Keberadaan Staf Khusus Perlu Dihapus
Kamis, 16 April 2020 - 06:05 WIB
loading...
A
A
A
Bukan kali ini saja, staf khusus yang disebut dari kalangan milenial itu pernah membuat blunder yang meresahkan masyarakat. Staf khusus lainnya juga melakukan hal yang sama. Angkie Yudistia misalnya pernah dikritik masyarakat karena postingan di sosial medianya yang menyebutkan bahwa untuk mendeteksi virus korona dalam waktu 10 detik.
Masyarakat juga menyoroti staf khusus lainnya yakni Adamas Belva Syah Devara. Penyebabnya, perusahaan yang didirikan Belva yakni Ruang Guru melalui Skill Academy mendapatkan proyek pelatihan online untuk program Prakerja yang dicanangkan oleh pemerintah. Nilai program itu sendiri mencapai Rp5,2 triliun. Sebenarnya tak hanya Ruang Guru yang terlibat di dalamnya. Namun, masih ada tujuh perusahaan lain yakni Mau Belajar Apa, Pijar Mahir, Tokopedia, Bukalapak, Sisnaker, Sekolahmu, dan Pintaria.
Namun, keterlibatan Ruang Guru sebagai satu dari delapan digital platform mitra Kartu Prakerja berpotensi conflict of interest . Sebab, Belva yang merupakan staf khusus Presiden Jokowi masih menjabat sebagai CEO Ruang Guru. Pemerintah juga tidak transparan dalam proses pemilihan mitra kerjanya.
Sejak dilantik untuk periode kedua, Presiden Jokowi mengangkat beberapa staf khusus baru. Termasuk tujuh orang dengan sebutan staf khusus milenial. Presiden Jokowi telah memberikan penugasan khusus kepada tujuh staf milenialnya. Tugas tersebut adalah membantu merumuskan konsep Kartu Prakerja dan penanaman ideologi Pancasila. Kewenangan staf khusus ini sekadar memberi masukan atau gagasan inovatif dalam mendukung program-program pemerintah. Mereka tidak akan ikut mengeksekusi program tersebut.
Namun, kenyataannya, staf khusus yang berusia belia ini terlihat tidak memahami tugas dan fungsi sebagai staf khusus. Padahal, mereka digaji dari pajak rakyat sebesar Rp51 juta per bulan. Jauh lebih besar dari gaji menteri yang hanya mencapai Rp18,64 juta per bulan.
Masyarakat juga menyoroti staf khusus lainnya yakni Adamas Belva Syah Devara. Penyebabnya, perusahaan yang didirikan Belva yakni Ruang Guru melalui Skill Academy mendapatkan proyek pelatihan online untuk program Prakerja yang dicanangkan oleh pemerintah. Nilai program itu sendiri mencapai Rp5,2 triliun. Sebenarnya tak hanya Ruang Guru yang terlibat di dalamnya. Namun, masih ada tujuh perusahaan lain yakni Mau Belajar Apa, Pijar Mahir, Tokopedia, Bukalapak, Sisnaker, Sekolahmu, dan Pintaria.
Namun, keterlibatan Ruang Guru sebagai satu dari delapan digital platform mitra Kartu Prakerja berpotensi conflict of interest . Sebab, Belva yang merupakan staf khusus Presiden Jokowi masih menjabat sebagai CEO Ruang Guru. Pemerintah juga tidak transparan dalam proses pemilihan mitra kerjanya.
Sejak dilantik untuk periode kedua, Presiden Jokowi mengangkat beberapa staf khusus baru. Termasuk tujuh orang dengan sebutan staf khusus milenial. Presiden Jokowi telah memberikan penugasan khusus kepada tujuh staf milenialnya. Tugas tersebut adalah membantu merumuskan konsep Kartu Prakerja dan penanaman ideologi Pancasila. Kewenangan staf khusus ini sekadar memberi masukan atau gagasan inovatif dalam mendukung program-program pemerintah. Mereka tidak akan ikut mengeksekusi program tersebut.
Namun, kenyataannya, staf khusus yang berusia belia ini terlihat tidak memahami tugas dan fungsi sebagai staf khusus. Padahal, mereka digaji dari pajak rakyat sebesar Rp51 juta per bulan. Jauh lebih besar dari gaji menteri yang hanya mencapai Rp18,64 juta per bulan.