Ketua DPD Sampaikan 2 Fokus Utama Jawab Tantangan Bonus Demografi
Kamis, 15 April 2021 - 14:27 WIB
loading...
A
A
A
"Indonesia harus mulai fokus kepada sektor atau komoditi yang memiliki keunggulan komparatif dan kompetitif yang tidak dimiliki negara lain. Misalnya, sektor pangan, yang meliputi pertanian, perkebunan, perternakan, perikanan dan kelautan," tuturnya.
Di samping itu, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menyebut jika sektor alam yang bisa dioptimalkan untuk destinasi pariwisata. Termasuk keunggulan kehutanan dan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, juga rempah dan tanaman obat-obatan. "Ini semua harus dijadikan target utama posisi tawar, sekaligus keunggulan Indonesia dalam menjawab bonus demografi. Sehingga mengubah tantangan menjadi peluang," jelasnya.
Dia menegaskan, ketahanan pangan adalah ketahanan masa depan. Perang antar negara di masa depan, bisa saja dipicu oleh persoalan kebutuhan pangan. "Maka, mindset atau pola pikir yang keliru tentang petani harus kita ubah dari sekarang. Terutama anggapan bahwa petani adalah seorang pekerja sektor informal dengan strata sosial di bawah," katanya.
Menurut dia, kesalahan inilah yang menjadi alasan sedikitnya jumlah petani muda Indonesia."Petani adalah entrepreneur. Mindset ini perlu ditanamkan dari sekarang. Bahwa petani adalah entrepreneur," katanya.Baca juga: Kisah 2 Balita Selamat dari Banjir Bandang NTT, Namun Kini Jadi Yatim Piatu
Di samping itu, alumnus Universitas Brawijaya Malang itu menyebut jika sektor alam yang bisa dioptimalkan untuk destinasi pariwisata. Termasuk keunggulan kehutanan dan keanekaragaman hayati, baik flora maupun fauna, juga rempah dan tanaman obat-obatan. "Ini semua harus dijadikan target utama posisi tawar, sekaligus keunggulan Indonesia dalam menjawab bonus demografi. Sehingga mengubah tantangan menjadi peluang," jelasnya.
Dia menegaskan, ketahanan pangan adalah ketahanan masa depan. Perang antar negara di masa depan, bisa saja dipicu oleh persoalan kebutuhan pangan. "Maka, mindset atau pola pikir yang keliru tentang petani harus kita ubah dari sekarang. Terutama anggapan bahwa petani adalah seorang pekerja sektor informal dengan strata sosial di bawah," katanya.
Menurut dia, kesalahan inilah yang menjadi alasan sedikitnya jumlah petani muda Indonesia."Petani adalah entrepreneur. Mindset ini perlu ditanamkan dari sekarang. Bahwa petani adalah entrepreneur," katanya.Baca juga: Kisah 2 Balita Selamat dari Banjir Bandang NTT, Namun Kini Jadi Yatim Piatu
(dam)
Lihat Juga :