Perjuangan Hidup Mati Dokter Bedah Sembuh dari Covid-19
Sabtu, 05 Desember 2020 - 17:36 WIB
loading...
A
A
A
"Saat mendengar kabar duka itu, saya sedang berada di ruang isolasi. Semua kesedihan sepertinya menimpa saya, mulai tak bisa menelan makanan, demam tinggi, batuk parah, anak diisolasi dan mertua meninggal Rasanya segala kepedihan muncul bersamaan," ujarnya.
Tetapi dia berusaha tegar dan tidak mau menyerah. Tak mau larut, dia bangkit dan akhirnya sembuh dari penyakit ini. Tekad itu dia tanamkan kuat dalam hati karena dia masih ingin hidup untuk menambah amal saleh. "Bekal saya belum cukup untuk pulang ke negeri keabadian," katanya.
Dengan iringan doa dari seluruh kerabat dan sahabat, dia berusaha bangkit. Dukungan dari teman-teman di grup WhatsApp tiada henti mendoakan. Sungguh doa mereka sangat berarti serasa guyuran air di gurun Sahara. Ada yang mendoakan melalui telpon, Facebook, dan juga yang mendoakan dalam diam.
"Betapa sebuah doa di saat kondisi kritis membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi melihat kiriman video santri-santri TPQ dari berbagai daerah yang mengirimkan doa hingga beberapa hari. Mulut-mulut kecil itu meminta saya untuk tetap semangat agar bisa bertemu mereka kembali untuk mengobati orang lagi. Tak terasa air mata menetes."
Menurut dokter bedah ini, sebuah pelajaran berharga baginya dan juga semua orang di masa pandemi ini. Bahwa ketika kondisi kritis, tetap percayakan pengobatan kepada medis. Bahwa obat medis sudah teruji. Sedangkan pengobatan alternatif baru sebatas coba-coba.
Doa juga menjadi penyembuh. Doa-doa yang tulus serta perhatian dari orang sekeliling sangat membantu percepatan pengobatan. Jangan pernah lelah memberikan perhatian dan doa untuk mereka yang sedang sakit. Sungguh pelukan doa dari orang-orang terkasih begitu berharga.
Dia berpesan dengan sangat supaya menjaga kesehatan dan terapkan protokol di mana pun berada. Selalu gunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menjaga jarak aman dengan orang lain.
Tetapi dia berusaha tegar dan tidak mau menyerah. Tak mau larut, dia bangkit dan akhirnya sembuh dari penyakit ini. Tekad itu dia tanamkan kuat dalam hati karena dia masih ingin hidup untuk menambah amal saleh. "Bekal saya belum cukup untuk pulang ke negeri keabadian," katanya.
Dengan iringan doa dari seluruh kerabat dan sahabat, dia berusaha bangkit. Dukungan dari teman-teman di grup WhatsApp tiada henti mendoakan. Sungguh doa mereka sangat berarti serasa guyuran air di gurun Sahara. Ada yang mendoakan melalui telpon, Facebook, dan juga yang mendoakan dalam diam.
"Betapa sebuah doa di saat kondisi kritis membuat saya sangat bahagia. Terlebih lagi melihat kiriman video santri-santri TPQ dari berbagai daerah yang mengirimkan doa hingga beberapa hari. Mulut-mulut kecil itu meminta saya untuk tetap semangat agar bisa bertemu mereka kembali untuk mengobati orang lagi. Tak terasa air mata menetes."
Menurut dokter bedah ini, sebuah pelajaran berharga baginya dan juga semua orang di masa pandemi ini. Bahwa ketika kondisi kritis, tetap percayakan pengobatan kepada medis. Bahwa obat medis sudah teruji. Sedangkan pengobatan alternatif baru sebatas coba-coba.
Doa juga menjadi penyembuh. Doa-doa yang tulus serta perhatian dari orang sekeliling sangat membantu percepatan pengobatan. Jangan pernah lelah memberikan perhatian dan doa untuk mereka yang sedang sakit. Sungguh pelukan doa dari orang-orang terkasih begitu berharga.
Dia berpesan dengan sangat supaya menjaga kesehatan dan terapkan protokol di mana pun berada. Selalu gunakan masker, cuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta menjaga jarak aman dengan orang lain.
(ars)
Lihat Juga :