Tracing Covid-19, Doni Monardo Ibaratkan Menangkap Harimau di Luar Kandang

loading...
Tracing Covid-19, Doni Monardo Ibaratkan Menangkap Harimau di Luar Kandang
Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan tracing untuk menemukan kasus positif Covid-19 dapat diibaratkan seperti menangkap Harimau di luar kandang. Foto/SINDOnews
JAKARTA - Ketua Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan tracing untuk menemukan kasus positif Covid-19 dapat diibaratkan seperti menangkap Harimau di luar kandang.

“Saya mengibaratkan kalau testing itu ada yang positif adalah seperti kita menangkap Harimau di kandang. Nah, sekarang bagaimana harimau yang berada di luar kandang,” ungkap Doni dalam Rapat Koordinasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 secara virtual, Minggu (28/2/2021). Baca juga: Satgas Covid-19 Bentuk Tim Supervisi untuk 7 Desa di 7 Provinsi Jawa-Bali

Sehingga, kata Doni, tugas para tracer diharapkan bisa menemukan kontak kasus positif Covid-19. Jika diibaratkan, katanya, seperti menangkap harimau di luar kandang lalu memasukkan ke kandang agar tidak membahayakan yang lainnya. “Tugas tracing inilah yang nantinya diharapkan bisa mengembangkan dan juga menangkap harimau yang di luar kandang itu lantas memasukkannya ke kandang agar tidak membahayakan yang lainnya,” kata Doni. Baca juga: Pelibatan Seluruh Komponen Masyarakat Jadi Kelebihan PPKM Mikro

Doni mengatakan analogi ini didapatkannya dari Kepala Laboratorium Universitas Andalas, dr. Andari. “Jadi, sini analogi yang saya kutip dari penjelasan Doktor Andani yaitu Kepala Laboratorium Universitas Andalas. Beliau salah satu kepala laboratorium yang sangat agresif melakukan tracing dari awal,” katanya.

Seharusnya, kata Doni, upaya tracing agresif sejak awal yang dilakukan oleh dr. Andani ini harusnya dijadikan pola kerja untuk menemukan kasus Covid-19 sejak awal. “Harusnya apa yang sudah dilakukan oleh dokter dan ini kita jadikan sebagai pola kerja kita agar mereka yang kontak erat tadi bisa dilakukan karantina.”



Doni pun menjelaskan kenapa kontak erat ini harus dilakukan karantina, karena mereka bisa berperan sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG) yang bisa saja menulari kelompok rentan. “Kenapa demikian karena orang yang kontak erat ini berperan sebagai OTG atau orang tanpa gejala. 85% penularan bisa jadi dilakukan oleh mereka tanpa gejala. Dan ini sangat membahayakan kelompok rentan. Siapa kelompok rentan? Adalah lansia, mereka yang usianya 60 tahun. Dan mereka yang punya komorbid. Kalau bisa kita lindungi dari OTG, maka resikonya akan semakin kita kurangi,” papar Doni.
(cip)
preload video
TULIS KOMENTAR ANDA!
Top