Dirjen EBTKE Tinjau Proyek Pengolahan Sampah dan Gulma di Saguling
Senin, 16 November 2020 - 11:44 WIB
loading...
A
A
A
“Kalau melihat angka dan bangunannya memang tidak besar mungkin yg dihasilkan disini kurang dari 500 ton per hari. Kami dari EBTKE memberikan fokus besar yg contoh-contoh seperti ini nanti mendorong aplikasi baik secara kecil maupun nanti dorongannya ke skala besar,” ujarnya.
Selain itu, proyek tersebut juga turut membantu PLN dalam mengelola kebersihan waduk, memberikan nilai tambah dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar waduk.
Pada kesempatan yang sama, Rusdiansyah menjelaskan bahwa operasi proyek pembuatan biomassa ini dimulai 1,5 tahun yang lalu. Berawal dari upaya pembersihan waduk dari gulma, perusahaan juga berupaya untuk mengalih-profesikan petani kerambak jaring apung di waduk.
“Kami mulai membuat briket dari sampah yg ada di waduk sebanyak 50% dan sampah gulma 50%. Di sini banyak petani keramba jaring apung dan setelah kita teliti kalau keramba jaring apung di waduk ini sudah berlebih dan ini menyebabkan pendangkalan. Karena sisa dari pakan ikan yang tidak habis menjadikan lumpur dan bisa menjadi pupuk bagi gulma. Akhirnya kami membuat program agar petani keramba jaring apung ini beralih menjadi petani briket,” urainya.
Rusdiansyah meyakini briket yang dihasilkan akan memiliki pasar seiring dengan kewajiban penggunaan briket pada PLTU. Hal ini yang dilihat sebagai peluang untuk membuka lapangan perkerjaan bagi masyarakat sekitar. Pihaknya juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada kelompok petani jaring apung ini agar bisa membuat briket sendiri. Kedepan program BOSS ditargetkan dapat menjadi proyek pembangkit biomass berkapasitas 2 MW dan produksi massal briket biomass ditargetkan untuk pembangkit lain sebagai co-firing. (RWS/DLP)
Selain itu, proyek tersebut juga turut membantu PLN dalam mengelola kebersihan waduk, memberikan nilai tambah dan meningkatkan pemberdayaan masyarakat sekitar waduk.
Pada kesempatan yang sama, Rusdiansyah menjelaskan bahwa operasi proyek pembuatan biomassa ini dimulai 1,5 tahun yang lalu. Berawal dari upaya pembersihan waduk dari gulma, perusahaan juga berupaya untuk mengalih-profesikan petani kerambak jaring apung di waduk.
“Kami mulai membuat briket dari sampah yg ada di waduk sebanyak 50% dan sampah gulma 50%. Di sini banyak petani keramba jaring apung dan setelah kita teliti kalau keramba jaring apung di waduk ini sudah berlebih dan ini menyebabkan pendangkalan. Karena sisa dari pakan ikan yang tidak habis menjadikan lumpur dan bisa menjadi pupuk bagi gulma. Akhirnya kami membuat program agar petani keramba jaring apung ini beralih menjadi petani briket,” urainya.
Rusdiansyah meyakini briket yang dihasilkan akan memiliki pasar seiring dengan kewajiban penggunaan briket pada PLTU. Hal ini yang dilihat sebagai peluang untuk membuka lapangan perkerjaan bagi masyarakat sekitar. Pihaknya juga memberikan pelatihan-pelatihan kepada kelompok petani jaring apung ini agar bisa membuat briket sendiri. Kedepan program BOSS ditargetkan dapat menjadi proyek pembangkit biomass berkapasitas 2 MW dan produksi massal briket biomass ditargetkan untuk pembangkit lain sebagai co-firing. (RWS/DLP)
(atk)
Lihat Juga :