Perempuan Benteng Hadapi Krisis Pandemi
Senin, 08 Maret 2021 - 05:29 WIB
loading...
A
A
A
Berkaitan dengan peringatan Hari Perempuan Sedunia atau International Women’s Day pada hari ini, 8 Maret 2021, Emy mengajak semua pihak untuk berefleksi. Bagi perempuan, kata dia, perlu merefleksi apa yang sudah dikerjakan, dan apa yang bisa dilakukan di masa sulit ini. “Untuk pihak lain, kami imbau berilah dukungan kepada perempuan,” tandasnya.
Pemberdayaan lewat UMKM
Peneliti Indef Mirah Midadan mengakui kontribusi perempuan di masa pandemi ini sebenarnya sudah terlihat dan bermanfaat dalam membantu ketahanan keluarga di masa sulit. Dia antara lain mencontohkan aktivitas ibu rumah tangga yang memanfaatkan skill-nya dalam memasak dengan berjualan kue atau makanan rumahan secara daring. Inisiatif seperti itu diakui mampu membantu ketahanan keluarga yang goyah karena pandemi.
“Di sinilah peran perempuan sangat dibutuhkan untuk dapat berkontribusi ‘menambal’ kekosongan dengan seluruh skill dan kreativitas yang dimilikinya,” ujarnya saat dihubungi Sabtu, (6/3) .
Mirah menyebut perempuan sebagai makhluk yang serba bisa sehingga terbiasa melakukan beberapa aktivitas secara bersamaan (multitasking). Dengan modal tersebut, kata dia, setiap perempuan Indonesia mempunyai banyak potensi dalam dirinya yang dapat dikembangkan.
Meski perempuan memiliki banyak beban di masa pandemi, namun situasi sulit itu bisa dilihat sebagai peluang untuk dapat mengeksplorasi dirinya terlibat dalam pemberdayaan perempuan khususnya penyelamatan perekonomian.
“Tidak perlu terlalu jauh menghitung peran perempuan untuk ekonomi nasional. Dengan perempuan diberdayakan untuk dapat menjaga ketahanan keluarganya, itu sudah sangat baik di tengah ketidakpastian saat ini,” katanya.
Untuk membangkitkan UMKM yang digerakkan oleh perempuan, Mirah berharap ada bimbingan, edukasi, sharing pengalaman soal pengelolaan bisnis yang baik dan buruk sehingga mereka dapat menghindari usaha dari pelaku UMKM, khususnya perempuan, kolaps. Selain itu, setelah dibimbing juga perlu terus dipantau perkembangannya.
Pemberdayaan UMKM, menurut dia, sangat bisa dilakukan oleh perguruan tinggi, atau melalui program CSR perusahaan, atau bahkan kerja sama dengan organisasi luar negeri yang berfokus pada isu women empowerment dan gender equality. ”Jadi tidak melulu harus menunggu pemerintah untuk turun tangan langsung,” katanya.
Adapun program pemerintah untuk pemberdayaan perempuan yang diakui cukup baik adalah Kartu Prakerja. Namun dia mengingatkan bahwa efektivitasnya hanya akan terjadi jika model pelatihan yang diambil dapat langsung diterapkan untuk membantu perempuan survive di tengah pandemi.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Agustina Erni mengatakan, umumnya perempuan mengalami beban ganda sata pandemi. Tidak hanya mengurus keluarga, mengajari anak belajar, tetapi juga ikut membantu mencari nafkah.
Ironisnya, beban juga ditambah lagi dengan kekerasan yang acapkali dialami perempuan dan anak. Hal itu diketahui berdasarkan laporan aduan yang masuk ke kementerian. Menurut Erni, kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu yang kompleks dan multisektoral.
Baca juga: Menteri PPPA: Perusahaan Harus Mampu Terapkan Kesetaraan Gender
Pemberdayaan lewat UMKM
Peneliti Indef Mirah Midadan mengakui kontribusi perempuan di masa pandemi ini sebenarnya sudah terlihat dan bermanfaat dalam membantu ketahanan keluarga di masa sulit. Dia antara lain mencontohkan aktivitas ibu rumah tangga yang memanfaatkan skill-nya dalam memasak dengan berjualan kue atau makanan rumahan secara daring. Inisiatif seperti itu diakui mampu membantu ketahanan keluarga yang goyah karena pandemi.
“Di sinilah peran perempuan sangat dibutuhkan untuk dapat berkontribusi ‘menambal’ kekosongan dengan seluruh skill dan kreativitas yang dimilikinya,” ujarnya saat dihubungi Sabtu, (6/3) .
Mirah menyebut perempuan sebagai makhluk yang serba bisa sehingga terbiasa melakukan beberapa aktivitas secara bersamaan (multitasking). Dengan modal tersebut, kata dia, setiap perempuan Indonesia mempunyai banyak potensi dalam dirinya yang dapat dikembangkan.
Meski perempuan memiliki banyak beban di masa pandemi, namun situasi sulit itu bisa dilihat sebagai peluang untuk dapat mengeksplorasi dirinya terlibat dalam pemberdayaan perempuan khususnya penyelamatan perekonomian.
“Tidak perlu terlalu jauh menghitung peran perempuan untuk ekonomi nasional. Dengan perempuan diberdayakan untuk dapat menjaga ketahanan keluarganya, itu sudah sangat baik di tengah ketidakpastian saat ini,” katanya.
Untuk membangkitkan UMKM yang digerakkan oleh perempuan, Mirah berharap ada bimbingan, edukasi, sharing pengalaman soal pengelolaan bisnis yang baik dan buruk sehingga mereka dapat menghindari usaha dari pelaku UMKM, khususnya perempuan, kolaps. Selain itu, setelah dibimbing juga perlu terus dipantau perkembangannya.
Pemberdayaan UMKM, menurut dia, sangat bisa dilakukan oleh perguruan tinggi, atau melalui program CSR perusahaan, atau bahkan kerja sama dengan organisasi luar negeri yang berfokus pada isu women empowerment dan gender equality. ”Jadi tidak melulu harus menunggu pemerintah untuk turun tangan langsung,” katanya.
Adapun program pemerintah untuk pemberdayaan perempuan yang diakui cukup baik adalah Kartu Prakerja. Namun dia mengingatkan bahwa efektivitasnya hanya akan terjadi jika model pelatihan yang diambil dapat langsung diterapkan untuk membantu perempuan survive di tengah pandemi.
Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Agustina Erni mengatakan, umumnya perempuan mengalami beban ganda sata pandemi. Tidak hanya mengurus keluarga, mengajari anak belajar, tetapi juga ikut membantu mencari nafkah.
Ironisnya, beban juga ditambah lagi dengan kekerasan yang acapkali dialami perempuan dan anak. Hal itu diketahui berdasarkan laporan aduan yang masuk ke kementerian. Menurut Erni, kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu yang kompleks dan multisektoral.
Baca juga: Menteri PPPA: Perusahaan Harus Mampu Terapkan Kesetaraan Gender
Lihat Juga :