Puasa: Menyadarkan Kita dari Ragam Pengkhianatan
Selasa, 13 April 2021 - 06:02 WIB
loading...
A
A
A
Ketika kita hendak turun ke muka bumi–sebelum ruh menyatu dengan jasad. Kita telah ber-MoU dengan Allah. Kita menyepakati untuk taat kepada-Nya tanpa syarat apapun. Kita pun dibekali akal-hati-nafsu dan ditampakkan ragam perniagaan dunia (Qs. Ali Imran [3]: 14).
Sesampainya di dunia. Tujuan utama sebagai khalifah di muka bumi yang taat kepada-Nya sirna beriringan dengan target-target duniawi yang hendak kita gapai. Ibadah wajib shalat misalnya, yang kita terima dalam sehari lima kali, kita lakukan menjadi lima hari sekali. Maka puasa ditetapkan sebagai wadah pengelupasan dan pengosongan. Kita diajak mengurangi kepenuhan perut dan menghindari kolesterol jahat yang kerap kita konsumsi. Agar ada peremajaan kembali sel-sel dalam tubuh.
Setelah terjadi peremajaan sel-sel tubuh, kita mulai sadar hakikat kita hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, terlepas perbedaannya apapun. Kita diajak untuk instrospeksi diri dan menanggalkan nilai kebendaan dan kekuasaan yang menghambat dari capaian derajat tertinggi. Sulitnya kita menggapai derajat tertinggi disebabkan perbudakan nafsu terus kita pelihara. Agama pun menjadi kehilangan misi utamanya: menjadikan agama sebagai rahmat bagi alam semesta. Perbudakan nafsu itu pun mengakibatkan kita khianat saat dua kalimat sahadat kita lantunkan melalui lidah yang bertulang itu.
Agama yang mestinya mengemban misi kasih sayang, kedamaian dan kewarasan, kini agama acap kali menjadi alat untuk menipu masyarakat. Membalut kepentingan kelompok dan pribadi, kemudian menyemburkan api permusuhan dan pembodohan disana-sini.
Lalu, dimanakah misi utama Nabi Muhammad SAW yang ditugaskan sebagai penyempurna akhlak jika kita penganutnya sibuk menjadikan warisannya hanya untuk kemasan pemasaran dan dalih politik? Manakala agama terus menerus dijadikan kemasan pemasaran, maka agama sebagai sumber perdamaian dan moralitas akan mengering. Kekeringan akan mengakibatkan fungsi akal-hati kehilangan warasnya dan nafsu mengambil nahkoda diri. Dan ini bisa menjadi sebab kedewasaan kita dalam bernegara hilang.
Sesampainya di dunia. Tujuan utama sebagai khalifah di muka bumi yang taat kepada-Nya sirna beriringan dengan target-target duniawi yang hendak kita gapai. Ibadah wajib shalat misalnya, yang kita terima dalam sehari lima kali, kita lakukan menjadi lima hari sekali. Maka puasa ditetapkan sebagai wadah pengelupasan dan pengosongan. Kita diajak mengurangi kepenuhan perut dan menghindari kolesterol jahat yang kerap kita konsumsi. Agar ada peremajaan kembali sel-sel dalam tubuh.
Setelah terjadi peremajaan sel-sel tubuh, kita mulai sadar hakikat kita hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, terlepas perbedaannya apapun. Kita diajak untuk instrospeksi diri dan menanggalkan nilai kebendaan dan kekuasaan yang menghambat dari capaian derajat tertinggi. Sulitnya kita menggapai derajat tertinggi disebabkan perbudakan nafsu terus kita pelihara. Agama pun menjadi kehilangan misi utamanya: menjadikan agama sebagai rahmat bagi alam semesta. Perbudakan nafsu itu pun mengakibatkan kita khianat saat dua kalimat sahadat kita lantunkan melalui lidah yang bertulang itu.
Agama yang mestinya mengemban misi kasih sayang, kedamaian dan kewarasan, kini agama acap kali menjadi alat untuk menipu masyarakat. Membalut kepentingan kelompok dan pribadi, kemudian menyemburkan api permusuhan dan pembodohan disana-sini.
Lalu, dimanakah misi utama Nabi Muhammad SAW yang ditugaskan sebagai penyempurna akhlak jika kita penganutnya sibuk menjadikan warisannya hanya untuk kemasan pemasaran dan dalih politik? Manakala agama terus menerus dijadikan kemasan pemasaran, maka agama sebagai sumber perdamaian dan moralitas akan mengering. Kekeringan akan mengakibatkan fungsi akal-hati kehilangan warasnya dan nafsu mengambil nahkoda diri. Dan ini bisa menjadi sebab kedewasaan kita dalam bernegara hilang.
Lihat Juga :