Kolaborasi Jadi Kunci Pendidikan Vokasi Hadapi Tantangan Industri
Sabtu, 21 November 2020 - 06:25 WIB
loading...
A
A
A
Sementara, Direktur Wisata Pertemuan, Insentif, Konvensi dan Pameran (MICE) Kemenparekraf Iyung Masruroh membagikan tips untuk mengembangkan pendidikan vokasi di bidang fashion guna merespon tantangan dunia industri. “Berani berbisnis dengan segala kreativitas yang kita miliki. Membuat desain yang payable. Dukungan pemerintah daerah juga dibutuhkan untuk membesarkan kreatifitas peserta didik dalam membangun ketepatan brand yang dipilih serta target market yang harus menjadi perhatian,”katanya.
Di hadapan perwakilan pelajar dan santri vokasi Kabupaten Kudus, Iyung juga berpesan untuk tetap menanamkan perilaku santri di kehidupan sehari-hari. “Santri harus tetap berlaku moderat serta adil dan imbang dalam keseharian serta menilai segala sesuatunya. Misalnya, apabila menanggapi berita berita yang tidak jelas harus terlebih dahulu melakukan tabayyun, mencari sumber informasi dan tidak asal menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya.,” tutup Iyung.
Selanjutnya, Lisa Fitria yang merupakan Inovator Fashion SMK mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah image bahwa santri itu keren, tidak kuno dan juga siap menjawab tantangan industri melalui dunia fashion desain Dia membagi pengalamannya yang hanya lulusan pesantren namun bisa berkeliling untuk memamerkan karya di 15 negara kemudian belajar fashion mode di negara negara yang saya kunjungi. “Saya berangkat dari pesantren, dan melanjutkan pendidikan juga di pesantren tetapi semua itu tak menghalangi mimpi saya untuk jadi fashion desainer hingga berada di titik ini, sehingga saya mencintai dan sangat excited untuk total berkontribusi membawa santri untuk berani terjun di dunia fashion nasional hingga internasional,” sambung Lisa.
Di hadapan perwakilan pelajar dan santri vokasi Kabupaten Kudus, Iyung juga berpesan untuk tetap menanamkan perilaku santri di kehidupan sehari-hari. “Santri harus tetap berlaku moderat serta adil dan imbang dalam keseharian serta menilai segala sesuatunya. Misalnya, apabila menanggapi berita berita yang tidak jelas harus terlebih dahulu melakukan tabayyun, mencari sumber informasi dan tidak asal menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya.,” tutup Iyung.
Selanjutnya, Lisa Fitria yang merupakan Inovator Fashion SMK mengatakan bahwa dirinya ingin mengubah image bahwa santri itu keren, tidak kuno dan juga siap menjawab tantangan industri melalui dunia fashion desain Dia membagi pengalamannya yang hanya lulusan pesantren namun bisa berkeliling untuk memamerkan karya di 15 negara kemudian belajar fashion mode di negara negara yang saya kunjungi. “Saya berangkat dari pesantren, dan melanjutkan pendidikan juga di pesantren tetapi semua itu tak menghalangi mimpi saya untuk jadi fashion desainer hingga berada di titik ini, sehingga saya mencintai dan sangat excited untuk total berkontribusi membawa santri untuk berani terjun di dunia fashion nasional hingga internasional,” sambung Lisa.
(war)
Lihat Juga :