Ini Titik Paling Lemah Keamanan Siber yang Gampang Dijebol
Kamis, 12 November 2020 - 13:52 WIB
loading...
Manusia dinilai menjadi titik paling lemah dalam rangkaian komponen keamanan siber. Foto/pixabay
A
A
A
JAKARTA - Ekonomi digital di Indonesia mengalami pertumbuhan yang pesat. Tentunya, itu perlu diimbangi dengan keamanan siber agar memberikan rasa aman dan percaya terhadap masyarakat untuk bertransaksi secara digital.
Pengamat teknologi informasi (TI) Marsudi Wahyu Kisworo menerangkan ada tiga komponen penting dalam keamanan teknologi informasi. Tiga komponen itu adalah teknologi, prosedur, dan manusia. Dengan perkembangannya yang pesat, hampir tidak mungkin peretasan dilakukan melalui teknologi kendati kemungkinan itu tetap ada.
“Yang paling lemah itu manusianya karena sering teledor. Password dan PIN gampang ditebak, misalnya, tanggal lahir. Atau kita sering lihat whatsapp diretas. Itu bukan diretas, tetapi ada yang meregister dengan nomor itu. Lalu, yang bersangkutan ditelepon seseorang dan menyerahkan kode OTP,” ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Rabu malam (11/10/2020).
(Baca: Mencegah Peretasan dan Pemulihan Website yang Dibajak)
Menurut Marsudi, peristiwa peretasan fintech atau jasa keuangan itu lebih banyak karena kelengahan masyarakat, bukan karena teknologinya. Peretasan langsung ke server atau pusat penyimpanan data jauh lebih sulit. Dia mencontohkan peristiwa bocornya data pengguna dua raksasa e-commerce di Indonesia beberapa waktu lalu.
Pengamat teknologi informasi (TI) Marsudi Wahyu Kisworo menerangkan ada tiga komponen penting dalam keamanan teknologi informasi. Tiga komponen itu adalah teknologi, prosedur, dan manusia. Dengan perkembangannya yang pesat, hampir tidak mungkin peretasan dilakukan melalui teknologi kendati kemungkinan itu tetap ada.
“Yang paling lemah itu manusianya karena sering teledor. Password dan PIN gampang ditebak, misalnya, tanggal lahir. Atau kita sering lihat whatsapp diretas. Itu bukan diretas, tetapi ada yang meregister dengan nomor itu. Lalu, yang bersangkutan ditelepon seseorang dan menyerahkan kode OTP,” ujarnya saat dihubungi SINDOnews, Rabu malam (11/10/2020).
(Baca: Mencegah Peretasan dan Pemulihan Website yang Dibajak)
Menurut Marsudi, peristiwa peretasan fintech atau jasa keuangan itu lebih banyak karena kelengahan masyarakat, bukan karena teknologinya. Peretasan langsung ke server atau pusat penyimpanan data jauh lebih sulit. Dia mencontohkan peristiwa bocornya data pengguna dua raksasa e-commerce di Indonesia beberapa waktu lalu.
Lihat Juga :