Ramah Lingkungan dari Hulu hingga Hilir
Senin, 21 Desember 2020 - 07:00 WIB
loading...
A
A
A
Proyek EBT terkini yang sedang dikembangkan adalah Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) oleh cucu usaha PLN, yakni PT PJB Investasi yang bekerja sama dengan perusahaan Uni Emirat Arab, Masdar. PLTS ini didesain terapung di atas waduk Cirata yang merupakan sumber air untuk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Cirata. PLTS Apung yang mulai digarap bulan Desember ini harapkan bisa menghasilkan 145 MWac dan menelan investasi Rp1,8 triliun.
Meski kapasitasnya terbatas, namun paling tidak ini menjadi sebuah ikhtiar untuk terus memberikan kontribusi terhadap pasokan energi lebih bersih. Dengan kapasitasnya yang relatif kecil ini, jelas jauh berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang rata-rata berkapasitas jumbo.
Nah, inilah yang menjadi tantangan ke depan. Harapannya kita ingin semua listrik yang digunakan sehari-hari adalah listrik yang di hulunya diproduksi dengan sumber energi primer yang ramah lingkungan. Idealnya, kita menggunakan kendaraan listrik dengan baterai yang terisi dengan listrik dari pembangkit yang ramah lingkungan. Bukan listrik dari PLTU batu bara atau PLTD (diesel).
Namun, tentu saja ini tidak akan mudah mengingat saat ini pasokan listrik dari pembangkit batu bara atau pun gas masih mendominasi, Lebih jauh lagi, dalam menyediakan listrik, keandalan sangat dibutuhkan karena harus tersedia sepanjang waktu. Berbeda dengan pembangkit EBT yang produksi listriknya belum bisa stabil karena tergantung kondisi alam. Inilah pekerjaan rumah yang mesti dipikirkan agar energi yang digunakan sehari-hari bisa 'hijau' dari hulu hingga hilir.
Meski kapasitasnya terbatas, namun paling tidak ini menjadi sebuah ikhtiar untuk terus memberikan kontribusi terhadap pasokan energi lebih bersih. Dengan kapasitasnya yang relatif kecil ini, jelas jauh berbeda dengan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara yang rata-rata berkapasitas jumbo.
Nah, inilah yang menjadi tantangan ke depan. Harapannya kita ingin semua listrik yang digunakan sehari-hari adalah listrik yang di hulunya diproduksi dengan sumber energi primer yang ramah lingkungan. Idealnya, kita menggunakan kendaraan listrik dengan baterai yang terisi dengan listrik dari pembangkit yang ramah lingkungan. Bukan listrik dari PLTU batu bara atau PLTD (diesel).
Namun, tentu saja ini tidak akan mudah mengingat saat ini pasokan listrik dari pembangkit batu bara atau pun gas masih mendominasi, Lebih jauh lagi, dalam menyediakan listrik, keandalan sangat dibutuhkan karena harus tersedia sepanjang waktu. Berbeda dengan pembangkit EBT yang produksi listriknya belum bisa stabil karena tergantung kondisi alam. Inilah pekerjaan rumah yang mesti dipikirkan agar energi yang digunakan sehari-hari bisa 'hijau' dari hulu hingga hilir.
(bmm)
Lihat Juga :