Menanti Segera Kabar Haji dari Saudi
Rabu, 17 Maret 2021 - 06:50 WIB
loading...
A
A
A
Di tengah harapan besar dan situasi yang belum pasti ini, Pemerintah Indonesia perlu mengantisipasi betul dengan berbagai persiapan dan skenario yang matang. Dari semua mitigasi yang dilakukan itu, tentunya harus bertumpu pada kerangka besar, yakni terwujudnya penyelenggaraan ibadah haji yang memenuhi aturan syariat plus tidak membahayakan keselamatan jiwa jamaah.
Kemenag sebagai penyelenggara harus mematangkan prosedur baru baik sejak jamaah di Tanah Air, di Tanah Suci, dan kembali ke Indonesia. Tatanan anyar ini adalah sebuah keniscayaan karena pemberangkatan dan pemulangan tak lagi dilakukan seperti kondisi biasa. Risiko munculnya prosedur baru seperti pembatasan kuota jamaah, layanan transportasi, dan katering bisa jadi akan berefek pada anggaran yang membengkak. Fluktuasi-fluktuasi ini harus segera dikoordinasikan dengan otoritas terkait seperti Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) ataupun DPR. Tentu semangatnya agar haji nanti benar-benar aman baik administratif maupun penyelenggaraan.
Demikian pula, Kementerian Kesehatan juga harus mengupayakan agar jamaah bisa tetap bugar dan sehat. Tugas-tugas ini tidak mudah. Tapi, kita harus yakin, ketika keran haji nanti benar-benar dibuka Saudi meski dengan waktu persiapan yang sangat mepet, maka Pemerintah Indonesia tidak akan kelimpungan.
Sangat mungkin, Saudi begitu ingin persiapan haji 2021 dilaksanakan sesempurna mungkin. Mereka ingin prestasi yang tertoreh pada 2020 akan ditingkatkan lagi dengan kapasitas jamaah lebih besar. Dengan asumsi ini, maka belum juga diumumkannya gelaran rukun Islam kelima hingga empat bulan jelang puncak haji ini adalah bagian strategi Saudi membuat persiapan yang sangat komprehensif.
Apapun yang disiapkan Saudi, semua negara termasuk Indonesia saat ini begitu menunggu kabar baik dari Tanah Suci. Semakin cepat diumumkan, maka jelas persiapan bakal semakin matang.
Kemenag sebagai penyelenggara harus mematangkan prosedur baru baik sejak jamaah di Tanah Air, di Tanah Suci, dan kembali ke Indonesia. Tatanan anyar ini adalah sebuah keniscayaan karena pemberangkatan dan pemulangan tak lagi dilakukan seperti kondisi biasa. Risiko munculnya prosedur baru seperti pembatasan kuota jamaah, layanan transportasi, dan katering bisa jadi akan berefek pada anggaran yang membengkak. Fluktuasi-fluktuasi ini harus segera dikoordinasikan dengan otoritas terkait seperti Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) ataupun DPR. Tentu semangatnya agar haji nanti benar-benar aman baik administratif maupun penyelenggaraan.
Demikian pula, Kementerian Kesehatan juga harus mengupayakan agar jamaah bisa tetap bugar dan sehat. Tugas-tugas ini tidak mudah. Tapi, kita harus yakin, ketika keran haji nanti benar-benar dibuka Saudi meski dengan waktu persiapan yang sangat mepet, maka Pemerintah Indonesia tidak akan kelimpungan.
Sangat mungkin, Saudi begitu ingin persiapan haji 2021 dilaksanakan sesempurna mungkin. Mereka ingin prestasi yang tertoreh pada 2020 akan ditingkatkan lagi dengan kapasitas jamaah lebih besar. Dengan asumsi ini, maka belum juga diumumkannya gelaran rukun Islam kelima hingga empat bulan jelang puncak haji ini adalah bagian strategi Saudi membuat persiapan yang sangat komprehensif.
Apapun yang disiapkan Saudi, semua negara termasuk Indonesia saat ini begitu menunggu kabar baik dari Tanah Suci. Semakin cepat diumumkan, maka jelas persiapan bakal semakin matang.
(bmm)
Lihat Juga :