Kritiknya soal Milenial Jadi Viral, Megawati: Saya Senang Saja
Sabtu, 31 Oktober 2020 - 17:14 WIB
loading...
A
A
A
Misalnya, kerap Megawati melihat bahwa masih ada kader yang tidak serius saat lagu Indonesia Raya, mengheningkan cipta, dan menaikkan bendera merah putih. Padahal itu adalah protokol kenegaraan. "Karena apa? Siapa yang akan membela dan menghormati negara kita kalau bukan kita sendiri?" kata Megawati.
"Kalau di Amerika. Saya tak mau bilang di RRC, nanti saya dibilang Komunis pula. Di Amerika itu, rakyatnya itu kalau dengar lagu kebangsaannya, itu langsung berdiri," lanjut Megawati.Baca juga: Megawati 'Sentil' Anak Muda yang Hobi Demo dan Rusak Fasum )
Megawati menegaskan butuh kader yang memiliki jiwa dan semangat yang kuat, bukan yang manja. "Saya butuh kader yang punya jiwa raga, fighting spirit. Makanya saya bilang jangan manjakan milenial. Apa baktinya bagi negeri ini. Bagi saya milenial ini kan itu lahir sekitar tahun 1980-an. Ya kalian ini banyak juga. Jangan mejeng saja. Harus berbuat. Jangan ada di partai ini kalau tidak (berbuat,red)," katanya.
Megawati memberi contoh lain kasus likuifaksi tanah di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Para pemimpin daerah maupun kalangan milenial seharusnya mempelajari fenomena itu untuk mencari jalan keluarnya. Megawati mengaku sudah belajar praktik di China dan di Jepang soal metode menghadapi bencana alam. Dan Indonesia memang jauh tertinggal.
"Kalian mungkin heran kenapa ketua umum bisa tahu? Karena saya belajar. Saya juga pengen kalian itu belajar, jangan mejeng doang," sambungnya.
Megawati juga menyinggung, banyak kalangan milenial yang sukses. Namun khususnya mereka yang sukses adalah yang berprofesi sebagai pengusaha.
"Tapi yang lain? Yang saya maksud, berapa banyak rakyat yang sudah kamu tolong? Saya ingin rakyat punya harapan. Partai ini, membawa kemajuan dan kesejahteraan ke depan. Tapi bagaimana (bisa-red) kalau manja? Ya ngamuk lah saya. Bilang milenial tak boleh dimanja," kata Megawati.
"Kalau di Amerika. Saya tak mau bilang di RRC, nanti saya dibilang Komunis pula. Di Amerika itu, rakyatnya itu kalau dengar lagu kebangsaannya, itu langsung berdiri," lanjut Megawati.Baca juga: Megawati 'Sentil' Anak Muda yang Hobi Demo dan Rusak Fasum )
Megawati menegaskan butuh kader yang memiliki jiwa dan semangat yang kuat, bukan yang manja. "Saya butuh kader yang punya jiwa raga, fighting spirit. Makanya saya bilang jangan manjakan milenial. Apa baktinya bagi negeri ini. Bagi saya milenial ini kan itu lahir sekitar tahun 1980-an. Ya kalian ini banyak juga. Jangan mejeng saja. Harus berbuat. Jangan ada di partai ini kalau tidak (berbuat,red)," katanya.
Megawati memberi contoh lain kasus likuifaksi tanah di Sulawesi Tengah beberapa waktu lalu. Para pemimpin daerah maupun kalangan milenial seharusnya mempelajari fenomena itu untuk mencari jalan keluarnya. Megawati mengaku sudah belajar praktik di China dan di Jepang soal metode menghadapi bencana alam. Dan Indonesia memang jauh tertinggal.
"Kalian mungkin heran kenapa ketua umum bisa tahu? Karena saya belajar. Saya juga pengen kalian itu belajar, jangan mejeng doang," sambungnya.
Megawati juga menyinggung, banyak kalangan milenial yang sukses. Namun khususnya mereka yang sukses adalah yang berprofesi sebagai pengusaha.
"Tapi yang lain? Yang saya maksud, berapa banyak rakyat yang sudah kamu tolong? Saya ingin rakyat punya harapan. Partai ini, membawa kemajuan dan kesejahteraan ke depan. Tapi bagaimana (bisa-red) kalau manja? Ya ngamuk lah saya. Bilang milenial tak boleh dimanja," kata Megawati.
Lihat Juga :