Budaya Saling Percaya Perkuat Demokratisasi
Minggu, 25 Oktober 2020 - 13:20 WIB
loading...
A
A
A
”Kita ini kan sedang membangun demokrasi, membangun demokrasi itu kan bukan cuma saat pilkada dan pemilu. Tapi bagaimana mengedukasi masyarakat dengan nilai-nilai demokrasi. Sehingga masyarakat bisa memahami apa esensi demokrasi itu sendiri,” tuturnya.(Baca juga: Pernah Salip Prabowo, Ganjar Punya Kans Bersaing di Pilpres 2024 )
Dia menjelaskan, perlu melembagakan nilai-nilai terkait demokrasi menjadi suatu pemahaman, suatu orientasi yang nantinya bisa dilaksanakan oleh masyarakat.
Dalam berdemokrasi, semua pihak bisa melakukan trust building, sehingga tidak ada lagi rusuh dalam setiap sengketa Pilkada. ”Saling mencemooh, saling saling melecehkan, ini kan sama sekali sekali bukan demokrasi. Padahal kan demokrasi diadakan agar konflik itu tidak mengerucut dan menjadi tren. Semakin demokratis masyarakat harusnya konflik dan kekerasan itu semakin menurun,” terangnya.
Menurut dia, dengan adanya demokrasi, setiap perbedaan pendapat sudah terwadahi dalam cara-cara dialog dan musyawarah mufakat. Saat ini hal tersebut jarang ditemukan. Hanya fokus mendesain pemilu, merevisi UU.
Dari tahun ke tahun, lanjut dia, terus seperti itu. Tidak membumikan, tidak mensosialisasikan nilai-nilai terkait dengan budaya demokrasi itu sendiri.
”Sehingga sekarang yang terjadi, baru setahun menjabat sudah kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Ada yang belum satu tahun menjabat sudah tertangkap karena narkoba, belum lagi sengketa antara kepala daerah dan wakilnya. Jadi yang dihasilkan malah divide governance bukannya good governance,” ungkapnya.
Dia menjelaskan, perlu melembagakan nilai-nilai terkait demokrasi menjadi suatu pemahaman, suatu orientasi yang nantinya bisa dilaksanakan oleh masyarakat.
Dalam berdemokrasi, semua pihak bisa melakukan trust building, sehingga tidak ada lagi rusuh dalam setiap sengketa Pilkada. ”Saling mencemooh, saling saling melecehkan, ini kan sama sekali sekali bukan demokrasi. Padahal kan demokrasi diadakan agar konflik itu tidak mengerucut dan menjadi tren. Semakin demokratis masyarakat harusnya konflik dan kekerasan itu semakin menurun,” terangnya.
Menurut dia, dengan adanya demokrasi, setiap perbedaan pendapat sudah terwadahi dalam cara-cara dialog dan musyawarah mufakat. Saat ini hal tersebut jarang ditemukan. Hanya fokus mendesain pemilu, merevisi UU.
Dari tahun ke tahun, lanjut dia, terus seperti itu. Tidak membumikan, tidak mensosialisasikan nilai-nilai terkait dengan budaya demokrasi itu sendiri.
”Sehingga sekarang yang terjadi, baru setahun menjabat sudah kena operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Ada yang belum satu tahun menjabat sudah tertangkap karena narkoba, belum lagi sengketa antara kepala daerah dan wakilnya. Jadi yang dihasilkan malah divide governance bukannya good governance,” ungkapnya.
Lihat Juga :