Epidemiolog Prediksi Libur Nataru Naikkan 20% Kasus Positif Covid-19
Selasa, 05 Januari 2021 - 10:10 WIB
loading...
A
A
A
Jumlah kasus yang sedikit ini diduga karena jumlah pemeriksaan spesimen yang minim. Saat ini, rata-rata pemeriksaanya 27.000-28.000 per hari. Bandingkan dengan India dan Brazil yang jumlah kasusnya tinggi, mereka memeriksa di atas 100.000 per 1 juta penduduk per hari. Dari sini terlihat, kapasitas pemeriksaan Indonesia terbatas.
Dosen Universitas Indonesia itu memperkirakan jumlah orang yang positif Covid-19 lebih banyak dari angka yang selama ini diumumkan. “Kalau kemampuan kapasitas pemeriksaan seperti India dan Brazil, minimal kasus kita sudah 1,5-2 juta (orang),” jelasnya.
Dia menyatakan persyaratan rapid test antigen untuk melakukan perjalanan cukup positif dalam menekan kasus. Sebab, sebagian orang ada yang membatalkan perjalanannya. Rapid tes antigen ini lebih baik daripada pemerintah tidak melakukan sesuatu di tengah penyebaran virus Sars Cov-II yang tinggi. Syahrizal menyebut paling banyak peningkatan kasus itu 20 persen dari angka yang ada.
Indonesia, menurutnya, harus belajar dari 7 negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 ini, seperti Saudi Arabia, Bolivia, dan Singapura. Dia mengungkapkan Singapura itu sudah sejak lama bisa mengendalikan penyebaran virus Sars Cov-II. Akan tetapi, mereka tetap membatasi kerumunan orang hanya sebanyak 3 orang. Baru dua minggu lalu, Singapura memperbolehkan lima orang duduk satu meja di restoran.
(Baca: 3-6 Bulan ke Depan Indonesia Diprediksi Alami Masa Kritis Pandemi COVID-19)
Dosen Universitas Indonesia itu memperkirakan jumlah orang yang positif Covid-19 lebih banyak dari angka yang selama ini diumumkan. “Kalau kemampuan kapasitas pemeriksaan seperti India dan Brazil, minimal kasus kita sudah 1,5-2 juta (orang),” jelasnya.
Dia menyatakan persyaratan rapid test antigen untuk melakukan perjalanan cukup positif dalam menekan kasus. Sebab, sebagian orang ada yang membatalkan perjalanannya. Rapid tes antigen ini lebih baik daripada pemerintah tidak melakukan sesuatu di tengah penyebaran virus Sars Cov-II yang tinggi. Syahrizal menyebut paling banyak peningkatan kasus itu 20 persen dari angka yang ada.
Indonesia, menurutnya, harus belajar dari 7 negara yang berhasil mengendalikan pandemi Covid-19 ini, seperti Saudi Arabia, Bolivia, dan Singapura. Dia mengungkapkan Singapura itu sudah sejak lama bisa mengendalikan penyebaran virus Sars Cov-II. Akan tetapi, mereka tetap membatasi kerumunan orang hanya sebanyak 3 orang. Baru dua minggu lalu, Singapura memperbolehkan lima orang duduk satu meja di restoran.
(Baca: 3-6 Bulan ke Depan Indonesia Diprediksi Alami Masa Kritis Pandemi COVID-19)
Lihat Juga :