Eijkman Sebut Kasus Covid-19 Mutasi B117 Masuk Indonesia Beberapa Minggu Lalu

loading...
Eijkman Sebut Kasus Covid-19 Mutasi B117 Masuk Indonesia Beberapa Minggu Lalu
Eijkman Sebut Kasus Covid-19 Mutasi B117 Masuk Indonesia Beberapa Minggu Lalu. Ilustrasi/SINDOnews
JAKARTA - Kepala Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Amin Soebandrio mengungkapkan kasus Covid-19 dari mutasi B117 di Indonesia masuk sejak beberapa minggu lalu. Namun, sampai kemarin baru terdeteksi dua kasus.

"Sebetulnya kasusnya datang di Indonesia ya beberapa minggu yang lalu tapi karena dari berbagai prosedur sehingga baru terdeteksi ada dua kasus," kata Amin dalam keterangannya, Rabu (3/3/2021).

Sebelumnya tepat pada peringatan satu tahun pandemi Covid-19, Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono mengumumkan dua kasus mutasi Covid-19 strain B177 dari Inggris ini.

Baca juga: Mutasi Covid-19 dari Inggris Masuk Indonesia, Epidemiolog: Kecepatan Penularan Lebih Tinggi


Amin mengatakan, sejak beberapa minggu lalu pihaknya bersama Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional dengan Litbangkes Kementerian Kesehatan bekerja sama memperkuat surveilans untuk proses whole genome sequencing (WGS) dalam menemukan virus Covid-19 varian baru dari berbagai negara.

"Tapi memang sejak beberapa minggu yang lalu, kami bersama dengan Kemenristek dan Litbangkes Kemenkes itu sudah menunjuk satu tim untuk memperkuat surveilans, untuk mencari itu memang mutan yang baru, varian yang baru dari Covid-19 baik dari Inggris maupun dari yang lainnya. Kan juga ada dari negara-negara lainnya dari Afrika Selatan, dari Brasil dan lain sebagainya," kata Amin.



Baca juga: COVID-19 Berulang Tahun, Doa Ridwan Kamil Semoga Binasa Selamanya

Namun, kata Amin, pihaknya saat ini memfokuskan untuk melakukan pencarian mutasi B117. "Intinya, karena B117 ini memiliki potensi menular yang lebih tinggi dan sebagainya, sehingga itu yang kami cari," katanya.

Amin mengatakan penemuan ini ada dua sisi, baik dan buruk. "Di satu sisi kalau penemuan ini dianggap berita buruk, tapi di satu sisi berita baiknya adalah ya kita sudah mampu untuk mendeteksi."

Apalagi, kata Amin, sampai dengan bulan lalu atau Januari 2021, dunia Internasional menganggap Indonesia belum mampu mendeteksi varian virus ini. "Jadi sampai dengan bulan lalu, dunia Internasional menganggap belum melaporkan itu karena menganggap tidak mampu mendeteksi. Nah kemampuan mendeteksi itu tidak hanya di laboratorium saja sebetulnya, tetapi juga kemampuan untuk mendapatkan sampelnya."

"Artinya, melakukan screening pada populasi tertentu. Termasuk di antaranya adalah mereka yang berdatangan dari luar negeri. Dari negara-negara lain yang sudah diketahui ada virusnya. Itu menjadi perhatian kami. Mungkin dalam hari-hari berikutnya akan ketemu lagi, bisa saja," jelas Amin.



(zik)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top