Tenaga Surya Dinilai Lebih Aman Dibandingkan Nuklir
Senin, 29 Maret 2021 - 14:20 WIB
loading...
A
A
A
"Vietnam sudah tanda tangan dengan Rosatom, Rusia tahun 2012 tapi tahun itu juga dia batalkan dan berpaling ke energi terbarukan. Sekarang malah mampu membangun PLTS 2.000 MW per tahun dan mulai memproduksi hulu ke hilir PLTS," ujar Dwi.
Prioritas terakhir Indonesia sendiri, kata Dwi, sudah mempertimbangkan nuklir di masa depan melalui PP 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Perpres 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUES). Dalam kedua payung hukum tersebut sudah jelas bahwa Indonesia punya target 31% energi baru dan terbarukan di tahun 2050 termasuk nuklir di dalamnya.
Kendati demikian, penggunaan nuklir masuk sebagai prioritas terakhir. "Prioritas pembangunan energi nasional sesuai KEN dan RUEN yang pertama maksimumkan pemanfaatan energi terbarukan. Lalu, kedua minimumkan penggunaan minyak, mengoptimalkan penggunaan gas bumi, batubara sebagai andalan pasokan energi nasional (penyeimbang), dan yang kelima energi nuklir sebagai pilihan terakhir," kata Dwi.
Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data Dirjen EBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per Maret 2021, potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 417,8 GW.
Namun, yang sudah termanfaatkan baru 2,5%. Potensi tersebut masing-masing dari PLTA 75 GW (baru dimanfaatkan 7%), PLTS 207 GW (0.04%), PLTP 23,9 GW (5,6%), PLTB 60,6 GW (0.002%), Biomas 32,6 GW (5,5%), PLTL 17,9 GW, ditambah Biofuel/Biogas. Target bauran energi baru terbarukan kalau dikonversi sebesar 45,2 Gigawatt pada tahun 2025 dan 167.7 GW tahun 2050.
Baca juga: Kemlu: 4.050 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri
Prioritas terakhir Indonesia sendiri, kata Dwi, sudah mempertimbangkan nuklir di masa depan melalui PP 79/2014 tentang Kebijakan Energi Nasional (KEN) dan Perpres 22/2017 tentang Rencana Umum Energi Nasional (RUES). Dalam kedua payung hukum tersebut sudah jelas bahwa Indonesia punya target 31% energi baru dan terbarukan di tahun 2050 termasuk nuklir di dalamnya.
Kendati demikian, penggunaan nuklir masuk sebagai prioritas terakhir. "Prioritas pembangunan energi nasional sesuai KEN dan RUEN yang pertama maksimumkan pemanfaatan energi terbarukan. Lalu, kedua minimumkan penggunaan minyak, mengoptimalkan penggunaan gas bumi, batubara sebagai andalan pasokan energi nasional (penyeimbang), dan yang kelima energi nuklir sebagai pilihan terakhir," kata Dwi.
Potensi energi terbarukan di Indonesia sangat besar. Berdasarkan data Dirjen EBTKE (Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral per Maret 2021, potensi energi terbarukan Indonesia mencapai 417,8 GW.
Namun, yang sudah termanfaatkan baru 2,5%. Potensi tersebut masing-masing dari PLTA 75 GW (baru dimanfaatkan 7%), PLTS 207 GW (0.04%), PLTP 23,9 GW (5,6%), PLTB 60,6 GW (0.002%), Biomas 32,6 GW (5,5%), PLTL 17,9 GW, ditambah Biofuel/Biogas. Target bauran energi baru terbarukan kalau dikonversi sebesar 45,2 Gigawatt pada tahun 2025 dan 167.7 GW tahun 2050.
Baca juga: Kemlu: 4.050 WNI Positif Covid-19 di Luar Negeri
(dam)
Lihat Juga :