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Satu lagi adik Gus Dur, KH Salahuddin Wahid yang maju sebagai cawapres berdampingan dengan Wiranto. Pada Pilpres 2009 dan 2014, kader NU absen. Baru pada 2019, lagi-lagi kader terbaik NU yakni Rais Aam PBNU saat itu, KH Ma’ruf Amin dipinang Jokowi sebagai cawapres dan sukses sebagai wakil presiden saat ini.
NU sebagai ormas Islam dengan jumlah massa terbesar di Indonesia bahkan dunia, selalu jadi magnet dalam setiap kontestasi Pilpres. Karena itu, sudah sepatutnya kader NU ikut berperan bahkan berkontestasi dalam perebutan kepemimpinan nasional.
Mengacu pada hasil survei nasional Alvara Research Center bertajuk ”Potret Keberagamaan Muslim Indonesia” pada 2016 lalu, penduduk muslim Indonesia sekitar 50,3% mengaku berafiliasi dengan NU. Sementara dari sisi keanggotaan, 36,1% mengaku menjadi anggota NU.
Karir tokoh kelahiran Jombang, Jawa Timur pada 24 September 1966 ini kian moncer setelah pada periode pertama kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) 2004-2009, dipercaya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi pada Kabinet Indonesia Bersatu I. Selanjutnya pada Kabinet Indonesia Bersatu II di bawah Presiden SBY periode 2009-2014, mantan ketua umum PB PMII ini kembali dipercaya sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi.
Era SBY berakhir dan berganti era Presiden Joko Widodo (Jokowi), PKB merapat ke koalisi Jokowi dan Muhaimin Iskandar mendapatkan posisi sebagai Wakil Ketua MPR. Di periode kedua Jokowi, menjelang penentuan cawapres Jokowi, Muhaimin melakukan manuver politik bersama sejumlah ketua umum parpol koalisi lain, dan berhasil meyakinkan Jokowi untuk bergandengan dengan Rais Aam PBNU saat itu, KH Ma’ruf Amin. Jokowi pun kembali duduk di Istana, dan Muhaimin Iskandar untuk kali kedua menduduki posisi sebagai Wakil Ketua DPR RI. Negarawan yang juga mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah Buya Syafii Ma’arif bahkan menyebut suami dari Rustini Murtadho itu sebagai the real politician.
Sementara PKB selama ini dikenal sangat identik dengan kelompok pemilih massa NU. Meskipun di beberapa wilayah seperti Papua dan NTT, PKB justru dikenal sebagai parpol nasionalis dan plural layaknya Golkar, PDIP maupun Gerindra atau Nasdem dan memiliki pemilih cukup besar dari kelompok nonmuslim. Sementara Muhaimin juga merupakan politikus yang sangat dekat dan identik dengan NU.
Dalam beberapa kali pilpres sejak era Reformasi, kader NU pun selalu andil dalam Pilpres. Diawali pada 1999, Gus Dur sukses melanggeng ke Istana, pada Pilpres 2004, dua kader terbaik NU KH Hasyim Muzadi yang saat itu menjabat sebagai Ketua Umum PBNU maju sebagai cawapres berdampingan dengan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri. Satu lagi adik Gus Dur, KH Salahuddin Wahid yang maju sebagai cawapres berdampingan dengan Wiranto. Pada Pilpres 2009 dan 2014, kader NU absen. Baru pada 2019, lagi-lagi kader terbaik NU yakni Rais Aam PBNU saat itu, KH Ma’ruf Amin dipinang Jokowi sebagai cawapres dan sukses sebagai wakil presiden saat ini.
NU sebagai ormas Islam dengan jumlah massa terbesar di Indonesia bahkan dunia, selalu jadi magnet dalam setiap kontestasi Pilpres. Karena itu, sudah sepatutnya kader NU ikut berperan bahkan berkontestasi dalam perebutan kepemimpinan nasional.
Mengacu pada hasil survei nasional Alvara Research Center bertajuk ”Potret Keberagamaan Muslim Indonesia” pada 2016 lalu, penduduk muslim Indonesia sekitar 50,3% mengaku berafiliasi dengan NU. Sementara dari sisi keanggotaan, 36,1% mengaku menjadi anggota NU.
Lihat Juga :