Fenomena Teroris Lone Wolf, Pakar: Ada Motif Teologis yang Sangat Kuat
Jum'at, 02 April 2021 - 23:00 WIB
loading...
A
A
A
Motif teologis inilah yang yang sangat menggugah serta mempengaruhi banyak anak muda atau kaum milenial yang selama ini merasa bahwa pintu jihad belum pernah dibuka oleh satu gerakan agama manapun.
Celakanya, kondisi tersebut diperparah dengan kehadiran jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan juga kelompok-kelompok teroris lainnya yang merasa yakin dan berani memberikan jaminan untuk mendapatkan syahid. “Maka inilah yang paling ditunggu-tunggu karena tidak selamanya kesempatan untuk mendapatkan syahid terbuka lebar,” terangnya.
Kehadiran Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan juga organisasi-organisasi teroris lainnya dimanfaatkan oleh mereka dan dianggap sebagai momentum yang sayang jika dilewatkan. Baca juga: Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Bersatu Lawan Terorisme
Dedy melanjutkan kaum muda milenial mudah sekali dipengaruhi atau diindoktrinasi oleh gerakan-gerakan teroris karena mereka pada dasarnya adalah orang baru yang tidak memiliki cukup ilmu agama dan sedang berada di dalam situasi kekeringan spiritual yang akut.
Hal itu dimanfaatkan para ulama organik kekerasan dari jaringan teroris untuk menyebarkan ilmu agama secara gratis dan praktis dengan rujukan-rujukan yang yang jelas dan tegas melalui media sosial.
Tentunya penafsiran yang dilakukan oleh para ulama organik kekerasan ini adalah tafsir yang berasal dari kelompok keagamaan yang cenderung tekstual dan skripturalis. “Penafsiran tunggal ini dipahami oleh anak muda milenial, hingga masuk ke dalam jebakan kelompok teroris,” ujar Dedy.
Tafsir tunggal ini kemudian memonopoli seluruh pemahaman world view kaum muda milenial yang direkrut melalui media sosial. “Monopoli penafsiran tunggal yang disebarkan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah adalah monopoli ala Wahabi Takfiri yang sering mengkafirkan dan membid'ahkan orang-orang Muslim dan juga mereka menanamkan sikap kebencian kepada agama Kristen atau agama non muslim lainnya,” kata Dedy.
Celakanya, kondisi tersebut diperparah dengan kehadiran jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan juga kelompok-kelompok teroris lainnya yang merasa yakin dan berani memberikan jaminan untuk mendapatkan syahid. “Maka inilah yang paling ditunggu-tunggu karena tidak selamanya kesempatan untuk mendapatkan syahid terbuka lebar,” terangnya.
Kehadiran Jamaah Ansharut Daulah (JAD) dan juga organisasi-organisasi teroris lainnya dimanfaatkan oleh mereka dan dianggap sebagai momentum yang sayang jika dilewatkan. Baca juga: Presiden Jokowi Ajak Masyarakat Bersatu Lawan Terorisme
Dedy melanjutkan kaum muda milenial mudah sekali dipengaruhi atau diindoktrinasi oleh gerakan-gerakan teroris karena mereka pada dasarnya adalah orang baru yang tidak memiliki cukup ilmu agama dan sedang berada di dalam situasi kekeringan spiritual yang akut.
Hal itu dimanfaatkan para ulama organik kekerasan dari jaringan teroris untuk menyebarkan ilmu agama secara gratis dan praktis dengan rujukan-rujukan yang yang jelas dan tegas melalui media sosial.
Tentunya penafsiran yang dilakukan oleh para ulama organik kekerasan ini adalah tafsir yang berasal dari kelompok keagamaan yang cenderung tekstual dan skripturalis. “Penafsiran tunggal ini dipahami oleh anak muda milenial, hingga masuk ke dalam jebakan kelompok teroris,” ujar Dedy.
Tafsir tunggal ini kemudian memonopoli seluruh pemahaman world view kaum muda milenial yang direkrut melalui media sosial. “Monopoli penafsiran tunggal yang disebarkan oleh kelompok Jamaah Ansharut Daulah adalah monopoli ala Wahabi Takfiri yang sering mengkafirkan dan membid'ahkan orang-orang Muslim dan juga mereka menanamkan sikap kebencian kepada agama Kristen atau agama non muslim lainnya,” kata Dedy.
Lihat Juga :