Jelang Libur Panjang Imlek, Waspadai Kenaikan Kasus COVID-19 hingga 40%
Kamis, 11 Februari 2021 - 11:50 WIB
loading...
Calon penumpang kereta api antre untuk memasuki peron di Stasiun Pasar Senen, Jakarta, Selasa (1/12/2020). FOTO/DOK.SINDOnews/YORRI FARLI
A
A
A
JAKARTA - Menjelang libur panjang perayaan Imlek , Ketua Umum Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI), Ede Surya Darmawan meminta masyarakat waspada terhadap potensi kenaikan kasus COVID-19 . Melihat setahun pandemi, terjadi peningkatan sebesar 40% setelah liburan panjang.
Ede menjelaskan, proses penularan virus terjadi melalui interaksi antarpribadi dalam lingkup interaksi sosial yang kemudian meluas. "Untuk meredam penularan, pilihannya adalah memutus hubungan orang agar tidak berkomunikasi, dalam hal ketemu fisik, sehingga tidak terjadi penularan," katanya dalam keterangan yang diterima MNC Portal Indonesia, Kamis (11/2/2021).
Indonesia sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di awal April 2020 dengan sangat ketat dan hasilnya kasus tertahan. "Namun, kemudian kita tergoda dengan mudik dan pulang kampung, maka jumlah kasus meningkat. Kemudian di Agustus naik lagi sampai liburan Natal dan Tahun Baru. Semuanya memiliki rumus yang sama, yaitu liburan perjalanan/mobilitas, terjadi kerumunan. Inilah pola hal yang harus kita hafal," katanya.
Baca juga: Fantastis, Jabar Tanggung Utang Rp4 Triliun Gara-gara COVID-19
Karenanya, lanjut Ede, jika pada long weekend Imlek kita bisa menahan, maka otomatis jumlah kasus akan menurun. "Selalu tetap menerapkan protokol kesehatan lalu jaga imun, jaga aman dan kuatkan iman," tuturnya.
Ede menjelaskan, proses penularan virus terjadi melalui interaksi antarpribadi dalam lingkup interaksi sosial yang kemudian meluas. "Untuk meredam penularan, pilihannya adalah memutus hubungan orang agar tidak berkomunikasi, dalam hal ketemu fisik, sehingga tidak terjadi penularan," katanya dalam keterangan yang diterima MNC Portal Indonesia, Kamis (11/2/2021).
Indonesia sudah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di awal April 2020 dengan sangat ketat dan hasilnya kasus tertahan. "Namun, kemudian kita tergoda dengan mudik dan pulang kampung, maka jumlah kasus meningkat. Kemudian di Agustus naik lagi sampai liburan Natal dan Tahun Baru. Semuanya memiliki rumus yang sama, yaitu liburan perjalanan/mobilitas, terjadi kerumunan. Inilah pola hal yang harus kita hafal," katanya.
Baca juga: Fantastis, Jabar Tanggung Utang Rp4 Triliun Gara-gara COVID-19
Karenanya, lanjut Ede, jika pada long weekend Imlek kita bisa menahan, maka otomatis jumlah kasus akan menurun. "Selalu tetap menerapkan protokol kesehatan lalu jaga imun, jaga aman dan kuatkan iman," tuturnya.
Lihat Juga :