Bansos Belum Sentuh Masyarakat Rentan, Pemerintah Perlu Lakukan Hal Ini
Rabu, 21 Oktober 2020 - 10:05 WIB
loading...
Penyaluran bansos kepada warga terdampak Covid-19. Foto/Dok SINDOnews
A
A
A
JAKARTA - Penyaluran bantuan sosial (bansos) oleh pemerintah di masa pandemi Covid-19 dinilai masih memunculkan persoalan kronis yang sulit diselesaikan. Secara khusus, terkait memastikan program memang tepat sasaran kepada penerima yang berhak mendapatkan.
Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Nopitri Wahyuni mengatakan, pada situasi bencana kesehatan seperti ini ada tiga persoalan mencakup penyaluran bansos yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah. Menurut dia, beberapa program bansos masih belum menyentuh masyarakat rentan terdampak krisis. Bahkan, kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak tergolong miskin dinilai menjadi rentan miskin.
"Pada masa krisis, potret kerentanan dari individu maupun rumah tangga bergerak dinamis dan beberapa dari program bansos yang ada masih belum menyentuh kerentanan tersebut, terutama kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak tergolong miskin kemudian menjadi rentan miskin," tutur Nopitri dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Rabu (21/10/2020).
(Baca juga: Diajak Kemensos, Puan Ikut Bagi-bagi Bansos di Bali ).
Potret itu didasarkan dari beberapa temuan. Misalnya, studi The Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) tahun ini yang menunjukkan beberapa aspek kerentanan dialami oleh pekerja akibat krisis pandemi, terutama terkait dengan penurunan pendapatan dan kehilangan pekerjaan. Sebanyak 57 persen perempuan dan 56 persen laki-laki yang sebelumnya memiliki pekerjaan, harus kehilangan pekerjaan mereka akibat krisis.
Kemudian, studi itu juga memotret realitas bahwa bansos tidak sepenuhnya telah diterima oleh penerima manfaat yang mengalami kerentanan. Sejak awal pandemi, hanya 59 persen perempuan dan 65 persen laki-laki yang setidak-tidaknya mendapatkan satu program bansos dari pemerintah.
Peneliti Bidang Sosial The Indonesian Institute (TII) Nopitri Wahyuni mengatakan, pada situasi bencana kesehatan seperti ini ada tiga persoalan mencakup penyaluran bansos yang perlu mendapatkan perhatian lebih oleh pemerintah. Menurut dia, beberapa program bansos masih belum menyentuh masyarakat rentan terdampak krisis. Bahkan, kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak tergolong miskin dinilai menjadi rentan miskin.
"Pada masa krisis, potret kerentanan dari individu maupun rumah tangga bergerak dinamis dan beberapa dari program bansos yang ada masih belum menyentuh kerentanan tersebut, terutama kelompok masyarakat yang sebelumnya tidak tergolong miskin kemudian menjadi rentan miskin," tutur Nopitri dalam keterangan tertulisnya yang diterima SINDOnews, Rabu (21/10/2020).
(Baca juga: Diajak Kemensos, Puan Ikut Bagi-bagi Bansos di Bali ).
Potret itu didasarkan dari beberapa temuan. Misalnya, studi The Abdul Latif Jameel Poverty Action Lab (J-PAL) tahun ini yang menunjukkan beberapa aspek kerentanan dialami oleh pekerja akibat krisis pandemi, terutama terkait dengan penurunan pendapatan dan kehilangan pekerjaan. Sebanyak 57 persen perempuan dan 56 persen laki-laki yang sebelumnya memiliki pekerjaan, harus kehilangan pekerjaan mereka akibat krisis.
Kemudian, studi itu juga memotret realitas bahwa bansos tidak sepenuhnya telah diterima oleh penerima manfaat yang mengalami kerentanan. Sejak awal pandemi, hanya 59 persen perempuan dan 65 persen laki-laki yang setidak-tidaknya mendapatkan satu program bansos dari pemerintah.
Lihat Juga :