Menakar Efisiensi Panel Surya untuk Ketahanan Energi

loading...
Menakar Efisiensi Panel Surya untuk Ketahanan Energi
Dwi Suryo Abdullah (Foto: Istimewa)
Dwi Suryo Abdullah
Pemerhati Kelistrikan

SISTEM fotovoltaik (PV) dirancang untuk memenuhi kebutuhan energi listrik pada peralatan yang akan terhubung ke dalam sistem PV melalui panel surya yang dihasilkan selama memanen energi.

Banyak pendapat yang mengatakan bahwa memasang sistem PV dilakukan untuk menjaga kualitas oksigen di sekitar lingkungan kita dan untuk mengurangi biaya tagihan listrik. Namun, sedikit yang ragu dalam mengambil keputusan untuk memasang sistem PV di tempat usaha ataupun di rumahnya.

Beberapa hal yang menjadi pertimbangan dalam membangun sistem PV antara lain iklim, lingkungan, kebijakan pemerintah, ketersediaan produk lokal, kemampuan industri dalam negeri untuk memproduksi, kemampuan pendanaan, dan bentuk pengaturan tarif untuk sistem PV atap yang terhubung ke jaringan listrik (on grid system).

Merancang dan mengukur sistem PV adalah tahap paling penting dalam proyek PV karena berdasarkan pengalaman, kegagalan paling umum yang memengaruhi kinerja sistem PV berupa kegagalan modul PV pecah atau retak. Selain itu ada juga kasus rangka modul yang tidak kokoh sehingga mudah tertiup angin kencang, kerusakan pada area kabel dan sambungan. Masalah lain yang sering dijumpai adalah kerusakan pada inverter yang diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yakni masalah manufaktur dan desain, masalah kontrol, kegagalan komponen listrik, dan masalah penempatan panel inverter.



Untuk menghasilkan energi listrik yang maksimal diperlukan perancangan sistem PV secara menyeluruh tidak terbatas pada pemilihan material yang berkualitas, sudut kemiringan, dan arah posisi panel surya saja. Di samping itu, perlu dilakukan pengaturan hasil energi yang dikonversi oleh sistem, apakah akan dimanfaatkan langsung, disimpan ke dalam station baterai atau dikirim ke jaringan listrik yang tersedia untuk dititipkan (untuk on-grid system).

Energi listrik yang dihasilkan selama panel menyerap matahari harus disalurkan untuk dimanfaatkan. Ini karena jika tidak dimanfaatkan energi tersebut akan hilang. Ibaratnya, jika rumah kita memiliki genset namun tidak ada satu mili amper pun yang disalurkan ke peralatan listrik, berarti minyak bensin/solar yang dibakar akan sia-sia.

Maka, agar sistem PV yang terpasang di atap rumah/gedung/bangunan lainnya tidak sia-sia, perlu dilakukan pengelolaan energi yang dihasilkan sistem PV dengan cermat dan ini biasanya dimulai dari tahapan perencanaan.

Tidak sedikit orang mengeluh setelah memasang sistem PV di rumahnya karena tidak mengerti bahwa energi listrik yang dihasilkan oleh sistem PV yang dimiliki ternyata tidak maksimal untuk mengoperasikan peralatan yang ada. Artinya, masih terdapat sejumlah energi listrik yang hilang/terbuang sia-sia.

Karena itu, sebelum memasang sistem PV, lakukan identifikasi peralatan listrik yang ada di rumah yang beroperasi terus-menerus seperti kulkas, dispenser, rice cooker, mesin penyimpan susu sapi (peternak), server CCTV. Peralatan listrik seperti itulah yang diutamakan dipasok langsung dari sistem PV. Adapun peralatan listrik lainnya yang hanya dioperasikan/dihidupkan ketika dibutuhkan seperti lampu penerangan, televisi, kupas angin, air conditioner sebisa mungkin dibuat grup berbeda dengan peralatan listrik yang beroperasi terus-menerus. Ini agar pada saat memanen tenaga matahari (pagi sampai sore hari) energi listrik yang bersumber dari sistem PV dapat langsung dimanfaatkan.



Pemahaman inilah yang perlu diketahui lebih awal sebelum memutuskan pembelian dan pemasangan seperangkat sistem PV untuk meningkatkan keandalan pasokan listrik yang dibutuhkan di rumah atau tempat usaha seperti komunitas peternak sapi, puskesmas atau rumah sakit, pengusaha parkir, desa wisata.

Cara pemilahan penggunaan energi matahari ini juga diperlukan agar investasi yang dikeluarkan punya nilai tambah dan menguntungkan bila dibandingkan dengan pasokan listrik sebelumnya yang berasal dari energi fosil yang menghasilkan emisi gas karbon ke lingkungan.

Dalam rangka mendukung program pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), sudah seharusnya ada kebijakan khusus yang bisa mendukung agar biaya investasinya menjadi bisa lebih murah. Ini perlu karena PV merupakan salah satu upaya mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap bahan bakar fosil yang selama ini mendominasi dalam produksi listrik nasional.

Harapannya, negara juga bisa membangun dan memiliki industri fotovoltaik menjadi industri strategis yang melengkapi industri baterai yang telah digulirkan melalui Indonesia Battery Corporation (IBC).
(bmm)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top