Kenali Jenis Mobilitas yang Mendatangkan Risiko Penularan Covid-19
Kamis, 17 Desember 2020 - 07:09 WIB
loading...
A
A
A
“Untuk itu, terkait mitigasi risiko mobilitas, pemerintah sedang memfinalisasi kebijakan bagi pelaku perjalanan antarkota yang meliputi persyaratan sampai mekanisme perjalanan dan kembali ke tempat asalnya. Pengambilan kebijakan terkait pelaku perjalanan dilakukan karena selalu ada tren kenaikan kasus setiap ada masa liburan panjang," ujarnya.
Wiku mengingatkan kembali, berdasarkan studi Mu et Al 2020, mengenai dampak mobilitas libur panjang Imlek di China tahun ini, ditemukan bahwa kota yang letaknya lebih dekat dengan pusat epidemik Covid-19 , sekaligus dekat dengan daerah perkotaan padat penduduk akan memiliki risiko kemunculan kasus baru yang lebih tinggi. Lalu, pembatasan mobilitas antarkota, dapat menekan peluang risiko penularan sebesar 70%. Pembatasan mobilitas dalam kota sebesar 40% harus diikuti monitoring dan evaluasi yang baik.
Sementara dari studi Chun Chang et al 2020, mengenai dampak wabah di Taiwan, ditemukan bahwa waktu, durasi, dan tingkat pembatasan perjalanan memiliki andil dalam menentukan besar jumlah kasus. (Baca juga: Tujuh Buku Biografi yang DIrekomendasikan Najwa Shihab)
"Selain itu, sudah jelas berdasarkan data, kita sudah sama-sama mempelajari bahwa setiap liburan yang meningkatkan mobilitas penduduk akan mengakibatkan lonjakan kasus pada dua hingga empat pekan setelahnya," ujar Wiku.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin mengatakan, libur panjang akhir tahun ini akan mengalami peningkatan mobilitas masyarakat secara signifikan sehingga pemerintah perlu membuat rencana strategis khususnya dalam pencegahan penularan Covid-19 .
Wiku mengingatkan kembali, berdasarkan studi Mu et Al 2020, mengenai dampak mobilitas libur panjang Imlek di China tahun ini, ditemukan bahwa kota yang letaknya lebih dekat dengan pusat epidemik Covid-19 , sekaligus dekat dengan daerah perkotaan padat penduduk akan memiliki risiko kemunculan kasus baru yang lebih tinggi. Lalu, pembatasan mobilitas antarkota, dapat menekan peluang risiko penularan sebesar 70%. Pembatasan mobilitas dalam kota sebesar 40% harus diikuti monitoring dan evaluasi yang baik.
Sementara dari studi Chun Chang et al 2020, mengenai dampak wabah di Taiwan, ditemukan bahwa waktu, durasi, dan tingkat pembatasan perjalanan memiliki andil dalam menentukan besar jumlah kasus. (Baca juga: Tujuh Buku Biografi yang DIrekomendasikan Najwa Shihab)
"Selain itu, sudah jelas berdasarkan data, kita sudah sama-sama mempelajari bahwa setiap liburan yang meningkatkan mobilitas penduduk akan mengakibatkan lonjakan kasus pada dua hingga empat pekan setelahnya," ujar Wiku.
Di tempat terpisah, Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin mengatakan, libur panjang akhir tahun ini akan mengalami peningkatan mobilitas masyarakat secara signifikan sehingga pemerintah perlu membuat rencana strategis khususnya dalam pencegahan penularan Covid-19 .
Lihat Juga :