Destructive Fishing Watch: Jam Kerja ABK Panjang dan Kerap Tidak Dibayar

Kamis, 07 Mei 2020 - 18:32 WIB
loading...
Destructive Fishing...
Gambar dari video jenazah ABK Indonesia yang meninggal di kapal nelayan China. Foto/Tangkapan layar MBC News
A A A
JAKARTA - Cerita tentang kerja yang tidak manusiawi di atas kapal ikan sepertinya terkonfirmasi dengan beredarnya video pembuangan jenazah anak buah kapal (ABK) Indonesia di Samudera Pasifik. Perlu edukasi tentang risiko bekerja di kapal perikanan.

Koordinator Program dan Advokasi Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Muhammad Arifuddin mengungkapkan beberapa metode eksploitasi ABK Indonesia yang umum terjadi. Mereka biasanya bekerja dalam kondisi tidak layak, jam kerja panjang, tipu daya, gaji tidak dibayar, dan pemanfataan kerendataan ekonomi keluarga pekerja.

DFW Indonesia membangun Fisher Centre di Jawa Tengah dan Bitung, Sulawesi Utara, sebagai pusat layanan edukasi dan pelaporan awak kapak perikanan. “Fisher Center membantu upaya pencegahan dengan memberikan informasi yang dibutuhkan ABK. Ini berlaku baik yang bekerja di dalam maupun luar negeri,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima SINDOnews, Kamis (7/5/2020).

DFW Indonesia berharap dukungan informasi ini bisa menghindarkan ABK Indonesia dari praktik kerja paksa dan perdagangan orang. Pemerintah, menurutnya, harus lebih masif lagi memberikan edukasi kepada calon ABK perikanan yang akan bekerja di luar negeri.

“Pemberian informasi tentang syarat-syarat dan kondisi bekerja di kapal ikan perlu disosialisasikan kepada calon pekerja agar mereka menyadari tingkat risiko yang akan dihadapi,” katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Geger, WNI Bunuh WNI...
Geger, WNI Bunuh WNI di Hokkaido Jepang, Satu Anggota Polisi Ikut Terluka
10.151 WNI Eks Pekerja...
10.151 WNI Eks Pekerja Online Scam di Kamboja Minta Pulang ke Indonesia
5.950 WNI Dapat Penghapusan...
5.950 WNI Dapat Penghapusan Denda Overstay dari Kamboja
Pemerintah Kawal Penanganan...
Pemerintah Kawal Penanganan Insiden Kapal yang Libatkan WNI di Perairan Perak Malaysia
9 WNI Relawan Global...
9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla Dijadwalkan Tiba di Tanah Air Minggu Sore Ini
9 WNI Relawan Global...
9 WNI Relawan Global Sumud Flotilla Tiba di Jakarta Minggu Sore
Budisatrio : Pemulangan...
Budisatrio : Pemulangan 9 WNI Bukti Nyata Efektivitas Diplomasi RI
Menteri Israel Hina...
Menteri Israel Hina Para Aktivis Global Sumud Flotilla yang Dipaksa Berlutut, Dunia Marah
Israel Culik 5 dari...
Israel Culik 5 dari 9 WNI yang Gabung Global Sumud Flotilla, Ini Respons Kemlu RI
Rekomendasi
BCA Buka Pendaftaran...
BCA Buka Pendaftaran Beasiswa PPBP dan PPTI Tahun Ajaran 2027
Bacok Pelajar di Jakbar,...
Bacok Pelajar di Jakbar, 2 Pelaku Ditangkap Polsek Palmerah
Indeks Keyakinan Konsumen...
Indeks Keyakinan Konsumen Mei 2026 Menurun, Ini Penjelasan BI
Berita Terkini
GenIUS Expo 2026 Dorong...
GenIUS Expo 2026 Dorong Siswa Kembangkan Potensi Diri melalui Karya dan Inovasi
Kapolri: ASN Sipil Duduki...
Kapolri: ASN Sipil Duduki Jabatan di Polri Akan Diatur lewat PP atau Perpres
Kapolri Diminta Segera...
Kapolri Diminta Segera Lantik Kapolda Jabar, Kalbar, dan Sumbar
Tuduhan ke AHY terkait...
Tuduhan ke AHY terkait SPPG Dinilai Tak Proporsional, Pengamat: Publik Harus Rasional
Kolaborasi Generasi...
Kolaborasi Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lingkungan
KPK: OTT di BPK Terkait...
KPK: OTT di BPK Terkait Temuan Pengadaan Smart TV di Muara Enim
Infografis
5 Alasan Perdamaian...
5 Alasan Perdamaian Amerika Serikat dan Iran Sulit Terwujud
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved