Mangkus-Sangkil Media Sosial
Senin, 16 November 2020 - 05:45 WIB
loading...
A
A
A
Sebagaimana pendapat R Kristiawan, dalam Jurnal Mandatory Volume 10 Nomor 2, Ruang Publik Semu: Problem Partisipasi dalam Media Sosial di Indonesia. "Keberhasilan dan kegagalan penggunaan media sosial sebagai katalisator partisipasi sosial berhubungan dengan banyak aspek dalam relasi yang rumit, misalnya momentum, dukungan media tradisional, terutama televisi, serta persoalan teknologi terutama kemerataan akses internet di Indonesia." (IRE Yogyakarta, 2013: 49).
Sementara itu, menolak/abai dengan kepesatan teknologi komunikasi dengan opsi medsos yang "mewabah" adalah kemunduran, bahkan bisa tertinggal oleh zaman. Tak menggunakannya sama dengan berada di ruang hampa, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bila tak percaya, silakan kita mencoba. Semisal keinginan untuk bertahan tidak mengelola gawai selama seminggu. Dapat dipastikan, sedikit orang yang bisa. Selain psikososial pengguna gawai dari sisi siklus telah mengalami tuman (terbiasa mengulangi), bila menggunakan pun tersugesti untuk mencandunya.
Lebih banyak konten yang disebarkan daripada pertukaran wawasan yang saling berpendar manfaat. Konten belum dibaca, sudah mau dibagi. Hanya dengan melihat judul, belum pernah diklik, sudah menganggap tahu persis keseluruhan kontennya. Belum lagi, urusan yang tak bisa membedakan mana informasi kredibel dan akurat dengan informasi yang abal-abal. Asal "nyablak". Share, share, dan share, ternyata hoaks.
Kita tentu tak boleh tidak berterima kasih pada pendiri medsos yang telah dalam hitungan sekejap dapat menyajikan informasi terkini dan dari mana saja. Dari fenomena alam, inaugurasi, kejadian unik, polemik kontroversial, hingga inspirasi kehidupan. Perihal apa saja, nyaris terpatri pada fitur-fitur medsos.
Karenanya, dibutuhkan pengelolaan secara mangkus (efektif) dan sangkil (efisien) terhadap medsos. Perlu mencari formula yang tepat bahwa medsos itu baik bagi kesehatan akal; bermanfaat bagi kesehatan siklus keseharian; dan akurat bagi kesehatan nutrisi otak.
Pertanyaan selanjutnya, lantas siklus apa yang tak berubah dari dampak medsos? Nyaris tak ada siklus yang tetap oleh teknologi medsos. Harapan iseng, bolehkah nantinya pabrik gawai bisa bersabar untuk tidak grasa-grusu mengorbitkan produk teranyarnya? Mustahil. Rugi pabrik. Dampak terhadap manusia (netizen), belum sempat memahami produk atas sarana teknologi yang ada, sudah muncul pula produk lainnya. Bahkan ada yang tak sempat bergawai pada produk tertentu, kemudian melompatinya. Belum lagi, pada fitur-fitur medsos yang kompatibel di dalamnya.
Sementara itu, menolak/abai dengan kepesatan teknologi komunikasi dengan opsi medsos yang "mewabah" adalah kemunduran, bahkan bisa tertinggal oleh zaman. Tak menggunakannya sama dengan berada di ruang hampa, tanpa bisa berbuat apa-apa. Bila tak percaya, silakan kita mencoba. Semisal keinginan untuk bertahan tidak mengelola gawai selama seminggu. Dapat dipastikan, sedikit orang yang bisa. Selain psikososial pengguna gawai dari sisi siklus telah mengalami tuman (terbiasa mengulangi), bila menggunakan pun tersugesti untuk mencandunya.
Lebih banyak konten yang disebarkan daripada pertukaran wawasan yang saling berpendar manfaat. Konten belum dibaca, sudah mau dibagi. Hanya dengan melihat judul, belum pernah diklik, sudah menganggap tahu persis keseluruhan kontennya. Belum lagi, urusan yang tak bisa membedakan mana informasi kredibel dan akurat dengan informasi yang abal-abal. Asal "nyablak". Share, share, dan share, ternyata hoaks.
Kita tentu tak boleh tidak berterima kasih pada pendiri medsos yang telah dalam hitungan sekejap dapat menyajikan informasi terkini dan dari mana saja. Dari fenomena alam, inaugurasi, kejadian unik, polemik kontroversial, hingga inspirasi kehidupan. Perihal apa saja, nyaris terpatri pada fitur-fitur medsos.
Karenanya, dibutuhkan pengelolaan secara mangkus (efektif) dan sangkil (efisien) terhadap medsos. Perlu mencari formula yang tepat bahwa medsos itu baik bagi kesehatan akal; bermanfaat bagi kesehatan siklus keseharian; dan akurat bagi kesehatan nutrisi otak.
Pertanyaan selanjutnya, lantas siklus apa yang tak berubah dari dampak medsos? Nyaris tak ada siklus yang tetap oleh teknologi medsos. Harapan iseng, bolehkah nantinya pabrik gawai bisa bersabar untuk tidak grasa-grusu mengorbitkan produk teranyarnya? Mustahil. Rugi pabrik. Dampak terhadap manusia (netizen), belum sempat memahami produk atas sarana teknologi yang ada, sudah muncul pula produk lainnya. Bahkan ada yang tak sempat bergawai pada produk tertentu, kemudian melompatinya. Belum lagi, pada fitur-fitur medsos yang kompatibel di dalamnya.
Lihat Juga :