Matakin: Pancasila Harta yang Paling Berharga
Selasa, 04 Mei 2021 - 23:05 WIB
loading...
A
A
A
Masih menurut Budi, nilai Pancasila sudah senafas dan seirama degan ajaran Konghucu. Di dalamnya ada keadilan, persatuan, dan lainnya. Jika ada keadilan tidak akan ada lagi persoalan persatuan dan kemiskinan. Karena itu, menjadi pemeluk Konghucu yang baik pasti menjadi seorang Pancasila yang baik.
Budi berharap ke depan BPIP dan MATAKIN bisa terus bekerja sama dan berkolaborasi dalam rangka membumikan Pancasila. Caranya tidak selalu harus dengan diskusi atau webinar, bisa dengan musik atau teater yang lebih mudah diterima.
"BPIP harus menggunakan kekayaan seni budaya Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai sesuatu yang berharga. Selain itu juga agar Pancasila bisa dihargai dan dimanfaatkan dengan baik. Karena Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tapi juga tujuan dan pegangan hidup dan juga standar untuk menilai apakah kita sudah sukses atau tidak," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengatakan, kebhinekaan sesuatu yang tak bisa dipungkiri. Karena itu diperlukan suatu ikatan untuk menyatukan. Beruntung, para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai arahan dan pedoman agar bangsa yang punya banyak perbedaan bisa bersatu. Pancasila menyatukan bukan hanya aspek politis tapi juga menyatukan hal yang fundamental yaitu ketuhanan. Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan di tengah perang dunia kedua, teks proklamasi yang dibacakan 59 detik itu akhirnya membebaskan dan mempersatukan lebih dari 40 negara yaitu kesultanan dan kerajaan.
"Belum pernah terjadi dalam sejarah kecuali di Indonesia penguasa-penguasa lokal dengan mudah melepas kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan mereka dengan segala konsekuensi konstitusionalnya kepada sebuah negara yang bernama Indonesia kecuali di Indonesia," kata Yudian. (CM)
Budi berharap ke depan BPIP dan MATAKIN bisa terus bekerja sama dan berkolaborasi dalam rangka membumikan Pancasila. Caranya tidak selalu harus dengan diskusi atau webinar, bisa dengan musik atau teater yang lebih mudah diterima.
"BPIP harus menggunakan kekayaan seni budaya Indonesia untuk menjadikan Pancasila sebagai sesuatu yang berharga. Selain itu juga agar Pancasila bisa dihargai dan dimanfaatkan dengan baik. Karena Pancasila bukan hanya sebagai dasar negara, tapi juga tujuan dan pegangan hidup dan juga standar untuk menilai apakah kita sudah sukses atau tidak," ujarnya.
Sementara itu, Kepala BPIP Yudian Wahyudi mengatakan, kebhinekaan sesuatu yang tak bisa dipungkiri. Karena itu diperlukan suatu ikatan untuk menyatukan. Beruntung, para pendiri bangsa telah mewariskan Pancasila sebagai arahan dan pedoman agar bangsa yang punya banyak perbedaan bisa bersatu. Pancasila menyatukan bukan hanya aspek politis tapi juga menyatukan hal yang fundamental yaitu ketuhanan. Saat Indonesia memproklamasikan kemerdekaan di tengah perang dunia kedua, teks proklamasi yang dibacakan 59 detik itu akhirnya membebaskan dan mempersatukan lebih dari 40 negara yaitu kesultanan dan kerajaan.
"Belum pernah terjadi dalam sejarah kecuali di Indonesia penguasa-penguasa lokal dengan mudah melepas kekuasaan dan menyerahkan kekuasaan mereka dengan segala konsekuensi konstitusionalnya kepada sebuah negara yang bernama Indonesia kecuali di Indonesia," kata Yudian. (CM)
(srf)
Lihat Juga :