Khawatir Situasi Nasional, SBY Teringat Tahun 1964-1965
Jum'at, 08 Januari 2021 - 14:07 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Viral, Trump dan Keluarganya Pesta saat Massa Perusuh Capitol Tiba )
Menurut dia, sebagian menganggap mereka yang tidak sama identitasnya misalnya agama, partai politiknya dan juga garis ideologinya adalah lawan. Alhasil untuk bicara pun merasa tidak nyaman. Garis permusuhan ini bahkan menembus lingkaran persahabatan yang sudah terbangun lama, bahkan lingkaran-lingkaran keluarga.
"Saya sungguh prihatin jika lingkaran tentara dan polisi yang harusnya menjadi contoh dalam persatuan dan persaudaraan kita sebagai bangsa juga tak bebas dari hawa permusuhan ini. Keadaan ini sungguh menyedihkan dan sekaligus membahayakan masa depan bangsa kita," tutur mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini. (Baca juga: Soroti Rusuh Capitol Hill, Fahri Hamzah: Elite Jangan Membelah Masyarakat )
SBY mengaku teringat saat tahun 1964-1965 silam. SBY yang saat itu masih duduk di bangku SMA melihat masyarakat hingga tingkat grassrootsterbelah karena faktor politik dan ideologi.
"Polarisasi sosial tajam. Pelajar, mahasiswa, pemuda, guru, buruh, petani dan sejumlah elemen masyarakat terbelah. Bahkan berhadap-hadapan. Faktor inilah yang barangkali setelah terjadi Gerakan 30 September 1965 yang berdarah dulu, kekerasan terjadi di seluruh Tanah Air dengan korban jiwa yang cukup besar," tuturnya.
SBY juga menceritakan pengalamannya ketika ikut menyelesaikan konflik komunal yang berbasiskan identitas di berbagai daerah. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator Politik Keamanan (Menko Polkam).
Dia mengaku saat itu juga turun ke lapangan untuk menyelesaikan konflik horizontal pasca krisis 1998, khususnya di Sampit, Poso, Ambon dan Maluku Utara.
Menurut dia, sebagian menganggap mereka yang tidak sama identitasnya misalnya agama, partai politiknya dan juga garis ideologinya adalah lawan. Alhasil untuk bicara pun merasa tidak nyaman. Garis permusuhan ini bahkan menembus lingkaran persahabatan yang sudah terbangun lama, bahkan lingkaran-lingkaran keluarga.
"Saya sungguh prihatin jika lingkaran tentara dan polisi yang harusnya menjadi contoh dalam persatuan dan persaudaraan kita sebagai bangsa juga tak bebas dari hawa permusuhan ini. Keadaan ini sungguh menyedihkan dan sekaligus membahayakan masa depan bangsa kita," tutur mantan Ketua Umum DPP Partai Demokrat ini. (Baca juga: Soroti Rusuh Capitol Hill, Fahri Hamzah: Elite Jangan Membelah Masyarakat )
SBY mengaku teringat saat tahun 1964-1965 silam. SBY yang saat itu masih duduk di bangku SMA melihat masyarakat hingga tingkat grassrootsterbelah karena faktor politik dan ideologi.
"Polarisasi sosial tajam. Pelajar, mahasiswa, pemuda, guru, buruh, petani dan sejumlah elemen masyarakat terbelah. Bahkan berhadap-hadapan. Faktor inilah yang barangkali setelah terjadi Gerakan 30 September 1965 yang berdarah dulu, kekerasan terjadi di seluruh Tanah Air dengan korban jiwa yang cukup besar," tuturnya.
SBY juga menceritakan pengalamannya ketika ikut menyelesaikan konflik komunal yang berbasiskan identitas di berbagai daerah. Dalam kapasitasnya sebagai Menteri Koordinator Politik Keamanan (Menko Polkam).
Dia mengaku saat itu juga turun ke lapangan untuk menyelesaikan konflik horizontal pasca krisis 1998, khususnya di Sampit, Poso, Ambon dan Maluku Utara.
Lihat Juga :