Gas Pol, Memanfaatkan Momentum
Senin, 31 Mei 2021 - 05:23 WIB
loading...
Gas Pol, Memanfaatkan Momentum
A
A
A
Prof Candra Fajri Ananda Ph.D
Staf Khusus Kementerian Keuangan RI
Lebih dari satu tahun pandemi Covid 19 membayangi dunia, tak terkecuali Indonesia. Covid 19 seketika telah mengubah banyak hal . Bukan hanya kesehatan yang terancam, akan tetapi ekonomi juga turut terdampak. Hingga saat ini pandemi belum juga menepi. Berbagai adaptasi terus diupayakan demi tetap bertahan di tengah pandemi. Perlahan namun pasti, meski sempat terperosok dalam jurang resesi akibat pandemi, kini ekonomi Indonesia telah mulai menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan. Berbagai kegiatan ekonomi telah berangsur membaik, mobilitas pun mulai terbuka perlahan-lahan sehingga konsumsi dan investasi juga mulai pulih. Artinya ekonomi Indonesia kini telah siap bangkit dan berlari.
Berbagai indikator ekonomi telah menunjukkan perbaikan di bulan Maret, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan PMI. Indikator RSI menunjukkan keberlanjutan pemulihan konsumsi masyarakat pada Maret dan diprediksi semakin menguat di April 2021. Peningkatan penjualan eceran terjadi pada seluruh kelompok terutama Subkelompok Mamin, Sandang, dan perlengkapan rumah tangga. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2021 terus menguat, terealisasi sebesar 93,4, dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2020. Seiring dengan hal tersebut, kinerja PMI yang telah berada pada zona ekspansi terus menunjukkan tren penguatan hingga tercatat pada angka 53,2 di bulan Maret 2021, meningkat dari level 50,9 pada Februari 2021. Realisasi tersebut menunjukkan bahwa terjadi ekspansi selama lima bulan berturut-turut dan merupakan yang tertinggi sejak April 2011.
PEN dan Vaksinasi (Masih) Kunci Utama
Momentum penguatan kinerja ekonomi domestik di masa pandemi kini masih ditopang oleh berlanjutnya kebijakan fiskal countercyclical dalam APBN 2021. Tak henti-hentinya APBN terus bekerja keras sebagai instrumen kebijakan mendukung pemulihan ekonomi. Tingkat penyerapan belanja negara di Triwulan I tumbuh sebesar 15,6% (YoY), termasuk realisasi Program PEN yang mencapai Rp134,1 triliun, atau 19,2% pagu (hingga 16 April 2021), yang mencakup belanja penanganan kesehatan, perlindungan sosial, dan dukungan bagi UMKM dan korporasi.
Konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan porsi mencapai 56,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) telah menunjukkan arah perbaikan meskipun masih tercatat kontraksi minus 2,23%. Akan tetapi kontraksi ini menunjukan arah yang membaik jika dibandingkan dengan kontraksi di kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV - 2020. Sementara itu, konsumsi masyarakat kelas menengah atas menunjukkan peningkatan ditunjukkan oleh pertumbuhan positif konsumsi perumahan dan perlengkapanrumah tangga, perbaikan konsumsi pakaian serta konsumsi transportasi. Kebijakan relaksasi PPnBM kendaraan secara nyata menstimulasi peningkatan konsumsi transportasi dan komunikasi menjadi minus 4,24% (YoY) dari minus 9,45% di triwulan IV 2020, yang terkonfirmasi dari peningkatan penjualan kendaraan di bulan Maret 2021. Kehadiran pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diyakini efektif untuk mendorong daya beli masyarakat sehingga mampu memberikan confidence yang lebih tinggi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Staf Khusus Kementerian Keuangan RI
Lebih dari satu tahun pandemi Covid 19 membayangi dunia, tak terkecuali Indonesia. Covid 19 seketika telah mengubah banyak hal . Bukan hanya kesehatan yang terancam, akan tetapi ekonomi juga turut terdampak. Hingga saat ini pandemi belum juga menepi. Berbagai adaptasi terus diupayakan demi tetap bertahan di tengah pandemi. Perlahan namun pasti, meski sempat terperosok dalam jurang resesi akibat pandemi, kini ekonomi Indonesia telah mulai menunjukkan adanya tanda-tanda pemulihan. Berbagai kegiatan ekonomi telah berangsur membaik, mobilitas pun mulai terbuka perlahan-lahan sehingga konsumsi dan investasi juga mulai pulih. Artinya ekonomi Indonesia kini telah siap bangkit dan berlari.
Berbagai indikator ekonomi telah menunjukkan perbaikan di bulan Maret, antara lain terlihat pada Indeks Penjualan Ritel (RSI), Indeks Keyakinan Konsumen (IKK), dan PMI. Indikator RSI menunjukkan keberlanjutan pemulihan konsumsi masyarakat pada Maret dan diprediksi semakin menguat di April 2021. Peningkatan penjualan eceran terjadi pada seluruh kelompok terutama Subkelompok Mamin, Sandang, dan perlengkapan rumah tangga. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Maret 2021 terus menguat, terealisasi sebesar 93,4, dan merupakan yang tertinggi sejak Desember 2020. Seiring dengan hal tersebut, kinerja PMI yang telah berada pada zona ekspansi terus menunjukkan tren penguatan hingga tercatat pada angka 53,2 di bulan Maret 2021, meningkat dari level 50,9 pada Februari 2021. Realisasi tersebut menunjukkan bahwa terjadi ekspansi selama lima bulan berturut-turut dan merupakan yang tertinggi sejak April 2011.
PEN dan Vaksinasi (Masih) Kunci Utama
Momentum penguatan kinerja ekonomi domestik di masa pandemi kini masih ditopang oleh berlanjutnya kebijakan fiskal countercyclical dalam APBN 2021. Tak henti-hentinya APBN terus bekerja keras sebagai instrumen kebijakan mendukung pemulihan ekonomi. Tingkat penyerapan belanja negara di Triwulan I tumbuh sebesar 15,6% (YoY), termasuk realisasi Program PEN yang mencapai Rp134,1 triliun, atau 19,2% pagu (hingga 16 April 2021), yang mencakup belanja penanganan kesehatan, perlindungan sosial, dan dukungan bagi UMKM dan korporasi.
Konsumsi rumah tangga sebagai penyumbang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan porsi mencapai 56,9% dari Produk Domestik Bruto (PDB) telah menunjukkan arah perbaikan meskipun masih tercatat kontraksi minus 2,23%. Akan tetapi kontraksi ini menunjukan arah yang membaik jika dibandingkan dengan kontraksi di kuartal II, kuartal III, dan kuartal IV - 2020. Sementara itu, konsumsi masyarakat kelas menengah atas menunjukkan peningkatan ditunjukkan oleh pertumbuhan positif konsumsi perumahan dan perlengkapanrumah tangga, perbaikan konsumsi pakaian serta konsumsi transportasi. Kebijakan relaksasi PPnBM kendaraan secara nyata menstimulasi peningkatan konsumsi transportasi dan komunikasi menjadi minus 4,24% (YoY) dari minus 9,45% di triwulan IV 2020, yang terkonfirmasi dari peningkatan penjualan kendaraan di bulan Maret 2021. Kehadiran pemerintah melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) diyakini efektif untuk mendorong daya beli masyarakat sehingga mampu memberikan confidence yang lebih tinggi bagi pertumbuhan ekonomi nasional.
Lihat Juga :