Jokowi Diingatkan Reshuffle Kabinet Jangan Jadi Ajang Politik Balas Budi
Selasa, 27 April 2021 - 09:06 WIB
loading...
A
A
A
"Selama 6 bulan angka kepuasan kinerja Presiden pun cukup drastis turun, sekitar 9% dari 63,2% melorot ke 54,4%," sambung dia. Baca juga: Alumni HMI Pro Jokowi-Maruf Amin Dukung Reshuffle Kabinet
Menurut dia, sentimen publik yang buruk atas kinerja pemerintahan dan presiden tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama, katanya, publik merasa wakil presiden tidak bisa bekerja dengan baik, tingkat kepuasan kinerja wakil presiden hanya 35,4% sehingga sentimen ini menarik angka kinerja pemerintahan menjadi negatif. Kedua kinerja menteri yang juga dinilai kurang baik.
Dari surveinya itu, Prabowo Subianto adalah menteri yang menurut publik memiliki kinerja paling baik, meski angkanya pun kurang maksimal masih di bawah 70%, berkisar 55%.
Baca juga: Menanti Kabar Reshuffle Kabinet Jokowi, Ada Tarik Ulur Kepentingan?
"Trio isu yang menggerus pamor pemerintahan Jokowi berada dalam leading sector ekonomi yaitu harga kebutuhan pokok yang dinilai tinggi dan turunnya daya beli masyarakat, harga BBM yang juga dinilai tinggi, serta pengangguran yang terus meningkat akibat pandemi. Tiga isu itu berhasil membuat kinerja pemerintahan terjungkal dimata publik," bebernya.
Menurut dia, sentimen publik yang buruk atas kinerja pemerintahan dan presiden tentu dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yang pertama, katanya, publik merasa wakil presiden tidak bisa bekerja dengan baik, tingkat kepuasan kinerja wakil presiden hanya 35,4% sehingga sentimen ini menarik angka kinerja pemerintahan menjadi negatif. Kedua kinerja menteri yang juga dinilai kurang baik.
Dari surveinya itu, Prabowo Subianto adalah menteri yang menurut publik memiliki kinerja paling baik, meski angkanya pun kurang maksimal masih di bawah 70%, berkisar 55%.
Baca juga: Menanti Kabar Reshuffle Kabinet Jokowi, Ada Tarik Ulur Kepentingan?
"Trio isu yang menggerus pamor pemerintahan Jokowi berada dalam leading sector ekonomi yaitu harga kebutuhan pokok yang dinilai tinggi dan turunnya daya beli masyarakat, harga BBM yang juga dinilai tinggi, serta pengangguran yang terus meningkat akibat pandemi. Tiga isu itu berhasil membuat kinerja pemerintahan terjungkal dimata publik," bebernya.