Isu Istana Sponsor Kudeta, AHY Cegah Kader dan Loyalis Demokrat Terlelap
Selasa, 02 Februari 2021 - 08:00 WIB
loading...
Secara politik isu kudeta di tubuh istana yang disebut disponsori istana bisa mendongkrak popularitas AHY dan Partai Denokrat. Foto/dok.SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Tudingan Ketua Umum DPP Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) soal adanya pihak di lingkar istana yang ingin "mengkudeta" kepemimpinanannya dinilai bagian dari strategi partai untuk merebut simpati masyarakat.
"Strategi apapun sah-sah saja dilakukan oleh seorang atau partai yang miliki hasrat berkuasa dengan tujuan menarik simpati publik yang ujungnya diharapkan bisa menjadi energi dulangan suara," tutur Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam saat dihubungi SINDOnews, Selasa (2/2/2021).
(Baca: Letupkan Isu Kudeta Demokrat, AHY Deklarasi Perang Terbuka)
Menurut Arman, seperti diketahui bahwa syarat mutlak yang harus dimiliki untuk memenangkan pertarungan adalah popularitas, nama dan langkah politik harus tetap eksis di tengah masyarakat. Sehingga, apapun caranya, langkah AHY seperti itu tentu bukan tidak ada tujuan, dan dalam banyak kasus under dog effect masih berlaku.
"Misalkan saja kita ingat bagaimana nama SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) melambung justru saat tercitrakan sebagai "jenderal cengeng" akibat tidak dilibatkannya dalam keputusan strategis saat itu dalam pemerintahan Megawati, yang kala itu SBY sebagai menteri dalam kabinet Megawati," ungkapnya.
"Strategi apapun sah-sah saja dilakukan oleh seorang atau partai yang miliki hasrat berkuasa dengan tujuan menarik simpati publik yang ujungnya diharapkan bisa menjadi energi dulangan suara," tutur Direktur Riset Indonesian Presidential Studies (IPS) Arman Salam saat dihubungi SINDOnews, Selasa (2/2/2021).
(Baca: Letupkan Isu Kudeta Demokrat, AHY Deklarasi Perang Terbuka)
Menurut Arman, seperti diketahui bahwa syarat mutlak yang harus dimiliki untuk memenangkan pertarungan adalah popularitas, nama dan langkah politik harus tetap eksis di tengah masyarakat. Sehingga, apapun caranya, langkah AHY seperti itu tentu bukan tidak ada tujuan, dan dalam banyak kasus under dog effect masih berlaku.
"Misalkan saja kita ingat bagaimana nama SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) melambung justru saat tercitrakan sebagai "jenderal cengeng" akibat tidak dilibatkannya dalam keputusan strategis saat itu dalam pemerintahan Megawati, yang kala itu SBY sebagai menteri dalam kabinet Megawati," ungkapnya.
Lihat Juga :