Setara Institute: Kekecewaan Publik terhadap Pemerintah Bisa Ditunggangi Teroris
Sabtu, 28 November 2020 - 19:28 WIB
loading...
A
A
A
Lantaran itu, ia berharap Satgas Operasi Tinombala yang masa tugasnya sudah diperpanjang sampai 31 Desember 2020 dapat mengoptimalkan sisa masa tugas untuk perburuan belasan anggota MIT Poso yang masih berkeliaran di hutan dan pegunungan sekitar Poso. “Komplotan teroris Poso tersebut tidak boleh diremehkan, apalagi dianggap lemah,” ujarnya.
(Baca: Takut Teror Pembantaian-Pembakaran Kelompok Mujahidin Indonesia Timur, 150 KK Mengungsi)
Terkait dengan tragedi itu, Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan mengungkapkan Ali Kalora telah mengambil alih kepemimpinan MIT Poso pasca tewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016. Namun, hingga kini petinggi kelompok tersebut masih tak tersentuh aparat.
“Satgas dan seluruh aparat keamanan harus menjamin seluruh warga negara, termasuk di pedalaman dan pegunungan Sulawesi Tengah, dari serangan kelompok manapun yang mengancam keamanan dan keselamatan (human security) mereka,” ujar Halili.
Ia pun mendesak pemerintah, khususnya aparat keamanan untuk tidak lengah dalam mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya sel-sel tidur terorisme dan ekstremisme-kekerasan. Menurutnya, peningkatan kekecewaan publik belakangan ini atas kinerja pemerintahan di berbagai bidang di seluruh cabang kekuasaan dapat dimanfaatkan sel-sel dari jaringan terorisme dan ekstremisme kekerasan untuk mendapatkan momentum dan melakukan konsolidasi.
“Terorisme dan ekstremisme-kekerasan tidak mengenal agama. Karena itu, Setara Institute mendorong tokoh lintas agama untuk sama-sama mengutuk kekerasan yang digunakan oleh kelompok tertentu atas nama agama. Selain itu, bersama-sama membangun kehidupan keagamaan yang teduh,” ujar dia.
(Baca: Takut Teror Pembantaian-Pembakaran Kelompok Mujahidin Indonesia Timur, 150 KK Mengungsi)
Terkait dengan tragedi itu, Direktur Riset Setara Institute Halili Hasan mengungkapkan Ali Kalora telah mengambil alih kepemimpinan MIT Poso pasca tewasnya Santoso dan tertangkapnya Basri pada 2016. Namun, hingga kini petinggi kelompok tersebut masih tak tersentuh aparat.
“Satgas dan seluruh aparat keamanan harus menjamin seluruh warga negara, termasuk di pedalaman dan pegunungan Sulawesi Tengah, dari serangan kelompok manapun yang mengancam keamanan dan keselamatan (human security) mereka,” ujar Halili.
Ia pun mendesak pemerintah, khususnya aparat keamanan untuk tidak lengah dalam mengantisipasi konsolidasi dan bangkitnya sel-sel tidur terorisme dan ekstremisme-kekerasan. Menurutnya, peningkatan kekecewaan publik belakangan ini atas kinerja pemerintahan di berbagai bidang di seluruh cabang kekuasaan dapat dimanfaatkan sel-sel dari jaringan terorisme dan ekstremisme kekerasan untuk mendapatkan momentum dan melakukan konsolidasi.
“Terorisme dan ekstremisme-kekerasan tidak mengenal agama. Karena itu, Setara Institute mendorong tokoh lintas agama untuk sama-sama mengutuk kekerasan yang digunakan oleh kelompok tertentu atas nama agama. Selain itu, bersama-sama membangun kehidupan keagamaan yang teduh,” ujar dia.
Lihat Juga :