Milenial Kecewa Demokrasi lantaran Pemerintahan Gagap Digitalisasi
Selasa, 27 Oktober 2020 - 00:02 WIB
loading...
A
A
A
Problem lain, lanjut Wawan, yaitu dari sisi etika politik. Golongan yang sudah relatif senior ingin tetap ada unggah-ungguh politik. Sementara, karakter kalangan milenial lebih ingin lugas atau to the point.
Tidak hanya di Indonesia, di banyak negara juga terjadi demikian. Secara global, 57,5 persen masyarakat dunia sudah kecewa dengan demokrasi. Angka ini mengalami peningkatan 10 persen bila dibandingkan dengan pertengahan 1990-an. Tren peningkatan ketidakpuasan terhadap demokrasi menyebar di seluruh dunia, baik di Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Timur Tengah maupun Asia.
Penelitian yang dilakukan University of Cambridge melalui jajak pendapat di 160 negara dengan 4,8 juta responden mengungkapkan generasi milenial kurang puas dan kurang merasakan manfaat kinerja demokrasi.
(Baca: Generasi Milenial Merasa Indonesia Kurang Demokratis)
Di Indonesia, penelitian itu menilai demokrasi mengalami transisi sejak pengunduran diri Soeharto pada 1998. Namun liberalisasi politik mengalami tantangan konflik etnik dan sektarian.
Tidak hanya di Indonesia, di banyak negara juga terjadi demikian. Secara global, 57,5 persen masyarakat dunia sudah kecewa dengan demokrasi. Angka ini mengalami peningkatan 10 persen bila dibandingkan dengan pertengahan 1990-an. Tren peningkatan ketidakpuasan terhadap demokrasi menyebar di seluruh dunia, baik di Amerika Utara, Amerika Latin, Eropa, Afrika, Timur Tengah maupun Asia.
Penelitian yang dilakukan University of Cambridge melalui jajak pendapat di 160 negara dengan 4,8 juta responden mengungkapkan generasi milenial kurang puas dan kurang merasakan manfaat kinerja demokrasi.
(Baca: Generasi Milenial Merasa Indonesia Kurang Demokratis)
Di Indonesia, penelitian itu menilai demokrasi mengalami transisi sejak pengunduran diri Soeharto pada 1998. Namun liberalisasi politik mengalami tantangan konflik etnik dan sektarian.
Lihat Juga :