Puasa: Menyadarkan Kita dari Ragam Pengkhianatan

loading...
Puasa: Menyadarkan Kita dari Ragam Pengkhianatan
Muhammad Makmun Rasyid Dewan Pakar PW ISNU Gorontalo. Foto/ist
Muhammad Makmun Rasyid
Dewan Pakar PW ISNU Gorontalo

BETAPA sayang dan kasihnya Tuhan kepada hambanya. Meski segudang dosa dan noda kita lakukan, meski seperangkat pengkhianatan kita lakukan. Baik khianat kepada-Nya, kepada sesama manusia maupun kepada negara. Tuhan tak bosan-bosan memberikan kasih sayang-Nya hingga rahmat-Nya yang tak pernah putus. Bersyukurlah, kita diberikan kenikmatan untuk bergumul dan bercinta dengan bulan Ramadhan ini hingga kita dinyatakan fitri kembali.

Puasa pada hakikatnya merupakan wadah untuk kita agar mengelupaskan daki-daki yang menempel. Ditampakkan oleh-Nya pula sepotong kolam yang berair tenang, sehingga semua manusia melihat dirinya secara jelas. Di situ, semua dosa-dosa kita tampak jelas, namun tak kuasa menghapusnya. Kekurangan dan kealpaan tampak, layaknya kita berada di depan cermin yang bersih. Pengelupasan itu dipersyarat oleh-Nya sebelum mempertebal keimanan.

Tentu, terlebih dahulu kita diajak jeda dari kerutinan. Tidak saja jeda dari pengisian bahan bakar jasad, tapi memberhentikan ragam pengkhiatan yang terus dilakukan tanpa kesadaran sama sekali. Kegunaan puasa menjadi momen hibernasi demi memulihkan kesehatan akal-pikiran dan tindakan kita dalam beragama dan bernegara.

Tiga Janji Yang Kita Khianati



Ketika kita hendak turun ke muka bumi–sebelum ruh menyatu dengan jasad. Kita telah ber-MoU dengan Allah. Kita menyepakati untuk taat kepada-Nya tanpa syarat apapun. Kita pun dibekali akal-hati-nafsu dan ditampakkan ragam perniagaan dunia (Qs. Ali Imran [3]: 14).

Sesampainya di dunia. Tujuan utama sebagai khalifah di muka bumi yang taat kepada-Nya sirna beriringan dengan target-target duniawi yang hendak kita gapai. Ibadah wajib shalat misalnya, yang kita terima dalam sehari lima kali, kita lakukan menjadi lima hari sekali. Maka puasa ditetapkan sebagai wadah pengelupasan dan pengosongan. Kita diajak mengurangi kepenuhan perut dan menghindari kolesterol jahat yang kerap kita konsumsi. Agar ada peremajaan kembali sel-sel dalam tubuh.

Setelah terjadi peremajaan sel-sel tubuh, kita mulai sadar hakikat kita hidup yang saling membutuhkan satu sama lain, terlepas perbedaannya apapun. Kita diajak untuk instrospeksi diri dan menanggalkan nilai kebendaan dan kekuasaan yang menghambat dari capaian derajat tertinggi. Sulitnya kita menggapai derajat tertinggi disebabkan perbudakan nafsu terus kita pelihara. Agama pun menjadi kehilangan misi utamanya: menjadikan agama sebagai rahmat bagi alam semesta. Perbudakan nafsu itu pun mengakibatkan kita khianat saat dua kalimat sahadat kita lantunkan melalui lidah yang bertulang itu.

Agama yang mestinya mengemban misi kasih sayang, kedamaian dan kewarasan, kini agama acap kali menjadi alat untuk menipu masyarakat. Membalut kepentingan kelompok dan pribadi, kemudian menyemburkan api permusuhan dan pembodohan disana-sini.

Lalu, dimanakah misi utama Nabi Muhammad SAW yang ditugaskan sebagai penyempurna akhlak jika kita penganutnya sibuk menjadikan warisannya hanya untuk kemasan pemasaran dan dalih politik? Manakala agama terus menerus dijadikan kemasan pemasaran, maka agama sebagai sumber perdamaian dan moralitas akan mengering. Kekeringan akan mengakibatkan fungsi akal-hati kehilangan warasnya dan nafsu mengambil nahkoda diri. Dan ini bisa menjadi sebab kedewasaan kita dalam bernegara hilang.



Dua pengkhianatan di atas menghantarkan seseorang pula berkhianat kepada negara. Konsensus dan kesepakatan yang telah dibangun dengan keringat dan darah, dilupakan begitu saja dengan tawaran baru yang digaungkan sebagai kecap agama nomor satu. Di saat para pendiri bangsa dengan sangat cemerlang mampu menyepakati dasar negara sesuai karakter bangsa, tiba-tiba datang sekelompok yang tidak pernah berjuang untuk nusa-bangsa, teriak nyaring bak juru bicara Tuhan dan agama. Mereka tidak lagi menambal dan menjahit baju yang robek, melainkan ingin membuat baju baru khas kelompoknya.

Usaha pendiri bangsa yang menyingkirkan ego sentris dan agama yang dianutnya, kemudian mereka meracik secara sempurna dan solutif sebagai bekal generasi setelahnya, mengambil jalan tengah dari jalur ekstrim (negara agama dan liberal-sekuler), kini oleh anak-anak baru lahir digugat karena tidak selaras dengan kepentingan amir dan tokohnya.

Di sinilah jeda Ramadhan memberi momentum refleksi diri: sebagai hamba Tuhan, penganut agama dan rakyat Indonesia. Sekiranya semua di antara kita berpuasa sungguhan, gumpalan penyakit dalam diri akan berguguran bak dedaunan jatuh luruh. Kita pun kembali segar setelah sebulan penuh membakar keakuan dan tersungkur sujud di setiap penghujung malam. Marilah kita kembali sebagai hamba yang taat kepada Allah, kepada agama dan kepada negara. Jika terus menerus ketiganya kita langgar dan khianati, maka apalah artinya rutinitas puasa kita lakukan?
(cip)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top