Tokoh Masyarakat Pulau Buru Dorong Pembangunan PLTMG Kembali Dilanjutkan
Selasa, 16 Maret 2021 - 19:31 WIB
loading...
A
A
A
"Keterbatasan listrik dan pendidikan. Ada sekolah, tapi jauh dan tutup karena pandemi. Yang bisa sekolah, yang punya HP. Jual pala, cengkeh. Tapi tak bisa digunakan karena tak ada listrik. Terutama yang di pegunungan," kata Talim Wamnebo.
Baca juga: DPD Soroti Penyebab Terbengkalainya Proyek PLTMG di Maluku
Talim mendesak agar PLN segera merampungkan pembangunan PLTMG. "Tak hanya itu, masyarakat nelayan juga kurang infrastruktur. Tak ada Cold Storage yang bisa untuk menyimpan es. Ikan akhirnya dibuang karena busuk," katanya.
Milton Mauritz, perwakilan tokoh Buru Selatan yang juga sebagai tokoh masyarakat Buru di Jabodetabek, mengungkapkan, krisis listrik di Pulau Buru merupakan perlu perhatian khusus dan pihaknya mendorong agar pembangunan proyek PLTMG tersebut untuk segera dapat menikmati manfaatnya.
"Pertemuan dengan Deputi I KSP, pembangunan PLTMG tertunda, kami sampaikan, saat ini di Pulau Buru, krisis listrik. Lebih banyak padam lampunya daripada nyala. Kami memohon kepada KSP, kami mendorong KSP, persoalan ini harus dipandang serius. Karena masyarakat Buru menunggu proyek yang amat baik dan sangat bermanfaat amat besar," ungkap Milton.
Di waktu yang sama, Sutomo, tokoh transmigran yang sejak 1981, asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyatakan agar masyarakat di Pulau Buru dapat menikmati kemajuan infrastruktur listrik yang selama ini terkendala. "Pengeringan padi, terlambat. Penetapan telur juga banyak matinya. Ya karena banyak padamnya listrik itu. Beli genset terlalu mahal," ungkap dia.
Begitu juga dengan Ibrahim Wael sebagai raja sangat antusias dan masyarakat senang atas pembangunan PLTMG di Pulau Buru. Hanya, pihaknya menyanyangkan terkait adanya persoalan tanah dan masalah hukum yang membuat pihaknya merasa bingung.
Baca juga: DPD Soroti Penyebab Terbengkalainya Proyek PLTMG di Maluku
Talim mendesak agar PLN segera merampungkan pembangunan PLTMG. "Tak hanya itu, masyarakat nelayan juga kurang infrastruktur. Tak ada Cold Storage yang bisa untuk menyimpan es. Ikan akhirnya dibuang karena busuk," katanya.
Milton Mauritz, perwakilan tokoh Buru Selatan yang juga sebagai tokoh masyarakat Buru di Jabodetabek, mengungkapkan, krisis listrik di Pulau Buru merupakan perlu perhatian khusus dan pihaknya mendorong agar pembangunan proyek PLTMG tersebut untuk segera dapat menikmati manfaatnya.
"Pertemuan dengan Deputi I KSP, pembangunan PLTMG tertunda, kami sampaikan, saat ini di Pulau Buru, krisis listrik. Lebih banyak padam lampunya daripada nyala. Kami memohon kepada KSP, kami mendorong KSP, persoalan ini harus dipandang serius. Karena masyarakat Buru menunggu proyek yang amat baik dan sangat bermanfaat amat besar," ungkap Milton.
Di waktu yang sama, Sutomo, tokoh transmigran yang sejak 1981, asal Banyuwangi, Jawa Timur, menyatakan agar masyarakat di Pulau Buru dapat menikmati kemajuan infrastruktur listrik yang selama ini terkendala. "Pengeringan padi, terlambat. Penetapan telur juga banyak matinya. Ya karena banyak padamnya listrik itu. Beli genset terlalu mahal," ungkap dia.
Begitu juga dengan Ibrahim Wael sebagai raja sangat antusias dan masyarakat senang atas pembangunan PLTMG di Pulau Buru. Hanya, pihaknya menyanyangkan terkait adanya persoalan tanah dan masalah hukum yang membuat pihaknya merasa bingung.
Lihat Juga :