Menaker Ida Takjub dengan Desain Karya Siswa BBPLK Semarang di Ajang Muslim Fashion Festival 2021
Kamis, 18 Maret 2021 - 20:51 WIB
loading...
Menaker Ida Fauziyah takjub dengan hasil desain karya siswa Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang bernama Putri Intan Sukmawati.
A
A
A
JAKARTA - Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah takjub dengan hasil desain karya siswa Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BBPLK) Semarang bernama Putri Intan Sukmawati. Hal ini disampaikannya saat menghadiri pameran Muslim Fashion Festival (Muffest) 2021 dengan tema 'Recovering Industry with Slow Fashion', di Jakarta, Kamis (18/3/2021).
Desain karya Putri Intan kali ini bertema 'Harmony Of Sahra" yang bermakna sahara mengungkapkan gurun pasir yang tandus, mengilustrasikan kondisi di tengah pandemi Covid-19. Melalui desain ini para perancang busana diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi pandemi.
Menaker Ida mengatakan, akibat pandemi Covid-19 pelaku fesyen Indonesia mengalami penurunan penjualan sekitar 70 persen, yang berdampak pada kehidupan seluruh pengusaha dan pekerja fesyen di Indonesia.
"Bagi para fashion designer, era ini harus dijadikan sebagai sebuah tantangan, para fashion designer harus menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk berkreasi dan berinovasi, berkolaborasi, dan beradaptasi," katanya.
Dia menuturkan, sebagai bentuk dukungan saat ini pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperbanyak program pengembangan usaha rintisan (start up) untuk menumbuhkan usaha kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi produk-produk fesyen unggulan.
"Hal ini merupakan bentuk komitmen kami untuk membantu mengembangkan dunia fashion lebih luas lagi dan agar dapat memberikan dampak yang lebih besar ke seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.
Melalui event ini, diharapkan industri fesyen bagi masyarakat muslim dapat tetap bergerak dan ide-ide kreatif para pelaku industri fashion tetap dapat diserap pasar dan menggerakkan roda ekonomi Indonesia di masa pandemi.
Desain karya Putri Intan kali ini bertema 'Harmony Of Sahra" yang bermakna sahara mengungkapkan gurun pasir yang tandus, mengilustrasikan kondisi di tengah pandemi Covid-19. Melalui desain ini para perancang busana diharapkan dapat beradaptasi dengan situasi pandemi.
Menaker Ida mengatakan, akibat pandemi Covid-19 pelaku fesyen Indonesia mengalami penurunan penjualan sekitar 70 persen, yang berdampak pada kehidupan seluruh pengusaha dan pekerja fesyen di Indonesia.
"Bagi para fashion designer, era ini harus dijadikan sebagai sebuah tantangan, para fashion designer harus menjadikan kondisi ini sebagai momentum untuk berkreasi dan berinovasi, berkolaborasi, dan beradaptasi," katanya.
Dia menuturkan, sebagai bentuk dukungan saat ini pihaknya terus bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memperbanyak program pengembangan usaha rintisan (start up) untuk menumbuhkan usaha kecil dan menengah (UMKM) yang memproduksi produk-produk fesyen unggulan.
"Hal ini merupakan bentuk komitmen kami untuk membantu mengembangkan dunia fashion lebih luas lagi dan agar dapat memberikan dampak yang lebih besar ke seluruh lapisan masyarakat," ujarnya.
Melalui event ini, diharapkan industri fesyen bagi masyarakat muslim dapat tetap bergerak dan ide-ide kreatif para pelaku industri fashion tetap dapat diserap pasar dan menggerakkan roda ekonomi Indonesia di masa pandemi.
Lihat Juga :