BKKBN Teken Kerja Sama dengan PWRI
Kamis, 08 Oktober 2020 - 13:22 WIB
loading...
A
A
A
"Oleh karena itu bekerja sama dengan kelompok atau organisasi yang langsung merasakan problematika yang ada, usia Lansia, saya kira sangat baik dan kemudian sangat riil, masalahnya pun sangat konkret sesuai dengan apa yang dialami, bukan sekadar teori, tapi betul-betul seperti apa yang dialami oleh teman-teman yang dialami PWRI," tambah Hasto.
(Baca juga: BKKBN Bertekad Cetak SDM Unggul untuk Indonesia Lebih Maju ).
Sehingga, kata dia, ketika BKKBN membuat suatu program atau terobosan-terobosan untuk pelayanan lansia, PWRI bisa menjadi bagian penting untuk ikut di dalam program itu sekaligus sebagai pengontrol. Sehingga bisa diketahui apakah program BKKBN sesuai atau tidak dengan kebutuhan di lapangan.
"Oleh karena itu, pilot project yang akan sangat cocok dengan kebutuhan lansia ini bisa betul-betul dirasakan bersama antara BKKBN dan PWRI bisa menjadi bahan evaluasi bersama antara BKKBN dengan PWRI, apakah program-program yang dilakukan itu sudah dirasakan oleh lansia, apakah cocok untuk kebutuhan lansia," ungkapnya.
Karena, diakuinya tidak mudah untuk mengawal lansia menjadi tangguh, atau yang masih tetap sehat dan produktif. Berbeda, kata dia, dengan balita atau bawah dua tahun (baduta) yang roadmapnya sudah jelas, seperti ada pertumbuhannya maupun nutrisinya jelas.
(Baca juga: BKKBN Bertekad Cetak SDM Unggul untuk Indonesia Lebih Maju ).
Sehingga, kata dia, ketika BKKBN membuat suatu program atau terobosan-terobosan untuk pelayanan lansia, PWRI bisa menjadi bagian penting untuk ikut di dalam program itu sekaligus sebagai pengontrol. Sehingga bisa diketahui apakah program BKKBN sesuai atau tidak dengan kebutuhan di lapangan.
"Oleh karena itu, pilot project yang akan sangat cocok dengan kebutuhan lansia ini bisa betul-betul dirasakan bersama antara BKKBN dan PWRI bisa menjadi bahan evaluasi bersama antara BKKBN dengan PWRI, apakah program-program yang dilakukan itu sudah dirasakan oleh lansia, apakah cocok untuk kebutuhan lansia," ungkapnya.
Karena, diakuinya tidak mudah untuk mengawal lansia menjadi tangguh, atau yang masih tetap sehat dan produktif. Berbeda, kata dia, dengan balita atau bawah dua tahun (baduta) yang roadmapnya sudah jelas, seperti ada pertumbuhannya maupun nutrisinya jelas.
Lihat Juga :