‘Dari Sungai Sampah Plastik Mengalir Sampai Jauh…’
Senin, 15 Maret 2021 - 14:25 WIB
loading...
A
A
A
Dia memahami betapa berbahaya ancaman mikroplastik, baik terhadap kondisi air sungai yang menjadi sumber air minum warga, terhadap kualitas tangkapan nelayan, maupun terhadap kesehatan masyarakat yang mengonsumsi kerang dan ikan laut yang tercemar plastik. Karena itu, Chlara berharap pemerintah lebih mengoptimalkan pengolahan sampah. Layanan penanganan sampah disebutnya tidak harus tersentralisasi, melainkan perlu terdesentralisasi.
“Kami bersama PPKS menemukan 313 timbulan sampah di sepanjang aliran Kali Surabaya. Dari temuan ini membuktikan masih belum tercakupnya layanan pengeolaan sampah ke wilayah yang dekat sungai. Kami juga mendapatkan data bahwa sekitar 30% wilayah Gresik belum tercakup pelayanan sampah termasuk wilayah yang dilewati Kali Surabaya,” paparnya.
Baca Juga:( Mengerikan, Lingkungan dan Biota Laut di Selat Madura Terpapar Mikroplastik )
Dia juga meminta perlu sosialisasi yang masif ke masyarakat terkait penggunaan plastik agar tidak hanya sekali pakai. Juga perlu regulasi untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai seperti yang sudah berlaku di Bali, Jakarta, Semarang dan kota lain.
Di lain sisi, perusahaan yang menghasilkan produk sampah plastik juga diminta bertanggung jawab. Menurt dia, extended producer resposiblity (EPR) atau tanggung jawab produsen secara berkelanjutan harus diwujudkan.
“Misalnya, produsen kasih drop point sampah dan mengatur bahwa ini khusus untuk sampah milik perusahaan A atau B, dan nanti masyarakat tinggal memasukkan. Atau menyediakan refill untuk produk minuman yang bisa diisi ulang agar penggunaan kemasan plastik bisa diminimalkan,” ujarnya.
Juga perlu redesain produk agar tidak sekali pakai. Contohnya selama ini kemasan sachet yang paling banyak digunakan masyarakat sedangkan penggunaan langsung kurang diminati padahal itu minim sampah, lebih murah, dan kemasannya bisa dijual kembali.
“Kami bersama PPKS menemukan 313 timbulan sampah di sepanjang aliran Kali Surabaya. Dari temuan ini membuktikan masih belum tercakupnya layanan pengeolaan sampah ke wilayah yang dekat sungai. Kami juga mendapatkan data bahwa sekitar 30% wilayah Gresik belum tercakup pelayanan sampah termasuk wilayah yang dilewati Kali Surabaya,” paparnya.
Baca Juga:( Mengerikan, Lingkungan dan Biota Laut di Selat Madura Terpapar Mikroplastik )
Dia juga meminta perlu sosialisasi yang masif ke masyarakat terkait penggunaan plastik agar tidak hanya sekali pakai. Juga perlu regulasi untuk melarang penggunaan plastik sekali pakai seperti yang sudah berlaku di Bali, Jakarta, Semarang dan kota lain.
Di lain sisi, perusahaan yang menghasilkan produk sampah plastik juga diminta bertanggung jawab. Menurt dia, extended producer resposiblity (EPR) atau tanggung jawab produsen secara berkelanjutan harus diwujudkan.
“Misalnya, produsen kasih drop point sampah dan mengatur bahwa ini khusus untuk sampah milik perusahaan A atau B, dan nanti masyarakat tinggal memasukkan. Atau menyediakan refill untuk produk minuman yang bisa diisi ulang agar penggunaan kemasan plastik bisa diminimalkan,” ujarnya.
Juga perlu redesain produk agar tidak sekali pakai. Contohnya selama ini kemasan sachet yang paling banyak digunakan masyarakat sedangkan penggunaan langsung kurang diminati padahal itu minim sampah, lebih murah, dan kemasannya bisa dijual kembali.
Lihat Juga :